Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Dagelan (pesta) Demokrasi dan Jati Diri Bangsa

[OPINI] Dagelan (pesta) Demokrasi dan Jati Diri Bangsa

OpiniTersebutlah konon, kisah tentang negeri antah-berantah, negeri yang begitu getol mewujudkan demokrasi. Entah demokrasi macam apa yang di gaungkan itu, demokrasi terpimpin ataukah demokrasi abal-abal. Sudah berapa banyak tafsiran tentang istilah ini, mulai dari kalangan elitis kenegaraan hingga para cendikia, tak terkecuali para politisi. Untuk mewujudkan cita-cita ini katanya tidak mudah, agar dapat terwujud, bagi pelakunya harus bersikap demokratis, baik dalam menilai ataupun bertindak.

Inilah demokrasi, benar atau tidaknya tetap harus diterima. Lakon demokrasi akan berbeda jika kita tambahkan kata pesta, sebab akan menjadi ‘pesta demokrasi’. Demokrasi dan pesta demokrasi keduanya mempunyai kesamaan, hanya saja peranannya berbeda. Tujuan demokrasi untuk menciptakan kemajuan rakyat, yang hal itu diwujudkan oleh rakyat pula. Sedangkan pesta demokrasi bersinggungan dengannilai, karakter dan cultural background suatu bangsa, sederhananya pesta demokrasi lebih menentukan jati diri bangsa itu sendiri. Jika proses ini berlangsung kurang baik, tidak jujur atau terjadi kecurangan, tentu bangsa ini akan dinilai minus. Namun sebaliknya jika berjalan dengan baik, dan –lagi-lagi–bersikap demokratis. Tentu bangsa ini akan menjadi bangsa yang disegani. Pesta demokrasi adalah sebuah lompatan, proses menuju yang lebih baik. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal, sama halnya dalam menentukan calom pemimpin, kita hanya dapat menilai dan mengenalnya dari beberapa iklan politis dipinggir jalan, setelah itu ditentukan dalam hitungan menit di bilik suara. Masalahnya kini, perbedaan pandangan atau pilihan pasca pesta demokrasi atau pemilu, seringkali mengusik keharmonisan penduduk negeri ini. Bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan yang dibina sejak lama akan retak hanya karena perbedaan pandangan yang terjadi.

Dalam pada itu, Emha Ainun Najib pernah menulis sebuah esai Lima Menit Lima Tahun Sekali, menurutnya paradigma seorang dalam menentukan pilihannya, tentang siapakah parpol yang keluar sebagai pemenang, keributan yang dipicu pasca pemilu, atau pun pertanyaan-pertanyaan lain. Semua itu akan terasa indah, pekik Ca Nun. Keindahan terletak pada penghayatan kita semua betapa keindahan-keindahan itu sebenarnya sangat lucu, demikian Cak Nun menegaskan. Dalam tulisannya yang lain, Partai Masyriq Partai Maghrib Partai Japemethe, Cak Nunmenambahkan, manusia sangat punya kesenangan untuk bertengkar dan berpecah-pecah satu sama lain. Kemudian iamenambahkan, “pembelaannya atas golongannya sendiri itu bisa berpijak pada keyakinan atas kebenaran golongannya, atau atas pilihan ideologi kelompoknya...”.

Dan sekarang, ketika persatuan dan kesatuan dipertangguhkan, bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi dilema pasca pemilu. Akankah para politisi dan elit negara tetap bergeming, ataukah akan melakukan tindakan. Disinilah persatuan dan kesatuan bangsa Indoenasia diuji.

***

Seorang intelektual, jurnalis, dan mantan pimred sura kabar terkemuka di Jawa Timur; Jawa Post dan harian pagi Surya. Suatu kali ia mengatakan, masyarakat kita dari dulu dikenal masyarakat yang bijaksana, tidak suka mengkritik orang secara terbuka, dan dan tidak suka menyinggung perasaan orang lian secara terbuka. Itu merupakan bagian dari wisdom (kebijaksanaan) masyarakat yang mungkin, menjadi nilai lebih yang tidak dipunyai masyarakat lain. Tokoh tersebut adalah Dimam Abror Djuraid dalam esainya Masyarakat Abu Nawas.

Pernyataan Dimam memang cukup menggelitik, betapa tidak! berbagai persoalan di negeri ini begitu mudah terselesaikan, masyarakat kita cukup memalumi, istilah korupsi disebut sebagai uang transport, uang sogok disebut sebagai uang rokok, dan istilah-istilah lainnya. Demikian kata Dimam. Penduduk negeri ini dikenal sebagai masyarakat majemuk, masyarakat yang serba berbeda, perbedaan itu terjadi bukan hanya dalam keyakinan, suku, ataupun golongan. Tapi terjadi pula pada pesta demokrasi. Perbedaan dalam pilihan itu hal yang wajar, begitulah kata orator. Kita patut menghargai perbedaan itu, sekalipun dalam pilihan, inilah ciri-ciri negara yang demokratis, menghargai perbedaan. Lantas apa kaitannya masyarakat yang bijaksana dengan kemajemukan bangsa ini? tentu ada, sikap bijaksana –kali ini bukan untuk penyelesaian KKN– dapat dijadikan landasan dalam menyikapi perbedaan yang terjadi. Masyarakat yang bijaksana adalah masyarakat yang mengerti tentang hubungan dirinya dengan orang lain, bijaksana yang tidak hanya berbicara tentang perilaku, tapi yang terpenting adalah penyelesaian, utamanya dalam konteks perbedaan.

Masyarakat yang bijak bukan hanya memahami kondisi yang sedang terjadi, tapi lebih jauh ia mampu mengenal sejarah bangsa ini. Hal ini penting dimengerti, menjaga kesatuan dan persatuan tidak cukup hanya bermodal bijaksana, tapi harus ada pergerakan yang menunjukkan jati diri bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat. Suatu pergerakan yang pernah dilakukan oleh Dr. Soetomo, ia mengatakan pergerakan dan persatuan mesti dilakukan, berpisah jika dimungkinkan. “Bergerak dan bersatoe kalaoe mesti, berpisah kalaoe perlu. Inilah harus menjadi sembojan kita dari golongan, joeroesan atau partai apa sadja jang ingin memadjoekan noesa dan bangsa”, demikian khutbah Soetomo tentang tema persatuan.

Jika hal ini dapat dilakukan, diharapkan masyarakat akan kembali mengenal nasionalisme, sebuah tahapan yang jauh melampaui batas nalar kita. Kok bisa! tentu, jika untuk menyatukan persatuan dan kesatuan bangsa ini saja kita perlu dikenalkan dengan derma nasionalisme. Bukankah ini kelewat batas, sikap nasionalisme telah di pupuk mulai zaman kemerdekaan, orde lama, orde baru, hingga peralihan dari zaman militer otoritarian ke demokrasi. Namun demikian kenyataannya, menyatukan sikap sependapat bangsa ini tak cukup hanya dengan bersikap bijak, mewujudkan pergerakan, tapi diperlukan pula nasionalisme.

Agar tidak salah tafsir tentang konsep nasionalisme, sesekali kita perlu mengamini ungkapan Dimam, kali ini dalam esainya berjudul Nasionalisme, menurutnya konsep nasionalisme kita terpengaruhi oleh budaya. Orang Jawa mengambil tamsil kisah wayang Mahabarata maupun Ramayana untuk menggambarkan jiwa nasionalisme. Seorang “penghianat” negara seperti Wibisana dan berpihak kepada Rama, dianggap sebagai seorang satria yang baik karena ia lebih memilih untuk berjuang di pihak kebenaran, meski itu harus menghianati kakak dan negaranya sendiri. Di zaman orde baru, konsep ini digunakan sebagai alat legitimasti dinasti Soeharto. Untuk itu nasionalisme disini adalah kesadaran, betapapun perbedaan yang terjadi bukanlah alasan untuk tidak menunjukkan sikap nasionalisme.

Terakhir, menjaga kesatuan dan persatuan harus dimulai dari diri sendiri, kita tak mungkin bertumpu pada para pemimpin dan elit politik. Kebanyakan –meskipun tidak semuanya— mereka sekedar memberikan imbauan daripada tindakan. Imbauan hanyalah imbauan, boleh dituruti, dilanggar silakan. Untuk itu menjaga persatuan adalah kewajiban bersama, layaknya lakon dalam pertunjukkan tertentu, keberadaan penduduk negeri ini tampil diatas pentas (baca: pentas demokrasi). Kesuksesan pementasan tersebut tergantung pemainnya, begitu pun dalam pemilu, menggalang persatuan tak lagi dapat ditawar. Karena hal ini adalah ‘wajah’ nyata jati diri bangsa Indonesia, bangsa yang menjunjung persatuan dan kesatuan dalam berdemokrasi.

Selamat HUT RI ke-69, semoga kita menjadi insan yang dapat mengamalkan bagian butir Pancasila, yakni Persatuan Indonesia.

Sumber: http://ldii-kotajogja.org/tajuk/resep-menjaga-persatuan-dan-kesatuan-bangsa/

Sumber: http://ldii-kotajogja.org/tajuk/resep-menjaga-persatuan-dan-kesatuan-bangsa/

 

Facebook Comments

5 comments

  1. hihihi.. konon ceritanya, begitu saya baca artikel ini seperti di dongengin, tapi menarik buat dibaca, kaka . :)
    Selamat HUT RI ke-69 untuk kita semua :)

    • M. Achfas Syifa Afandie

      ‘konon ceritanya’, itu terinspirasi gayanya bang Suka Hardjana, kolumnis kolom Asal Usul di harian Kompas. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Interesting point of view :)

  3. You’re Welcome kak M. Achfas Syifa Afandie :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif