Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [Opini] Selamatkan demokrasi, Ciptakan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

[Opini] Selamatkan demokrasi, Ciptakan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

OpiniIndonesia merupakan satu dari beberapa negara penganut demokrasi. Di negara ini, demokrasi begitu kuat dan dijunjung tinggi. Namun, siapa sangka bahwa negara penganut demokrasi itu kini kondisina ibarat telur ayam yang disembunyikan dalam kantung celana dan dapat retak bahkan pecah kapan saja. Maksud dari pengibaratan itu adalah demokrasi sebagai telur ayam yang disalahgunakan penempatannya sehingga mampu menjadi ancaman bagi negara yang menganutnya. Itulah Indonesia yang kian dirasakan kini dan nanti.
Betapa tidak, ironi seperti ini kian terlihat sejak pemilihan umum (pemilu) 2014 diselenggarakan di Indonesia pada 9 Juli lalu. Pada pemilu tersebut tersedia dua pasangan Capres dan Cawapres yang selalu mengobarkan kata demokrasi, perubahan serta menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Namun fakta yang terjadi adalah timbulnya keretakan bangsa dan pecah belah di antara warga negara Indonesia baik itu di gunung ataupun pantai, timur ke barat, sabang ke merauke, serta dalam dan luar negeri. Kondisi ini terbentuk bukan hanya karena penyalahgunaan penempatan demokrasi, namun juga akibat ambisi dan kepentingan para calon serta kurangnya pemahaman warga negara Indonesia sehingga terkena tipu daya yang terjadi pada sistem demokrasi yang dilakukan. Pada akhirnya menghalalkan segala cara dan tidak semestinya. Indonesia seakan lari dari posisi tegaknya yang dikelilingi pola demokrasi yang cukup tepat sebelum adanya pemilu tersebut.
Pemilihan umum pada dasarnya juga memiliki tujuan tersendiri sebagai bentuk penggambaran sistem demokrasi. Pesta demokrasi tersebut diadakan untuk memebentuk proses menuju hasil yang demokrasi yaitu dari, oleh dan untuk rakyat. Akan tetapi, kini hanya sekedar terlihat pada kata “dari, dan oleh” saja. Seakan demokrasi melupakan dan juga mengabaikan kata “untuk”. Kemanakah tujuan yang selalu mengedepankan rakyat? Mungkin terselip di dalam kantong mereka yang kini sebagai elit politik atau hanya sekedar partisipan saja.

Berdasarkan hal tersebut, sebagai generasi muda bangsa, timbul rasa prihatin dan kekhawatiran, bagaimana demokrasi akan membantu terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa di masa yang akan datang. Haruskah kami sebagai generasi muda bangsa ini yang harus merasakan akibat dari gagalnya pesta demokrasi tersebut? Generasi muda ini juga memiliki cita-cita untuk menjaga keutuhan negara, mencerdaskan kehidupan bangsa serta menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa layaknya yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar Negara. Entah harus dari kaca mata mana lagi harus dilihat pedihnya demokrasi di bumi khatulistiwa ini. Ingin mengibarkan bendera di kala peringatan hari kemerdekaan tetapi untuk memerdekakan nasib bangsa yang terpecah belah saja masih penuh dengan kepalsuan. Jangan hitamkan bendera bangsa jika masih ingin melihat putih dan merahnya Indonesia.
Saat ini Indonesia sudah semakin cerdas untuk dibodohi. Jangan katakan kecurangan, jangan katakan kemenangan, dan jangan katakan kerakyatan, jika tak mampu ciptakan persatuan dan kesatuan. Untuk menciptakan dan mengembalikan demokrasi pada tempatnya, tak perlu lakukan aksi pencitraan palsu, dan juga tak perlu saling menghujat satu sama lain seperti yang terjadi tepat pada pemilu 2014 lalu.

Kita sebagai warga negara hanya perlu melanjutkan dan mempertahankan apa yang sudah diperjuangkan pejuang sebelumnya pada garis dasar negara, perangi kejahatan politik dengan langkah yang cerdas dan renungkan kembali apa tujuan kita masih mencintai negara ini. Titik klimaks yang paling dirindukan bangsa ini adalah Bhinneka Tunggal Ika, dengan segala perbedaan tetapi tetap satu. Teruntuk para elit politik yang menikmati ataupun berjuang, peganglah erat amanah yang telah diberi, jangan ciptakan perpecahan di antara pengikut, dan letakkan demokrasi Indonesia pada tempat yang semestinya. Solusi itu ditawarkan untuk membantu Indonesia yang merdeka, bukan Indonesia yang buta!

Facebook Comments

About Ria Andriani