Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Selamanya Bersatu

[OPINI] Selamanya Bersatu

Baru saja kita melaksanakan pemilu. Amat disayangkan, persaingan antar kandidat diwarnai dengan berbagai keburukan. Di dunia maya maupun berbagai media saling menonjolkan keburukan dari pihak lawan. Apalagi media netral mungkin sudah tidak ada. Sebagian besar / semua berbau komersil, akan mendukung pihak “yang bayar”. Banyak juga yang malah dimiliki sendiri oleh kandidat dalam pemilu tersebut. Hal ini menyebabkan suatu persaingan yang tidak sehat.   Hujat-menghujat ramai di media sosial. Entah benar atau hanya fitnah. Satu hal lagi yang sudah bukan rahasia, menjelang pemilu biasanya ada “serangan fajar”, yaitu sebutan bagi “uang suap” agar memilih partai atau calon tertentu. Tak ketinggalan…

Review Overview

Baru saja kita melaksanakan pemilu. Amat disayangkan, persaingan antar kandidat diwarnai dengan berbagai keburukan. Di dunia maya maupun berbagai media saling menonjolkan keburukan dari pihak lawan. Apalagi media netral mungkin sudah tidak ada. Sebagian besar / semua berbau komersil, akan mendukung pihak “yang bayar”. Banyak juga yang malah dimiliki sendiri oleh kandidat dalam pemilu tersebut. Hal ini menyebabkan suatu persaingan yang tidak sehat.

 

Hujat-menghujat ramai di media sosial. Entah benar atau hanya fitnah. Satu hal lagi yang sudah bukan rahasia, menjelang pemilu biasanya ada “serangan fajar”, yaitu sebutan bagi “uang suap” agar memilih partai atau calon tertentu. Tak ketinggalan pula adalah adanya massa-massa yang anarkis. Kesemuanya ini perlu diteliti sumbernya, apakah benar dilakukan oleh pihak lawan, pihaknya sendiri dengan tujuan mengkambinghitamkan lawan, pihak di luar keduanya (bukan pihak lawan atau kawan), atau oknum? Ketika terjadi keributan oleh massa yang anarkis, itu disebabkan oleh para kandidat atau preman bayaran, atau hanya orang / kelompok yang menumpang di kekeruhan suasana? Dan ketika terjadi “serangan fajar” itu dilakukan atas inisiatif  bawahan atau terorganisir dari partai?

 

Saya terkejut dengan kabar terjadinya kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Bagaimana bisa padahal sudah ada saksi dari para calon itu. Sepertinya tahun demi tahun selalu muncul masalah yang sama. Begitu bobrokkah mental bangsa ini? Apapun bisa dibeli dengan uang (baca: disuap). Lalu mengapa tidak belajar dari sejarah/kesalahan yang sama? Benar atau tidaknya tuduhan yang dilontarkan itu harus diantisipasi, yaitu misalnya dengan merekam proses berlangsungnya pemilu, memperketat pengawasan pada saat pelaksanan pemilu, memilih orang berakhlak terpuji/jujur/”bersih” sebagai pengawas pemilu, atau bila perlu melakukan “sumpah pocong”. Cara terakhir ini cara tradisional yang masih “ampuh” bagi masyarakat Indonesia. Jika menempatkan diri sebagai pihak yang dizhalimi, saya setuju dengan adanya pemilu ulang. Kebenaran memang harus ditegakkan. Bagaimana pun presiden Indonesia / partai yang terpilih tidak boleh berasal dari “hasil kecurangan”. Biayanya memang mahal, tapi menurut saya akan lebih mahal jika negeri ini dipimpin oleh orang yang buruk (rakus, culas, curang, tidak cakap, atau apapun keburukan lainnya). Namun, bisakah dijamin hasilnya/kondisinya akan tetap sama (sesuai harapan penuduh)? Rakyat butuh makan, butuh kerja. Lebih baik kerja daripada ikut pemilu lagi. Jujur, pemilu berulang-ulang itu membosankan, menambah banyak pengeluaran negara, dan…siapa yang peduli? Beberapa orang sudah apatis dengan pemimpin-pemimpin negara ini. Hidup tetap susah, tidak semakmur yang seharusnya walau Indonesia sebenarnya negara yang sangat kaya. Waktu, tenaga, uang, dan sebagainya adalah modal hidup kita yang sangat berharga. Manfaatkanlah sebaik mungkin.

 

Di sisi lain, benarkah tuduhan dari pihak yang kalah terhadap pihak yang menang? Bagaimana cara membuktikannya? Bagaimana cara agar menang dari oknum-oknum yang disuap jika si penuduh benar, dan sebagainya.

 

Sedari awal, sebelum para calon “naik” (baca: maju di pemilu) seharusnya diteliti dulu track record-nya. Baik atau tidak akhlaknya, bagaimana sejarah hidupnya, sukses atau tidak dalam kepemimpinannya, dan sebagainya. Jika tidak baik, jangan dipaksakan untuk lolos hanya karena namanya terkenal, punya banyak uang untuk kampanye, atau semacamnya.

 

Suatu hari saya mendapat pelajaran berharga dari orang Jepang. Dia mengatakan bahwa di Jepang kata “orang gila” dan semacamnya tidak boleh digunakan pada media umum. Kemudian ada seorang Jepang teman FB saya yang sempat mengomentari hasil pemilu. Hal yang bisa saya tangkap adalah selalu gunakan bahasa positif. Di antara manfaatnya antara lain agar rakyat tidak bingung, tidak khawatir, imej di negara lain menjadi baik, dan semacamnya.

 

Di youtube bahkan tayang sebuah video yang membuat Jokowi sebagai bahan lelucon (tontonan komedi)-ini dilakukan oleh negara asing. Entah apa jabatan Jokowi saat itu. Dan ini tidak ditindak tegas oleh pemerintah Indonesia. Bayangkan jika video itu dibuat saat Jokowi sebagai capres atau malah sudah menjabat presiden! Bahkan ketika Jokowi masih menjadi walikota Solo pun mereka tidak patut untuk melakukannya, apalagi setelah beliau menjadi orang nomer satu di Indonesia. Sekarang bandingkan dengan tindakan Malaysia, ketika ada hinaan terhadap aksi individu yang menghina Yang Dipertuan Agung di FB mereka langsung melacak untuk menindaknya. Serupa dengan itu, Jepang pun sangat marah melihat ada grafiti orang Indonesia di gunung Fuji. Seluruh hal ini perlu diperhatikan, pemilu tidak hanya berefek ke dalam tetapi juga ke luar. Ketika presiden atau pejabat atau siapapun dari rakyat Indonesia dihina, kita perlu menindaknya dengan tegas.

 

Pemilu merupakan saran untuk memilih wakil-wakil rakyat beserta presiden dan wakil presiden. Sungguh memalukan jika masih diwarnai dengan berbagai kecurangan. Hendaknya para kandidat bisa meredam aksi-aksi buruk itu. Setidaknya, itu adalah sedikit uji coba kepemimpinan, berhasil atau tidak para calon itu dalam mengendalikan dan mengarahkan massa/pendukungnya. Hasil dari pemilu tidak bisa dipandang remeh. Salah dalam memilih pemimpin dan wakil-wakil rakyat akan menyebabkan derita yang berkepanjangan, minimal selama 5 tahun (menunggu pemilu berikutnya). Namun, ada banyak hal yang bisa berefek sangat besar, hingga memungkinkan rakyat Indonesia menjadi sangat miskin, menderita, atau kembali dijajah.

 

Pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa perlu mendapat perhatian serius. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, ancaman untuk memisahkan diri (disintegrasi) itu sangat besar. Kemajemukan di Indonesia yang sangat tinggi bisa menjadi kekayaan sekaligus bumerang jika tidak diperlakukan dengan tepat. Sudah banyak kondisi yang mengarah ke sana, ada Timor Timur yang lepas, terbentuknya propinsi-propinsi baru, ancaman disintegrasi Aceh, dan sebagainya. Ketidakpuasan terhadap pemerintah perlu diminimalisir agar hal demikian tidak terjadi. Pemerintah pusat harus memperhatikan kesejahteraan seluruh warganya di seluruh Indonesia, termasuk di daerah.  Hal ini untuk menghindari terjadinya kesenjangan sosial atau seperti istilah “Seperti tikus yang kelaparan di lumbung padi”. Negara kita kaya, tapi kita tidak bisa mengelolanya, tidak bersatu untuk memanfaatkannya, tidak memperhatikan keseimbangan alam, dan terlalu ingin mencontoh negara lain (padahal setiap negara memiliki karakteristik alam dan lingkungan yang berbeda, tidak semuanya bisa diadopsi).

 

Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sudah menurun, mereka pun mudah termakan isu. Di sisi lain, negara-negara luar sudah terus berlomba dengan berbagai kekuatan senjata mereka, berlomba di dalam kemajuan di berbagai bidang. Kita, rakyat Indonesia, masih berkutat pada hujat-menghujat. Sementara negara lain akan membaca/mendengar “Oh…betapa buruknya calon-calon di Indonesia. Tidak adakah yang lebih baik?”. Di saat negara lain mengintai dan siap untuk berperang / menjajah lagi, kita terlena akan hal-hal yang sia-sia atau bahkan membawa banyak kemudharatan.

 

Ingatlah! Tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan bisa datang dari dalam maupun luar. Kita harus selalu waspada dengan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, selamanya.

Facebook Comments

About gardeniaaugusta

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif