Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Indonesia Rumah Kita Bersama

[OPINI] Indonesia Rumah Kita Bersama

[OPINI] Jangan Hasud Negri Kita Ini !!!Sekitar sebulan lalu bangsa kita telah melaksanakan hajatan besar yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Selama masa kampanye sampai dengan pasca pemilihan presiden kemarin kita telah merasakan aroma persaingan yang sangat sengit, bangsa kita seolah terbagi menjadi dua kubu besar yang saling bersaing ketat mendukung calon presiden pilihannya masing-masing. Bisa dibilang pemilihan presiden Indonesia kali ini merupakan pemilihan presiden paling panas dalam sejarah pemilihan presiden di Indonesia. Berbagai macam berita tentang keburukan masing-masing calon dan kampanye-kampanye hitam ramai beredar di masyarakat.

Kasus kekerasan antar pendukung ke dua kubu juga banyak terjadi sebelum serta selama masa kampanye, dan bahkan setelah pelaksanaan pemilu selesai digelar. Bukan hanya di dunia nyata, bahkan di dunia maya suasana rivalitas antar dua kubu pun sangat terasa. Indonesia yang menurut data Kemenkominfo tahun 2013 notabene merupakan peringkat keempat dunia pengguna facebook terbesar dan peringkat lima dunia pemakai twitter tiba-tiba menjadi sangat gaduh. Media sosial yang sebelumnya hanya digunakan untuk berinteraksi di dunia maya tiba-tiba menjadi kental aroma politik di dalamnya. Bahkan menurut data Twitter terdapat lebih dari 95 juta tweet terkait pemilu dari awal tahun sampai 9 Juli kemarin. Pengguna media sosial yang biasanya hanya sekedar menulis tentang kesehariannya tiba-tiba mulai menjadi penganalisis berita dadakan, mendadak rajin membagikan berita tentang politik entah itu keunggulan calon presiden pilihannya ataupun tentang kejelekan calon presiden lainnya, tentu saja disertai analisa tentang isi berita yang pada akhirnya berujung saling ejek dan saling menjelekkan. Bahkan ada beberapa tipe pendukung yang seolah “mendewakan” calon presiden pilihannya, apapun kata-kata yang keluar dari mulut sang calon presiden dicarikan pembelaan dan pembenarannya. Hal ini menyebabkan banyak munculnya para ahli dadakan, misalnya ketika sang calon presiden berbicara tentang hukum dan HAM mendadak para pendukung menjadi sangat ahli dalam hal tersebut, beramai-ramai mencari artikel yang sekiranya mampu membenarkan apa yang diucapkan oleh sang idola, dan tentu saja diberi analisa yang juga merupakan hasil mencari di internet. Ya, tiba-tiba rakyat indonesia menjadi sangat pandai berbicara dan berdebat mulai dari masalah penegakkan hukum, kesejahteraan, dan bahkan pertahanan.

Di pemilihan presiden ini pula kita merasakan bagaimana sentimen agama dan isu-isu rasial digunakan oleh sebagian orang untuk mengangkat citra calon presiden pilihannya atau menjatuhkan calon yang lain. Bahkan ada beberapa orang yang menggunakan istilah “perang” dalam pemilu ini, ada juga beberapa orang yang begitu naif sampai menganggap pemilihan presiden layaknya pertarungan antara hitam dan putih, pertarungan baik dan jahat. Agama dan firman-firman Tuhan yang seharusnya sakral dipergunakan oleh beberapa orang sebagai alat yang ditunggangi untuk kepentingan politik. Agama yang seharusnya mendamaikan justru sebaliknya digunakan untuk menyebarkan kebencian terhadap lawan politik. Hampir semua orang larut dalam persaingan, perdebatan dan kebencian, melupakan hakikat pemilihan umum yaitu pesta demokrasi. Pesta yang seharusnya riang gembira karena memilih pemimpin baru justru dikotori oleh oknum-oknum untuk menyebarkan kebencian demi mengunggulkan calon presiden pilihannya. Sayangnya panasnya suasana pilpres ini seolah tanpa ujung, bahkan sampai pemilu selesai dan pemenang telah diumumkan masih banyak orang yang belum bisa berdamai dengan orang lain yang waktu pemilu berbeda pilihan dengannya.

Belum selesai dengan hiruk-pikuk pemilihan umum, saat ini bangsa kita tengah sibuk mempersiapkan pesta hajatan lainnya yaitu peringatan hari kemerdekaan. Aura peringatan hari kemerdekaan pun mulai terasa di sekitar kita, mulai dari menjamurnya penjual bendera merah putih dan umbul-umbul di pinggir-pinggir jalan raya, atau gapura di depan jalan masuk gang-gang atau komplek yang biasanya usang tiba-tiba tampil dengan cat barunya. Seperti biasa pesta peringatan hari kemerdekaan memang selalu semarak. Seharusnya momentum ini bisa kita gunakan untuk menjalin kembali persatuan kita pasca pemilihan presiden.Semangat nasionalisme dalam peringatan hari kemerdekaan seharusnya lebih dari cukup untuk menyatukan kembali pihak-pihak yang kemarin sempat bertikai. Saya percaya masing-masing kubu punya tujuan baik untuk Indonesia, kenapa tidak kita kembali bersatu memperjuangkan tujuan kita bersama.

Mari kita kembali melihat indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh, kita sudahi pengkotak-kotakan masyarakat dalam dua kubu pendukung capres. Mari kita dukung pemerintahan yang sudah terpilih, dan tetap kita kritisi ketika terjadi penyimpangan. Mari kita kibarkan kembali bendera merah putih di halaman rumah kita. Kita bersatu kembali sebagai Indonesia, menjaga dan merawatnya sebagai rumah kita bersama. Mari kita peringati kemerdekaan ini dengan riang gembira. Semoga Indonesia tetap damai dalam keberagamannya, semoga semua makhluk berbahagia.

Facebook Comments

About Aan Kusriyadi

5 comments

  1. Dewi Komalasari

    presiden kita cuma satu….presiden indonesia…bukan presiden jawa…[residen sumatera…dlll

  2. Indonesia bersatu
    bhineka tunggal ika…
    sejahteralah bagi semua..

  3. Indonesia Satu, harus bersatu.
    manusia saja tidak mau di selingkuhin, bagaimana jadinya klo negara ini di selingkuhin alisa tidak bersatu , haha :D

  4. Saya juga sempat heran dan kadang tertawa https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif dengan bermunculannya orang-orang yang sebelumnya sangat tidak peduli dengan politik, tiba-tiba menjadi seorang politikus handal, padahal KTP saja baru punya bahkan banyak yang belum ber-KTP https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif !!
    yang lebih parah, bermunculannya ahli tafsir dadakan https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  5. asrarul maula

    memang agak lucu masyarakat kita inihttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif