Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Negara Utuh dengan Menjadi Pemilih Cerdas

[OPINI] Negara Utuh dengan Menjadi Pemilih Cerdas

logo-lomba12-300x160Sejenak mari koreksi diri kita yang tanggal 9 Juli 2014 lalu masuk bilik suara dan memilih pasangan capres cawapres ideal menurut kita. Apakah kita cerdas memilih pasangan capres karena visi-misi dan kemapuan capres, atau hanya anut grubyuk mana yang rame itu yang diikuti. Emmm, kira-kira kita termasuk pemilih yg seperti apa ya? ssst jangan di jawab dulu.

Saat kita begitu mengidolakan satu dari pasangan capres, mereka bak manusia sempurna yang selalu benar dan kita bela mati-matian, capres yang tidak kita dukung pasti salah pasti kalah. Hasutan demi hasutan (opini) masif di media seolah mendikte empunya acara (KPU) harus ikut hasil timses capres tertentu, ini kegilaan macam apa?. Apakah kita tidak tahu tugas rakyat sudah selesai di 9 Juli?, jangan ditarik-tarik kepertarungan yang seolah tiada akhir dari mulai survey, quick count, real count, rekapitulasi KPU hingga kini gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK), kapan akhir dari perseteruan anak negeri berebut kekuasaan di Ibu pertiwi ini?.

Ayo jadi pemilih cerdas, tugas kita hanya sampai dengan 9 Juli di bilik suara, memberikan hak pilih kita, kepada siapa? Itu rahasia. Suara kita (rakyat) bukan suara Tuhan, melainkan sebuah amanah bagi pemimpin yang terpilih. Satu coblosan di 9 April 2014 tak peduli coblosan itu sebagai pemenang atau bukan, itu merupakan sebuah surat serah terima tugas untuk mengelola negeri ini menuju gerbang kemerdekaan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Setelah 9 Juli 2014, tidak perlu kita ngotot capres kita menang yang lain curang, wall FB di penuhi berita kecurangan atau kemenangan, tak segan di bumbui hujatan. Percayalah itu tidak akan mengubah hasil. Tidak memberi manfaat bahkan memiliki madhorot yang sangat besar, bayangkan siapa yang rugi jika hanya karena beda yang di coblos kita jadi tidak bertegur sapa dengan rekan bahkan bersitegang. Percayalah itu tidak perlu, karena dengan mendatangi bilik suara dan menyalurkan aspirasi kita dengan memilih adalah merupakan tindakan menjaga keberlangsungan (sustainable) Bangsa dan Negara.

Sebaliknya, jika kita turut larut dalam perselisihan hasil pemilu, sejatinya itu menggerogoti bumi pertiwi dari keutuhan NKRI. Sikap kita yang sulit menerima kekalahan dalam beberapa hal memang di benarkan misal dalam hal studi, wirausaha kekalahan harus di lawan. Tapi untuk pilpres, pleasekawan…itu menngancam persatuan dan kesatuan.

Dua capres ternyata belum dewasa sebagai pemimpin, lihatlah apa yang di lakukan kedua capres saat menyaksikan hasil quick count, baru dinyatakan unggul di qc sudah mendeklarasikan kemenangan. Saling klaim kemenangan dan saling hujat melakukan kecurangan. Yang menjadi ironi, kedua capres memanfaatkan media untuk mencari dukungan dan klaim kemenangan seolah memprofokasi rakyat agar membela pilihan mereka di bilik suara. Sungguh ini tidak sehat untuk bangsa ini. Kalah ora ngisin-ngisini lan menang tanpo ngasorake (Kalah tidak memalukan dan menang tidak merendahkan). Kita berpikir rasional mungkin juga cerdas, jika ada pertikain saling klaim kemenangan dan meniadakan wasit marilah tarik diri dari situasi itu. Biarkan pertarungan hanya oleh kedua capres tanpa menyeret rakyat jelata seperti kita.

Miskin keteladanan, hampir tiap hari kita di suguhi informasi hasil pilpres baik oleh elit politik, media maupun tokoh masyarakat seolah larut dalam sengketa hasil pilpres. Mereka selalu berargumen, yang memihak pada capres dambaannya dan menafikkan lawan politiknya. Tak ketinggalan tokoh agama malah memperkeruh suasana tentang halal haramnya memilih presiden.

Jujur, saya rindu Buya Hamka tokoh masyarakat juga pemuka agama yang tawaduk, di segani rakyat Indonesia dan mancanegara, setiap ucapannya menyejukkan bangsa. Terus terang saya rindu Ki Hajar Dewantara, tak peduli apapun latar belakang manusia di Indonesia, yang terpenting adalah kemauan untuk menjadi manusia yang terdidik: Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Facebook Comments

About arumsari7

3 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    kita rindu orang-orang yang cinta negeri ini tanpa pamrih apapun

  2. katedrarajawen

    Selalu dengan semboyan bhineka tunggal ika

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif