Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Menjadi Indonesia (Kita di Jalur yang Benar)

[OPINI] Menjadi Indonesia (Kita di Jalur yang Benar)

logo-lombaAda rasa lega menyusup ke dalam dada yang entah bersumber dari mana persisnya, saat Pemilu 2014 dinyatakan telah usai.

Lega karena Indonesia telah menyelesaikan satu babak penting dalam kehidupan demokrasinya, pemilihan presiden dan legislatif secara langsung yang merupakan kali pertamanya dilaksanakan di negara kita.

Lega karena dibalik segala gegap gempita dan rusuhnya media massa, ada secercah harapan bahwa kini rakyat Indonesia mulai peduli terhadap masa depan bangsanya, mulai menaruh perhatian pada politik, dan hal-hal yang menyangkut kebijakan hajat hidup orang banyak.

Lega karena persentase jumlah pemilih golput telah berkurang drastis, digantikan oleh anak-anak muda yang tak lagi bersikap masa bodoh dan telah mulai ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi kali ini.

Lega karena untuk pertama kalinya Indonesia akan memiliki presiden yang dipilih langsung oleh rakyatnya, dan presiden yang akan turun secara baik-baik.

Tapi mungkin juga lega karena kini laman Facebook akan kembali menjadi ajang pamer foto anak dan foto liburan – dari yang tadinya jadi ajang kampanye capres yang seringkali menyertakan kata-kata menghasut, fitnah, dan berbagai link berita yang belum jelas kebenarannya.

Mungkin juga lega karena kini tak perlu lagi ada berita suami istri yang cerai karena berbeda pendapat, atau tali persahabatan yang putus karena berbeda pilihan calon presidennya.

Lega karena siapapun pemenang pemilu kali ini, sebenarnya ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia.

Lega karena, kelak suatu saat momen bersejarah ini akan jadi cerita yang menarik untuk diturunkan pada anak cucu sambil bersantai di beranda nanti.

Lega karena momen pemilu yang panas, ditutup dengan cantik oleh Idul Fitri yang membawa semangat perdamaian dan kembalinya manusia ke hati yang bersih.

Dan atas kelegaan-kelegaan itu, izinkanlah saya bersyukur dan melihat dari sudut pandang lain.

Satu setengah dekade yang lalu, jangankan untuk mengkritisi pemerintahan, untuk bersuara saja kita patut merasa was-was. Boro-boro keluh kesah kita didengarkan, justru yang lantang bersuara itu segera dimusnahkan. 15 tahun lalu, kita tak miliki privilege itu, hak untuk mengeluarkan pendapat.

Kini, apa yang nampak sebagai kekisruhan itu sebenarnya menunjukkan bahwa bangsa kita tengah terus belajar untuk berdemokrasi. Saya justru bahagia karena banyaknya opini yang beredar di masyarakat, sejatinya menunjukkan bahwa mulut setiap rakyat Indonesia kini tak lagi dibungkam dan bebas bersuara. Saya justru bahagia mendengarkan topik politik kini menjadi bahasan yang lumrah diperbincangkan oleh bapak-bapak di warung kopi, supir truk di pangkalan, juga antar petani di gubuk saat mengaso.

Jangan dilihat di titik mana kita berada, kawan, tapi lihat kemajuan yang sudah kita tempuh sejauh ini. Rakyat Indonesia memang masih harus belajar untuk berpikiran terbuka dan menghargai pendapat orang lain, tapi percayalah, kita telah berada di jalur yang benar.

Hasil pemilu terakhir menunjukkan persentase pemilih berkisar di 52% – 48%. Itu artinya presiden terpilih akan mempunyai basis pendukung sekitar setengah dari seluruh masyarakat Indonesia, dan setengahnya lagi yang tidak memilihnya.

Tapi sesungguhnya ini bukanlah tentang siapa mendukung siapa. Di penghujung hari, kita hanya akan punya 1 presiden, dan siapa pun orangnya, beliau wajib kita dukung. Beliaulah pemimpin kita, beliaulah bapak kita.

Pada akhirnya, di pundak presiden terpilihlah tampuk dan mandat pemerintahan akan dipercayakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Baik yang telah memilih ataupun tidak memilih beliau, mari kita sama-sama mengkritisi pemerintahan yang akan berjalan ini. Awasi setiap gerak-gerik dewan dan pemerintahan, karena di pundak merekalah kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak digodok dan diputuskan. Tuntut visi misi dan program yang telah dijanjikan selama musim kampanye.

Jika nanti terdapat ketidakberesan, percayalah, kekuatan terbesar dan absolut itu ada di tangan kita, rakyat Indonesia. Sejarah telah membuktikan, tak peduli seberapa tirani pun penguasanya. Jadi jangan remehkan kekuatan kita. Tak peduli siapapun presidennya, jika terdapat tindak kecurangan yang tak sejalan dengan kemauan rakyat, percayalah pada kekuatan kita untuk menumbangkannya.

Untuk saat ini, mari kita berpegangan tangan dan saling bahu-membahu mendukung Indonesia yang lebih baik, karena percayalah, tak ada negara maju yang dibangun di atas perpecahan.

Saya yakin setiap dari kita bermimpi akan Indonesia yang lebih baik. Saya percaya setiap dari kita menginginkan hidup di negara yang damai dan sentosa. Kini saatnya setiap dari kita bisa berkontribusi untuk mewujudkan cita-cita itu: dengan bersatu padu.

Masih ingat cerita kegagahan 300 pejuang Sparta yang melawan ribuan musuhnya? Ya, itulah hebatnya sebuah persatuan. Hanya dengan bersatu kita bisa mengindahkan semua perbedaan. Hanya dengan bersatu kita bisa menghimpun kekuatan.

Saya sepakat dengan perkataan pak Anies Baswedan, bahwa lawan berbeda dengan musuh. Lawan berdebat merupakan teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolahraga. Rukun tercipta bukan karena tak ada perbedaan, tapi bagaimana kita menjaga kedewasaan.

Semua rakyat Indonesia adalah saudaramu. Mereka yang sealiran denganmu dan yang berbeda pendapat denganmu. Mereka yang satu kota denganmu juga yang di seberang pulaumu. Mereka yang seumuran denganmu dan yang berbeda zaman denganmu.

Telah lewat masanya untuk membujuk lebih kencang dan berteriak lebih lantang, kini tiba waktunya untuk mengerti lebih bijaksana dan mendengar lebih seksama.

Demi Indonesia satu.

Facebook Comments

About evabachtiar

6 comments

  1. jangan lupa dikasih foto lomba hut opini ya.. kak :)

  2. salam kenal…
    sangat-sangat melegakan mbak, khususnya beranda FB saya. walaupun belum hilang, tapi sudah tidak sebanyak yang dlu. saling mengklaim kelebihan calonnya masing-masing, mengumbar kejelekan calon yang lain, fitnah sana-sini, taman binatang pun berasyik masuk dengan bebasnya… hahaha kini kita semua lega… lega untuk sementara. eh?

    maaf nitip opini mbak, soalnya telat gabungnya
    https://ketikketik.com/lomba-opini-hut-ri-ke-69/2014/08/16/opini-setelah-berseteru-kini-saatnya-bersatu.html

    • Haha, semoga tidak untuk sementara. Tapi itu kisah nyata loh, banyak yang remove friends gegara terlalu aktif kampanye di FB. Aku merindukan FB yang dulu, hehehe…

  3. Salam kenal kak?
    Betul sekali mengenai artikel diatas, bahwa lawan bukanlah musuh. Seseorang yg berada pada suatu lingkup bisa menjadi lawan, ketika diluar lingkup kembali menjadi teman. Tetapi musuh tidaklah demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif