Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Kita Yang Membangun Bangsa, Bukan Presiden

[OPINI] Kita Yang Membangun Bangsa, Bukan Presiden

logo-lomba-300x164Pemilu Presiden telah usai, Pasangan nomor urut 2 Jokowi-Jusuf Kalla telah ditetapkan sebagai pemenang oleh Komisi Pemilihan Umum. Meskipun pasangan nomor urut 1 Prabowo-Hatta masih mengajukan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, namun penulis tidak akan membahas hal itu, dan biarlah beliau-beliau yang menyelesaikannya, tugas kita sudah selesai 9 Juli lalu.

            Kita semua pasti masih dapat merasakan atmosfer panas saat masa kampanye capres cawapres lalu, betapa semua media televisi, cetak, maupun online, apalagi media sosial semuanya berlomba-lomba berkampanye meskipun kampanye negatif jauh lebih terasa daripada kampanye positifnya. Mungkin pembaca juga termasuk salah satu pendukung capres yang sangat aktif berkicau di dunia maya, atau bahkan salah satu pendukung yang sangat ‘galak’ dalam membela capresnya? Sebenarnya itu bukanlah sebuah tindakan berpolitik yang dewas a, namun menjadi wajar ketika suasana dan atmosfer politik di negeri kita sedang panas-panasnya dengan hanya 2 pasang capres-cawapres. Dan bisa dikatakan kita hanyalah korban dari persaingan kedua kubu dengan medianya masing-masing.

            Semua capres mengklaim dirinya dapat membawa perubahan bangsa yang lebih baik, dan itulah yang kita yakini pada capres pilihan kita. Kita sangat yakin jika capres pilihan kita terpilih maka Indonesia akan menjadi lebih maju, sebaliknya apabila capres lawan yang terpilih, Indonesia akan menuju jurang kehancuran, benar begitu bukan? Sekali lagi, kita hanyalah korban dari sengitnya persaingan kedua kubu dengan kampanye negatif dan kampanye hitam mereka. Sebagian dari kita sudah ‘sembuh’ dari kampanye mereka, namun sebagian dari kita masih ada yang ‘belum sembuh’.

            Penulis mencoba membuat sebuah analogi sederhana, anggaplah negara kita adalah sebuah bangunan yang sangat besar, luas, tinggi. Bangunan itu sudah dibangun sejak 69 tahun lalu oleh para pendahulu kita, mereka telah membuat desain bangunan, mendirikan pondasi-pondasi bangunan yang sangat kokoh, sampai detik ini bangunan tersebut masih terus dibangun, siapa yang membangun? Tentu kita semua 235 juta warga negara Indonesia yang masih berkesempatan hidup di Bumi Pertiwi. Anggaplah setiap diri kita memiliki tugas masing-masing, ada yang membawa material, mengaduk semen, memasang besi-besi, atap-atap, mengecat dan sebagainya. Anggap pula bahwa seorang Presiden adalah seorang arsitek yang mendesain kelanjutan pembangunannya, namun perlu kita ingat bahwa pondasi inti dalam hal ini dasar negara dan UUD 1945 telah disusun 69 tahun lau, jadi arsitek ini dalam melakukan melanjutkan pembangunan tetap akan berpijak pada pondasi inti, beliau tidak bisa merubahnya.

            Arsitek dapat saja membuat desain bangunan yang sangat indah dengan perhitungan yang sangat  cermat. Kemudian apakah cukup sampai disitu? Tentu butuh realisasi untuk mewujudkannya, dan untuk itu adalah tugas para pekerja bangunan, merekalah yang berperan paling penting. Semakin giat para pekerja ini membangun, semakin cepat pula terlihat  hasilnya. Sebaliknya apabila sebagian dari pekerja ini bekerja dengan malas atau bahkan mogok, tentu proses pembangunannya akan terhambat. Parahnya lagi, apabila para pekerja yang malas ini justru memaki sang arsitek dan timnya karena menganggap arsitek gagal dalam melanjutkan pembangunan.

Mungkinkah seorang arsitek saja dapat membangun sebuah gedung yang megah? Bahkan dalam legenda candi Prambanan, seorang ksatria sakti dan kuat seperti Bandung Bandawasa tetap membutuhkan bantuan dari bala tentara jin. Tugas Arsitek selain membuat perencanaan juga menjamin keselamatan kerja serta kesejahteraan para pekerjanya, sama halnya dengan Presiden.

            Apakah pembaca dapat memahami perumpamaan di atas? Ya, pelaku utama pembangunan adalah para pekerja bangunan, yaitu kita ! bagaimana bisa sebuah bangunan berdiri kokoh tanpa peran dari pekerja bangunan, begitu pula bagaimana bisa sebuah bangsa menjadi negara maju tanpa peran aktif warganya? Pekerja bangunan terbagi dalam banyak bagian kerjanya, masing-masing bagian dari mereka harus melaksanakan tugasnya dengan sebaik-sebaiknya karena tugas sekecil apapun, sangat berpengaruh terhadap bangunan itu.

Nah, kita harus sadari, apabila dari kita melakukan tugas atau pekerjaan kita masing-masing dengan sebaik-baiknya, misalnya bagi pelajar dan mahasiswa tentu tugasnya adalah belajar dengan sangat giat agar menjadi individu yang unggul dari negara lain, pegawai dan karyawan yang bekerja dengan disiplin, pengusaha yang penuh ketekunan dan inovasi yang kreatif, dan masih banyak lagi, tentunya arah pembangunan negeri kita dapt berkembang ke arah yang jauh lebih baik. Sayangnya, dalam pembangunan kita masih banyak pekerja yang hanya duduk manis menyaksikan pembangunan yang terhambat sembari berteriak, mencaci maki sang arsitek yang dianggapnya tidak becus dalam mendirikan bangunan.

Di peringatan 69 tahun kemerdekaan Negeri kita. Mari kita ubah paradigma kita, kita ubah sikap kita dengan bukan hanya duduk manis menyaksikan. Namun juga dengan turun tangan memberikan aksi nyata dan karya nyata demi terwujudnya cita-cita para pendiri atau peletak pondasi bangunan kita, negeri kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia !

JAYA INDONESIA !

Facebook Comments

About alief reza kc

13 comments

  1. NKRI. Hidup.. Indonesia !! :)

  2. Romi Febriyanto Saputro

    Persatuan itulah kunci untuk membangun peradaban, presiden hanyalah kata kunci kedua

  3. Iyahh kaka :)
    Indonesia Jaya, Indonesia Raya :) https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif
    Salam satu bangsa, kaka https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  4. oya, salam kenal ka alief :) https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif
    KAka di daerahnya bsok ada perlombaan apa saja nih .. ? https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  5. salam kenal
    75% persen rakyat Indonesia bermukim di pesisir menjadi nelayan dan menetap di pelosok menjadi petani, sisanya buruh, dan hanya sedikit yang duduk di pemerintahan.
    untuk membangun ekonomi bangsa, sudah seharusnya pemerintah melihat apa yang menjadi kebutuhan penduduknya, bukan apa yang ingin dilihat oleh masyarakat dunia. karena negara utamanya ada untuk rakyatnya, bukan untuk pencitraan.

    maaf numpang lapak mas
    https://ketikketik.com/lomba-opini-hut-ri-ke-69/2014/08/16/opini-setelah-berseteru-kini-saatnya-bersatu.html

  6. Dewi Komalasari

    pondasinya pancasila dan UUD 45https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif