Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [Opini] Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

[Opini] Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

logo-lomba1 Oleh: Yulida Medistiara

Indonesia melewati rentetan perjalanan pelik selama pemilu 2014. Jauh hari sebelum pemilu digelar, fenomena pencitraan dan kampanye hitam telah dipropagandakan di berbagai media. Akibatnya, rakyat ada yang termakan kampanye hitam dan terkena efek pencitraan beberapa elit partai. Hal ini tentu karena merebaknya media massa partisan. Pers yang semestinya menjunjung tinggi 4 fungsi pers akhirnya terkena dampak kapitalisme empunya. Rakyat semakin dibodohi akan berita yang tidak berimbang dan memihak suatu kubu.

Kemajuan teknologi membuat simpatisan partai semakin merajalela membela kubu yang diunggulkan di manapun, termasuk media sosial. Kampanye yang identik dengan iring-iringan sekelompok orang memakai atribut partai, kini tidak hanya dilakukan dengan berkonvoi di jalanan. Namun, meluas hingga media sosial. Maraknya situs jejaring sosial digunakan beragam kubu sebagai “lahan tempur” untuk menaikan elektabilitas politisi di panggung politik. Masyarakat awam yang menyaksikan fenomena ini semakin jenuh karena maraknya kampanye hitam dan pencitraan setiap hari. Karakter masyarakat yang multikultural dan memiliki berbagai kepentingan sangat memungkinkan bentrokan terjadi. Oleh karena itu, pemerintah dengan tegas menyatakan kepada dua kubu untuk melakukan seruan “pemilu damai” kepada simpatisannya. Karena sebelumnya dalam perhelatan pilpres ini disinyalir akan berulangnya peristiwa bentrokan ’98.

Tampaknya, masyarakat telah dewasa sebagaimana demokrasi Indonesia yang diyakini beberapa pakar politik semakin mendewasa. Bentrokan pun tidak terjadi pada tanggal 22 juli. Namun, muncul peristiwa baru bahwa pasangan nomor urut 1 Prabowo-Hatta mengundurkan diri. Sebab, koalisi Merah Putih menampik proses rekapitulasi perhitungan suara tetap dilanjutkan karena kubunya mengaku telah menemukan sejumlah kecurangan yang dilakukan KPU. Rakyat menjadi bingung atas pernyataan tersebut, mereka telah menunggu-nunggu pemimpin baru yang akan disambut dengan sukacita. Bukan hasil seperti itu yang rakyat harapkan mengingat proses pilpres sangat panjang dan berawal dari pileg.

Kini, koalisi Merah Putih beserta kuasa hukumnya sedang mengajukan gugatan ke MK dimana disinyalir terdapat kecurangan masif –begitu mereka menyebut– pada pilpres kali ini. Kita doakan dan awasi kerja 9 hakim konstitusi agar dapat bekerja professional, mampu menunjukan kredibilitasnya, dan bersikap independent menangani kasus ini. Rakyat Indonesia pun seharusnya mengikuti proses sidang secara tertib. Sangat disayangkan terjadinya peristiwa bentrokan seusai sidang pertama di Surabaya. Negara Indonesia adalah negara demokrasi yang berlandaskan hukum. Sebagai warga negara yang baik dan berintelektual seharusnya kita menunggu dan memantau, bila perlu mengkritisi proses sidang yang sedang berlangsung. Sementara bagi pihak yang dinyatakan menang, dianjurkan untuk menjaga kedamaian Indonesia. Rakyat Indonesia pun semestinya semakin cerdas dan sadar agar tidak terprovokasi paham-paham yang tidak sesuai dengan amanat konstitusi dan demokrasi.

Hawa panas antara kubu pro dan kontra juga masih mengerubungi forum diskusi di internet yang tak mampu diredam semua oleh Kominfo. Kominfo semestinya mampu memblokir situs atau akun jejaring sosial yang meningkatkan suhu panas di tengah masyarakat, sehingga perpecahan masyarakat tidak terjadi sebagai pencegahan terpecahnya kerukunan masyarakat. Bukan bermaksud membatasi pendapat masyarakat di ruang publik, tetapi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan seperti kekerasan antar kubu. Pihak Kominfo pun sebenarnya telah memfasilitasi rakyat yang ingin memblokir suatu situs dengan mengirimkan aduan ke email Kominfo. Tampaknya informasi ini belum tersebar luas, maka dari itu sungguh dibutuhkan peran media massa untuk menyampaikan informasi penting ini.

Yang terpenting adalah persatuan dan kesatuan Indonesia pasca pemilu tetap kondusif setelah beberapa kejadian yang kita lewati. Semua kalangan baik pers, politisi, badan pemerintah maupun pihak swasta, badan hukum, ormas, hingga elemen masyarakat harus saling bersinergi membentuk hubungan yang harmonis antarpihak. Kita lah yang bertanggung jawab atas nasib Indonesia kedepannya, tanggung jawab akan keutuhan Republik Indonesia sesuai amanat pancasila nomor 3. Persatuan Indonesia, itulah yang terkandung dalam pancasila urutan ketiga. Para pendiri bangsa, khususnya Bung Karno dan Bung Hatta telah menyadari sulitnya mengatur masyarakat multikultural setelah Indonesia merdeka. Maka dari itu, dalam dasar negara, persatuan Indonesia harus dijunjung tinggi bangsa setanah air agar tidak tercerai berai. Bukankah kita sering mendengar pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh? Mari kita jaga amanah konstitusi dan makna pepatah tersebut sampai ke anak cucu kita. Serta kita tunjukan keragaman bangsa Indonesia yang tetap menyatukan kita, bukan malah sebaliknya.

Negara Inggris pun mulai belajar dari Indonesia mengenai keragaman. Oleh sebab itu, mari kita bersatu kembali membangun negeri. Siapapun presidennya rakyatlah yang memimpin, sesuai amanah konstitusi kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan kapitalis maupun birokrat. Rakyat harus berfikir kritis dan menuntut hak-haknya yang mulai dijajah kaum kapitalis, bukan menjadi golongan yang memiliki beragam kepentingan bak politisi. Bersatulah memperjuangkan hak rakyat kecil, dimana memilih pemimpin yang amanah dengan cara demokratis.

Masyarakat Indonesia yang multikultural digambarkan mampu hidup berdampingan dan tidak saling menyerang atau bercerai berai membentuk negara sendiri.

Masyarakat Indonesia yang multikultural digambarkan mampu hidup berdampingan dan tidak saling menyerang atau bercerai berai membentuk negara sendiri.

Facebook Comments

About Yulida Medistiara

6 comments

  1. Dewi Komalasari

    bersatu kita teguh bercerai kita runtuh…..benar sekali….kita hidup di negara majemuk…sedikit percikan saja bisa memecah belah kita

    • Yulida Medistiara

      iya dewi, benar maka dari itu masyarakat perlu waspada akan upaya provokasi dari beberapa orang yang berdampak menambah suhu panas di tengah masyarakat.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. salam kenal
    budaya gampang terprovokasi tidak hanya berasal dari bacaan, tapi juga tontonannya. lihat saja menjamurnya serta disukainya tayangan gosip selebriti di tengah masyarakat, sehingga secara tak sadar membangun karakter ‘Gampang booming, gampang melupakan’. masyarakat terlenakan dan kebanyakan hanya melihat dari sudut pandang saja.
    jadi, wajar jikalau pencitraan dan perang opini merebak menjadi senjata andalan meraup suara…
    keren opininya, mbak

    maaf numpang lapak, soalnya telat gabung
    https://ketikketik.com/lomba-opini-hut-ri-ke-69/2014/08/16/opini-setelah-berseteru-kini-saatnya-bersatu.html

    • Yulida Medistiara

      Iya benar ka, semestinya ini menjadi tugas media agar menjalankan fungsinya sebagai media yang memberi edukasi. Jika dilihat dari konten hiburan yang tidak mendidik, walaupun ada fungsi pers yang menghibur. Namun, semestinya hiburan tersebut tidak membodohi warga. Penyelesaiannya pers harus kembali menjunjung 4 fungsi pers kembali, yaitu memberi informasi, edukasi, menghibur, dan tanggung jawab sosial.

      terima kasih ka firman, saya sudah baca puisi Anda.. Bergaya eufik setelah berseteru kini saatnya bersatu yaa saya setuju

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif