Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Merajut Benang Nusantara

[OPINI] Merajut Benang Nusantara

Di sadari atau tidak, sejak calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) ditetapkan yang kemudian dilanjutkan kampanye kandidat dalam proses pemilihan presiden (pilpres) hingga sekarang (gugatan pasca pilpres di Mahkamah Konstitusi), persatuan dan kesatuan bangsa sedang diuji. Betapa tidak, atas nama simpatisan, atas nama tim pemenang, dan atas nama apapun, setiap individu memiliki pilihan masing-masing untuk saling meyakinkan sehingga satu sama lain bersitegang. Antar kawan berhadapan, antar sahabat berdebat, antar saudara mendua, dan antar tetangga saling mencerca. Dimanakah persatuan dan kesatuan bangsa yang menjadi pilar Pancasila?

Kedewasaan demokrasi nampaknya sedang diuji, pertaruhannya adalah persatuan dan kesatuan bangsa. Demi memperjuangkan “sang calon”, saling hujat dan saling menjatuhkan dalam bentuk black campaign menjadi prioritas utama, bukannya membangun visi dan misi yang akan menjadi cara pandang bagaimana menata Bangsa Indonesia ke depan. Apakah para pendiri bangsa (the founding father) tidak kecewa terhadap fenomena yang terjadi akhir-akhir ini?

Terlepas dari kegaduhan elit politik, menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-69, diharapkan segenap anak bangsa mampu memahami bahwa pemilihan presiden adalah pesta demokrasi rakyat Indonesia yang harus dijalani setiap lima tahun sekali. Sehingga, kemenangan salah satu diantara kedua pasangan kandidat adalah kemenangan seluruh elemen bangsa, tidak terkecuali yang tidak melakukan hak pilihnya (golput).

Perbedaan bukan berarti harus bermusuhan, apalagi saling memusnahkan. Ingat, Indonesia dibangun atas dasar perbedaan. Berapa jumlah suku dan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia, yang harus disatukan dalam kesatuan kejiwaan ? Berapa banyak kepentingan untuk menjadikan Indonesia merdeka, yang harus diwujudkan dalam bentuk kesatuan kenegaraan (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ? Dan berapa jumlah pulau yang harus diikat menjadi satu, yang harus direkatkan dalam bingkai Wawasan Nusantara yang termaktub dalam Deklarasi Djuanda ?

Lantas, apakah hanya karena berbeda memilih calon presiden dan wakil presiden segenap anak bangsa harus berseteru berkelanjutan? Profesor Hasjim Djalal (2010) mengingatkan bahwa secara historis ada tiga tiang utama (tonggak) yang penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia, yaitu: (1) Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai kesatuan kejiwaan yaitu satu Nusa, satu Bangsa, dan satu Bahasa; (2) Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dimana rakyat Indonesia yang telah menjadi satu bangsa tersebut ingin hidup dalam satu kesatuan kenegaraan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); dan (3) Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 yang menekankan bahwa bangsa Indonesia yang hidup dalam NKRI tersebut berada dalam suatu kesatuan kewilayahan yang berbentuk kepulauan (Nusantara).

Dengan demikian, momen kemerdekaan yang menjadi salah satu tiang utama kehidupan Bangsa Indonesia, diharapkan mampu merajut kembali benang yang kusut segenap jiwa dan raga setiap individu rakyat Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang besar, jangan pernah dikerdilkan oleh emosi yang picik. Betapa tidak, Indonesia yang membentang dari barat (Pulau Sabang di Provinsi Aceh) ke timur (Merauke di Provinsi Papua) sama dengan jarak dari London di Inggris sampai ke Bagdad di Irak, sementara dari utara (Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara) sampai ke selatan (Pulau Rote di Provinsi Nusa Tenggara Timur) sama dengan jarak dari Jerman sampai ke Aljazair. Artinya, energi dari setiap individu rakyat Indonesia lebih baik disalurkan untuk membangun bangsa, bukannya dihabiskan hanya untuk kepentingan sesaat para calon pemimpin bangsa. akankah bangsa ini mampu melewati ujian tanpa ada anak bangsa yang dikorbankan? semoga

Facebook Comments

About akhmad solihin

3 comments

  1. Dewi Komalasari

    betul lebih baik membangun negara kita daripada ribut dengan hal-hal yang dapat memecah belah kita sebagai bangsa yang besar

  2. akhmad solihin

    Terima kasih Mba Dewi, semoga semuanya menyadari, bahwa kemenangan Pilpres adalah kemenangan kita semua. Persatuan dan kesatuan adalah yang utama.

  3. Sebenarnya kita hanyalah korban dari besarnya kampanye negatif dan kampanye hitam oleh kedua pihak elite politik melalui medianya masing-masing.
    sebagian sudah ada yang ‘sembuh’, namun sebagian justru semakin bertambah parah. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif