Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [Opini] Untuk Anak Negeri, Merenungkan Makna Persatuan

[Opini] Untuk Anak Negeri, Merenungkan Makna Persatuan

logo-lomba

Matikan TV mu, tidak usah baca media sosialmu, atau menjauhlah dari urusan pemilu!!,  mungkin kata-kata itulah yang ingin saya katakan kepada anak-anak dan remaja di seluruh negeri ketika pemilu sedang berlangsung di negara ini. Bayangkan, betapa banyak kata-kata negatif yang dikeluarkan dan kemudian disebarkan oleh pendukung-pendukung fanatik yang kemudian bisa berdampak memecah belah persatuan Indonesia.  Mari kemudian kita merefleksikan bagaimana dampaknya kepada anak-anak dan orang muda di negeri ini ketika dari kecil mereka sudah disuguhi caci maki terhadap perbedaan dan permusuhan.

Saya adalah seorang guru yang pernah mengajar di daerah pesisir di Sulawesi Tengah. Sebuah daerah terbatas di mana televisi menjadi salah satu hiburan utama masyarakat. Orang dewasa dan anak-anak terbiasa menghabiskan banyak waktu untuk menonton banyak acara, dan dengan polosnya kadang menganggap semua berita itu benar apa adanya. Mari kita renungkan, ketika mereka yang tampil di layar kaca selalu meneriaki permusuhan dan menjelek-jelakkan satu sama lainnya. Bisa jadi warga di desa saya dulu dan sudut-sudut negeri lainnya hanya akan merekam kejamnya perbedan berbalut kebencian.

            “ Enci saya tidak suka Afdal soalnya dia  so bapukul saya, tidak mau lagi saya bateman sama Afdal”. Ucap Irsa, muridku di kelas empat suatu waktu. Irsa dan Afdal sedang terlibat perkelahian kecil karena saling mengejek di kelas. Besoknya kemudian, Afdal dan Irsa sudah terlihat akrab kembali dan  saling bertukar mainan. Luar biasa ya anak kecil, sehari sebelumnya saling berkelahi kemudian secara organik membaik kembali dan saling memaafkan.  Situasi lain adalah ketika Eel, anak kelas dua menangis karena dipukul kakak kelasnya, Albara teman sekelasnya kemudian menghampiri temannya, tanpa berkata apa-apa,  ia kemudian memegang tangan Eel, menatapnya dan menyeka air mata dengan tangannya.

 “Enci…. teman Enci itu, agamanya berbeda sama kitorangkan, katanya kalau berbeda agama, kita tidak boleh dekat- dekat Enci” tanya muridku Fitri di kelas.

Kalian suka sama Enci Lilli? Enci Lilli berbeda agama dengan Enci, tapi enci berteman baik dengan Enci Lilli”  ujarku di depan anak-anak.

Suka Enci… Enci Lilli sangat baik sama kitorang, cantik juga”  Jawab Jihan  dengan semangat.

Apakah ada yang berpendapat Enci Lilli tidak baik atau jahat sama orang lain?” pancingku kepada anak-anak kelas empat.

Tidak beh Enci… Enci Lilli orangnya sangat baik” Ucan menimpali

Kenapa Ucan?” tanyaku kemudian

Karena Enci Lilli ramah sama kitorang, mau diajak bermain di pantai, dan suka senyum, Enci Lilli juga cantik” Jawab Ucan polos

Berarti Enci Lilli tidak berbedakan dengan kalian, Enci Lilli hanya berbeda agama saja, tetapi ketika dia berbuat baik kepada kita beraarti kitapun juga harus berbuat baik kepada mereka”  penutup kata untuk anak-anakku.

Ajaibnya anak-anak  dengan polos bisa menyuarakan ketulusan, menerima kebaikan, dan tidak berprasangka kepada sesama walaupun awalnya ada yang mengatakan sebaliknya kepada mereka. Walaupun bisa jadi semakin bertumbuhnya anak-anak, bisa jadi mereka akan semakin belajar makna perbedaan itu sendiri. Seberapa jauh mereka memperuncingnya, atau justru menerimanya. Pengalaman menjadi guru memberikan pemahaman kepadaku, jika lingkungan menyemai penghargaan kepada sesama maka anak akan tumbuh dengan toleransi, dan sebaliknya ketika akar sudah disirami pupuk kemarahan dan kebencian akan perbedaan, hingga pohon itu siap dipetik, buahnya akan terasa kemarahan dan prasangka.

Belakangan ini saya tambah khawatir dengan perkembangan anak-anak di negeri ini. Perbedaan menjadi semakin runcing untuk dipertontonkan dan kata-kata provokatif menjadi sering untuk didendangkan. Urusan politik kemudian mengaburkan sisi kebaikan dari setiap manusia. Bayangkan jika para pemimpin kita kemudan terus berkicau najisnya perbedaan seolah menjadi sesuatu yang hina dan harus disucikan. Bayangkan bagaimana logika anak kemudian bekerja dan terekam menjadi memori jangka panjang dan berpengaruh kepada perilaku. Bisa jadi, sila Persatuan Indonesia akan menjadi sesuatu yang utopis dan hanya untuk dikenang.

Kita memang perlu diingatkan lagi akan makna persatuan, yang bukan berarti penyeragaman perbedaan menjadi satu, tetapi bagaimana kebhinekaan negara ini menjadi kesatuan Indonesia. Kita perlu berkaca kemabali kepada sejarah bangsa Indonesia. Negara ini dibangun bukan oleh satu dua suku, ras, golongan atau agama tertentu, tetapi kerelaaan semua golongan untuk menyepakati musuh bersama yaitu penjajah kala itu, kesediaan semua unsur golongan untuk membela kemerdekaan negeri, dan kesediaan berkorban para pendahulu untuk meredam egoisme golongan untuk meleburkan diri menjadi negara kesatuan Indonesia.

Perbedaan dalam pemilu hanyalah sedikit ujian dalam persatuan Indonesia. Dimulai dari dukungan fanatik atas nama golongan, atau menganggap calonnyalah yang paling layak untuk menjadi pemimpin yang kemudian berujung pada rasa kemarahan karena calonnya kalah atau prasangka kecurangan yang kemudian memancing permusuhan. Pada akhirnya kita kemudian harus lebih memaknai persatuan Indonesia itu sendiri, bisa jadi  dimulai dari sikap saling menghargai pilihan setiap warga negara, hingga akhirnya menghargai siapapun presiden terpilih meskipun berbeda dengan pilihan kita. Semangat persatuan Indonesia bisa jadi  meleburkan kepentingan pribadi untuk kesatuan negeri.

Kita harus belajar lagi dari anak kecil yang begitu cepat memaafkan, menerima sisi positif manusia walaupun lingkungan mengatakan banyak perbedaan, atau dengan tulus dan kasih sayang mengasihi sesamanya tanpa benci dan prasangka. Bayangkan jika kata-kata positif yang diberikan kepada mereka, maka anak-anak akan terus belajar hal-hal positif untuk masa depan mereka.

“Nak, orang itulah pemimpin negeri mu, sebagai presiden baru kita, walaupun ayah tidak memilihnya, tetapi ayah menghormati beliau sebagai presiden”

“ Saya memberikan selamat kepada pemimpin baru negara ini, walaupun saya tidak terpilih, tetapi demi bangsa dan negeri ini, saya siap ikut serta melakukan yang terbaik untuk negeri ini”

“ Nak, calon presiden Ibu memenangkan pemilihan presiden di negeri ini, tetapi bukan berarti calon yang satunya jelek, namun dalam pemilihan memang harus ada menang dan kalah, maka kita harus saling menghargai”

“ Nak, ingatlah persatuan Indonesia adalah hal yang harus kita junjung tinggi, musuh kita sekarang bukan penjajah lagi, tetapi musuh kita bersama adalah kebencian, prasangka, kemarahan, atau kepentingan pribadi yang dapat memecah persatuan, seperti apapun kamu kelak, jadilah anak yang menghargai dan menghormat perbedaan”

Indah dan bikin damai bukan, jika kata-kata menyejukan keluar dari orang dewasa di negeri ini. Untuk  para pahwalan yang meperjuangkan kemerdekaan dan persatuan, untuk generasi muda masa depan yang saling menghargai dan menghormati, dan untuk keutuhan bangsa Indonesia, mari bersama-sama kita memperjuangkan kebhinekaan tungal ika. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Dirgahayu Indonesia

* Enci:  Guru

* Kitorang : Kami

* So    : Sudah

Facebook Comments

About marliyanti

One comment

  1. Dewi Komalasari

    jangan tanamkan perilaku negatif pada anak-anak kita,,,, media

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif