Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Menjalin Persatuan dan Kesatuan

[OPINI] Menjalin Persatuan dan Kesatuan

OpiniKomisi Pemilihan Umum (KPU) pada 31 Mei 2014 menetapkan ada dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang bertarung merebut RI 1 dan RI 2 untuk lima tahun mendatang. Keesokan harinya KPU mengadakan acara penetapan nomor urut kontestan pemilihan presiden. Hasilnya nomor urut 1 yaitu pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sedang nomor urut 2 yaitu pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Selanjutnya adalah jadwal kampanye kedua pasangan calon di berbagai pelosok Indonesia mulai 7 Juni sampai 5 Juli.

Pemilihan Presiden yang hanya terdiri dari dua kontestan ini seakan memecah dua bagian Indonesia. Ini terlihat dari cara dan sikap para elit politik yang tidak malu-malu memutuskan dukungan kepada salah satu calon pasangan. Bahkan ada pula elit politik yang mendukung pasangan calon yang bukan di dukung oleh partai politiknya. Mereka dikenakan sanksi oleh partai politiknya dengan alasan memicu perpecahan dan konflik internal partai politik.

Cara, sikap, dan upaya tim pemenangan kedua pasang calon menunjukkan kesan perpecahan ini. Selama kampanye lalu kita bisa menemukan upaya tim pemenangan yang menunjukkan prestasi dan karya calon presiden yang di dukungnya. Cara ini menolong kita mengenal kedua kontestan pemilihan presiden. Ada pula upaya tim pemenangan yang kita sebut sebagai kampanye negatif dan kampanye hitam. Misalnya menghembuskan rumor mengenai kelemahan dan kepalsuan pasangan lain. Kalau terbukti benar itu baik, tapi jika tidak itu hanya membingungkan masyarakat.
Namun akses informasi menolong rakyat. Media menolong masyarakat menemukan kebenaran dari rumor yang dihembuskan. Sayangnya, media pun dengan jelas menunjukkan dukungan kepada salah satu kontestan pemilihan presiden ini. Ada kalanya media memberitakan secara seimbang tapi ada pula kalanya media memberitakan tidak seimbang mengenai kedua kontestan pemilihan presiden ini.

Lain pula dengan masyarakat di akar rumput. Perbedaan dukungan sangat mencolok. Media sosial misalnya. Beberapa waktu sebelum pemilihan presiden dilangsungkan media sosial dipenuhi dukungan kepada kontestan masing-masing. Tidak saja hiperlink berita mengenai kedua pasangan calon yang disebarluaskan, selama lima kali debat kedua pasangan calon diadakan KPU, dukungan pun kentara kita temukan di media sosial. Apresiasi pendapat kontestan yang didukung dan cercaan terhadap pendapat kontestan lainnya menjadi warna tersendiri di media sosial.

Selain itu, kesan perpecahan juga terlihat dari lembaga survei yang mengadakan survei hitung cepat. Hasil beberapa lembaga survei menyatakan pasangan nomor urut 1 memperoleh suara mayoritas sedang lembaga survei lainnya menyebutkan pasangan nomor urut 2 lah yang memperoleh suara mayoritas. Uniknya semua lembaga survei mengaku bahwa mereka sudah menggunakan kaidah keilmuan yang tepat. Sekalipun beberapa lembaga survei tidak mau diperiksa oleh perhimpunan survei opini publik (PERSEPI) namun semua lembaga survei mengaku bahwa mereka adalah lembaga yang kredibel.

Tak pelak, kesan terpecah dua sangat kentara pada hari pemungutan suara 9 Juli 2014 lalu. Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden di tempat berbeda sama-sama mendeklarasikan diri sebagai pemenang dalam pemilihan presiden 2014. Kedua kontestan ini disertai para partai politik pendukung, tim pemenangan, dan para pendukung serta disiarkan oleh media dalam deklarasi ini. Keduanya pun mengacu kepada lembaga survei yang mengadakan survei hitung cepat.
Bahkan ketika KPU menetapkan hasil pemungutan suara berdasarkan rekapitulasi suara nasional bahwa pasangan presiden – wakil presiden terpilih adalah Joko Widodo – Jusuf Kalla, pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa belum mengucapkan selamat kepada pasangan terpilih. Sebaliknya, mereka melakukan upaya-upaya yang tidak terpuji. Menarik diri dari proses pemilihan presiden, menggugat KPU di Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP) dengan alasan anggota KPU tidak profesional, menggugat hasil perolehan suara di Mahkamah Konstitusi, melaporkan Ketua KPU ke Kepolisian dengan dugaan menyalahgunakan wewenang karena mengeluarkan surat edaran membuka kotak suara.

Jika hal ini dibiarkan, tidak hanya kesan perpecahan yang muncul sebaliknya perpecahan itu benar-benar akan terjadi. Konflik horizontal dan vertikal akan terjadi. Kekerasan akan terjadi. Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan akan berganti dengan pemaksaan pendapat, teror, dan ancaman. Demokrasi pun mati di bumi Indonesia.

Kita harus mencegah itu. Semua komponen bangsa harus mencegah itu terjadi. Jangan kita biarkan perpecahan terjadi oleh karena perbedaan. Bukankah Indonesia dibentuk dari kesamaan tujuan? Bukankah kesamaan tujuan itu menyatukan perbedaan? Bukankah kesatuan dalam perbedaan menjadi semboyan negeri ini? Bhinneka tunggal ika, berbeda-beda namun satu jua.

Persatuan Indonesia. Itulah kata kuncinya. Kita perlu mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih untuk periode 2014-2019. Dalam pidatonya – setelah penetapan oleh KPU – mereka mengutamakan persatuan Indonesia. Salam dua jari yang selama ini menjadi trademark mereka berganti menjadi salam tiga jari: persatuan Indonesia. Menurut saya, persatuan dan kesatuan bangsa ini sudah menjadi fokus mereka. Karena bangsa ini tidak hanya milik pendukung mereka melainkan milik semua komponen bangsa Indonesia termasuk bukan pendukung mereka.

Sebagai teladan, para elit politik memiliki peranan penting untuk menjaga persatuan Indonesia. Kenegarawanan kuncinya. Kenegarawanan yang saya maksud ialah mengutamakan kemakmuran, kesatuan, dan kejayaan Indonesia daripada keinginan untuk menjadi berkuasa. Para elit politik harus sadar bahwa pemilu adalah suatu upaya sengaja untuk mewujudkan demokrasi. Perolehan suara terbanyak diyakini sebagai legitimasi rakyat – sebagai pemegang kedaulatan – untuk memilih pemimpinnya. Singkatnya, para elit politik harus menerima hasil pemilu demi tegaknya demokrasi. Dalam hal inilah kami, rakyat mendaulat Anda sebagai negarawan.

Apa yang dilakukan dan ditunjukkan oleh para elit politik pasti memengaruhi masyarakat di golongan akar rumput. Sekalipun demikian, rakyat pun harus aktif menjaga pesatuan dan kesatuan. Rakyatlah benteng kesatuan Indonesia. Tanpa kesatuan kita, Indonesia ini rapuh dan mudah hancur. Karena itu, mari kita tingkatkan kewaspadaan dan daya kritis kita. Jangan mudah diprovokasi. Indonesia ada karena kita satu. Kita satu maka Indonesia ada. Kosakata aku-kamu, kami-mereka harus diganti dengan kita.

Terakhir namun esensi, media. Dalam negara demokrasi, media berperan penting untuk menyajikan berita sehat dan berimbang. Kebebasan pers dalam negara demokrasi harus dipergunakan sebaik-baiknya. Media menjadi pilar-pilar kesatuan Indonesia. Seperti semboyan media RepublikĀ Indonesia “menjalin persatuan dan kesatuan.” Itulah arti kehadiran media dalam demokrasi bukan sebaliknya.

Facebook Comments

About juppa haloho

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif