Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [Opini] Harmonisasi Makna Pemilu dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

[Opini] Harmonisasi Makna Pemilu dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

logo-lomba

Harmonisasi Makna Pemilu dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Oleh : Luh Putu Viona Damayanti

 

Persatuan, sebuah kata sarat filosofi dalam setiap suku-sukunya. Persatuan yang berarti “menjadi satu dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan”. Persatuan yang juga mengandung rasa “harmoni” ketika semua perbedaan mewujud menjadi sebuah realita yang sempurna. Pemilu sendiri merupakan sebuah jalan mencapai pemersatu dan pemerwujud persatuan itu. Mengapa demikian? Sebab, dengan segala keheteroan individu dalam sebuah teritori, untuk menjadikannya sebuah harmoni diperlukan sebuah titik pandang atau acuan, dalam hal ini adalah pemimpin.

Di lain sisi, pemilu kerap kali dipandang sebagai sebuah jalan mencapai demokrasi yang mana merupakan sebuah paham bahwa pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh karena itu, rakyat merupakan subjek utama dalam terbentuknya sistem demokrasi ini. Terlebih lagi, rakyat tidak hanya berpartisipasi sebagai pemilih saja, tetapi juga turut serta dalam pemilihan calon pemimpin bangsa yang diwakili oleh infrastruktur politik seperti partai politik, politisi, media massa, dan aspek lainnya. Sehingga, apapun yang terjadi pada pemilu merupakan keinginan bangsa dalam mewujudkan persatuan Indonesia sendiri. Seharusnya, hal ini tidak menjadi masalah mengingat sistem pemilu sendiri ditumbuhkan oleh rakyat atau bangsa Indonesia sendiri.

Namun, tampaknya hal itu tidak terjadi akhir-akhir ini. Pemilu semakin hari menjadi sebuah politik keras yang bukannya berhasil menyatukan keheterogenitas bangsa Indonesia, justru membelit bangsa Indonesia dalam perpecahan intern seperti perselisihan antartokoh dan anarkisme massa. Parahnya, pemilu telah memicu sumbu perpecahan intern bangsa dengan meningkatkan ketegangan yang terjadi di antara mahluk-mahluk heterogen tersebut.

Beberapa hal diduga menjadi faktor dari perpecahan ini. Namun uniknya, dalang dari semua ini justru ada pada penyelenggaraan pemilu itu sendiri. Dimulai dari penyelewengan asas “Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil” atau kerap kali disingkat “Luberjurdil”, ketidakmerataan kawasan pemilu bahkan ketidakikutsertaan sebagian dari rakyat Indonesia yang telah memiliki hak untuk memilih. Salah siapa? Tidak sulit mencari siapa yang bermasalah karena seluruh lapisan masyarakat terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Aparat lembaga pemerintah yang seharusnya sudah bisa meminimalisasi kemungkinan kecurangan pemilu belum berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Hal ini justru diperparah dengan bangsa Indonesia yang justru melakukan “kudeta manis” terhadap pelaksanaan pemilu tahun ini. Salah satunya dengan tidak menggunakan hak pilih atau golput. Pemikiran orang-orang dalam golongan putih ini mungkin bermaksud untuk pasrah, menerima siapa saja pemimpinnya dan mendukungnya secara penuh. Hal positif yang saya tangkap dari keadaan ini adalah meminimalisasi kemungkinan terjadinya konflik apabila ikut campur dalam penanganan hasil pemilu sehingga siapapun pemimpin bangsa ini tidak akan menjadi masalah bagi orang-orang yang golput. Namun, sesungguhnya hal inilah yang memicu perpecahan bangsa karena sebagian pihak merasa dirugikan dengan berkurangnya pendukung calon pemimpin tersebut. Tentu saja, paradigma golput ini juga tidak bisa dibenarkan karena melanggar aturan perundang-undangan Republik Indonesia mengenai pemilu yang mana seluruh warga Negara berhak untuk memilih dan dipilih.

Hal yang saya kemudian sadari adalah banyak paradigma-paradigma masyarakat yang justru melenceng dari makna pemilu sesungguhnya. Perbedaan persepsi agaknya masih menjadi masalah di sebagian besar orang karena selain sifat keakuan yang masih kuat, toleransi antarmasyarakat juga masih kurang. Masyarakat lebih mementingkan egonya sendiri khususnya pemilu dibandingkan dengan menerima bahwa ada saat kepentingan bersama lebih penting dari kepentingan pribadi. Padahal dalam teorinya, perbedaan itulah yang dapat memunculkan sebuah harmoni yang merupakan makna suci dari “persatuan”.

Terkait dengan persatuan, pemilu yang juga diakhiri dengan HUT Ke 69 Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi sebuah dorongan untuk semakin meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, telah dimulai sebuah era baru dimana masyarakat mulai mengambil langkah sigap dalam menyatukan pikiran-pikiran bangsa dalam sebuah wadah inspirasi yaitu pemilu 2014 ini. Dengan munculnya seorang pemimpin baru maka bangsa Indonesia seharusnya mendukung secara penuh pemimpin tersebut untuk mewujudkan visi dan misi bangsa. Mendukung di sini dalam artian ikut berpartisipasi secara aktif seperti memberikan saran dan solusi di beberapa aspek yang menjadi kekurangan bangsa, mencegah tindakan kriminal baik itu secara fisik maupun mental seperti korupsi, dan menjalankan program-program yang memang ditujukan untuk kemajuan bangsa.

Seharusnya, pemikiran seperti itulah yang dimunculkan pasca pemilu 2014 ini, bahwa pemilu bermakna menyatukan, dan persatuan yang bermakna harmoni. Pemilu sebagai prinsip fundamental yang menyatukan heterogenitas persepsi bangsa dalam wadah persatuan dan kesatuan NKRI, sekaligus juga berarti mewujudkan gaung harmoni dalam keanekaragaman. Pemilu yang bermakna menyatukan tidaklah memaksa bangsa Indonesia untuk menerima dan mengikuti pandangan satu orang tetapi lebih kepada bagaimana cara bangsa Indonesia untuk bertoleransi dan mencari titik temu kemajuan bangsa dengan beracuan pada sosok yang dipanutinya, dalam hal ini adalah pemimpin. Sehingga, pandangan-pandangan yang berbeda sebelumnya tidaklah melebur menjadi satu melainkan berakulturasi dan bekerja dalam aspeknya masing-masing dengan tetap berpegang pada satu acuan. Misalnya, pembentukan lembaga pendidikan dari pihak swasta dan negeri yang berbeda dalam hal finansial namun tetap mentaati standar nasional, atau impor-ekspor dan berbagai hal lainnya.

Jika komponen ini saling mendukung, walaupun berbeda jalan tetap menuju ke satu tujuan yaitu kemajuan bangsa. Secara tidak sadar, ini memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa karena seluruh rakyatnya bersatu untuk membangun bangsa. Inilah yang disebut harmoni karena dengan perbedaan persepsipun, semua saling menguatkan. Dan makna pemilu itu sendirilah yang perlu disebarkan agar terwujud persatuan dan kesatuan bangsa yang harmonis.

Facebook Comments

About Viona Damayanti

One comment

  1. Yulida Medistiara

    Ya, paradigma masyarakat dan elit parpol kerap kali menjadikan pesta demokrasi sebagai ajang persaingan. Tak heran kalau kampanye hitam sering kita temui di media baik media cetak, media visual dan audio, hingga media sosial. Semestinya masyarakat tidak mudah terprovokasi dan para pemimpin tersebut mampu bersikap demokratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif