Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Menjaga Indonesia Utuh

[OPINI] Menjaga Indonesia Utuh

Momentum Pemilu 2014 dengan dua agenda (Pileg dan Pilpres) sudah berlalu, begitu banyak dinamika yang terjadi. Dimulai dengan pileg yang mengkonfirmasi temuan lembaga-lembaga survei perihal tumbangnya juara bertahan Partai Demokrat, dan kembali berjanya Partai Demokrasi Indonesia Perjungan (PDI-P) sebagai pemenang pileg hingga pilpres yang menampilkan polarisasi sengit dua kandidat presiden. Pilpres kali ini bisa dibilang cukup seksi, dikatakan demikian karena pada pilpres 2014 ini antuasiasme masyarakat begitu luar biasa. Baik yang tua, muda, anak-anak, remaja atau dewasa larut dalam kegembiraan pesta demokrasi 2014. Animo masyarakat menyambut presiden baru begitu dahsyat.

Tidak salah jika mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie menyebut pilpres 2014 seru, hal ini tidak berlebihan karena memang ajang pilpres 2014 penuh dengan tontonan yang mendebarkan. Ada intrik, taktik, bahkan takling yang saling dilancarkan oleh masing-masing kubu kandidat calon. Publik terbelah dalam dua poros yang saling bertarung memperebutkan hati rakyat, pilihannya hanya ada dua: poros Prabowo-Hatta atau poros Jokowi-JK? Sepanjang kampanye dan proses pilpres berlangsung, publik benar-benar larut dalam keasyikan mendukung salah satu kandidat calon. Ada yang mendukung dengan penuh kedewasaan, namun ada pula yang asal dukung, demikian realitas yang tampak terkait pilpres 2014. Bagaimanapun, pilpres sudah usai digelar; KPU sudah menetapkan Jokowi-JK sebagai presiden-wapres terpilih. Sembari menunggu putusan MK terkait gugatan hasil pilpres yang diajukan salah satu kandididat yang keberatan dengan ketetapan KPU, semua pihak harus menahan diri, dan mengendalikan ego sektoral. Integrasi Indonesia sebagai bangsa dan negara harus senantiasa diutamakan.

Tanggal 21 Agustus 2014 akan menjadi babak akhir pilpres, MK akan memutuskan apakah mengabulkan gugatan kubu Prabowo-Hatta dengan membatalkan ketetapan KPU yang memenangkan kubu Jokowi-JK atau malah menolak gugatan yang diajukan? Apapun keputusan MK harus diterima, sifat ketetapan MK yang final dan mengikat tidak memungkinkan siapapun mengajukan gugatan dan keberatan. Karena itu, baik kubu Prabowo-Hatta sebagai pemohon gugatan maupun kubu Jokowi-JK sebagai termohon harus menerima apapun vonis yang akan ditetapkan MK. Disinilah sikap kenegarawanan kandidat-kandidat yang bersengketa akan dipertaruhkan dan diuji? Akankan mereka bersikap layaknya negarawan sejati yang menjunjung tinggi asas-asas demokasi berkeadaban atau malah sebaliknya? Rakyat tentu akan menanti. Kalau selama ini pihak penggugat tidak mau mengakui kekalahan dan terus mengklaim kemenangan, akankah sikap seperti ini akan terus berlanjut jika kemudian MK memutuskan pihak tergugat memang pemenang pilpres yang sesungguhnya? Biarlah waktu yang menjawabnya.

Memperhatikan dinamika dan gelagat yang dipertontonkan Prabowo dan oknum-oknum pendukungnya beberapa waktu terakhir yang terus merongrong wibawa KPU sebagai penyelenggara Pemilu yang independen, mengancam Ketua KPU, menuding Indonesia sebagai negara yang tak ubahnya seperti negara totaliter macam Korea Utara bahkan lebih tragis lagi Ia menuding Indonesia lebih parah dari negeri komunis tersebut. Menganggap Jokowi antek komunis, sama seperti Israel, menuduhnya telah berlaku curang, korup dan merasa bahwa lebih baik mati daripada dipimpin Jokowi adalah tindakan yang nyata-nyata mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandaskan Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai rujukan sekaligus induk semua peraturan perundangan serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat bangsa sungguh hanya akan menjadi dongeng jika kondisi seperti ini terus belanjut.

Negeri ini dibangun oleh darah, air mata, nyawa, para pejuang yang dengan ikhlas mengorbankannya untuk terwujudnya kemerdekaan Indonesia yang bersatu, berdaulat dan bermartabat. Jangan kecewakan perjuangan dan pengorbanan mereka dengan membuat gaduh suasana kebangsaan, memicu terjadinya gesekan dan perpecahan masyarakat hanya karena untuk menuruti hasrat berkuasa. Masa depan bangsa ini jauh lebih penting, iktikad kita bernegara dan berbangsa bukan untuk memuaskan kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Sedari awal roh bangsa ini ditiupkan 28 Oktober 1928 hingga kelahirannya sebagai bangsa dan negara bernama Republik Indonesia 17 Agustus 1945, semua pendiri bangsa bertekad untuk membangun Indonesia raya yang utuh, suatu negeri yang berasakan Pancasila dimana seluruh anak bangsa dapat hidup berdampingan secara damai, adil, toleran dan sejahtera.

Momentum pilpres bukanlah ajang untuk melanggengkan status quo, membuat onar, dan melakukan deligitimasi terhadap kinerja lembaga negara. Pilpres sejatinya merupakan ajang untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih berkualitas bukan malah sebaliknya. Karena itu, menjaga Indonesia tetap utuh adalah hal mutlak yang senantiasa harus diperjuangkan demi terwujudnya cita-cita Indonesia Raya yang jaya, maju, adil dan makmur. Jangan gadaikan Indonesia dengan membuatnya terbelah, semua elemen bangsa harus bersatu dan berkomitmen untuk terus menjaga keutuhan bangsa. Jangan mudah termakan isu dan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Siapapun presiden terpilih yang legitimasinya akan diputuskan MK harus kita hormati bersama, mari kita dukung presiden-wapres terpilih, berilah mereka kesempatan untuk memberikan pengabdian terbaiknya kepada Indonesia. Lupakan segala perbedaan, saatnya bersatu kembali. Mari kita kawal realisasi visi misi dan kontrak-kontrak politik presiden-wapres terpilih. Jangan segan untuk menagih semua janji yang pernah mereka sanggupi. Salam Persatuan Indonesia!

Facebook Comments

About Zahir Alfatih

One comment

  1. Zahir Alfatih

    Ada tanggapan tuan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif