Home » Insidental » Lomba Opini » [OPINI] Betapa Menariknya Jika Ada Indonesia Baru”

[OPINI] Betapa Menariknya Jika Ada Indonesia Baru”

logoKKlipKiranya memang pertumbuhan dan pembangunan ekonomi turut dirasakan oleh banyak kalangan, namun ini merupakan kenikmatan eksklusif yang dinikmati sebagian besarnya oleh kelompok kaya, baik dari segi industri, properti hingga penguasa. Kesannya bahwa ekonomi kartel benar-benar menikmati monopoli naiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia dari segi statistik maupun secara riil. Apalagi rasio gini yang tiap tahunnya semakin mendekati keangka 1 atau menunjukkan bahwa semakin timpangnya jurang kesenjangan pendapatan antara yang berpendapatan tinggi dan rendah. Entah apakah semakin banyaknya OKB (orang kaya baru) dari kalangan PNS atau POLRI/TNI yang mulai “disayang” oleh pemerintah dengan pemberian gaji dan bonusnya yang lumayan wah ataukah semakin banyak korupsi yang terjadi disetiap kantor-kantor pemerintahan , ataukah invasi warga-warga asing yang menguasai pasar Indonesia utamanya sebagian besar pasar hajat hidup seperti perusahaan minuman Aqua dari Danone Prancis, Nestle dari Swiss , belum lagi Unilever dari Inggris yang memproduksi Teh sariwangi hingga sabun dan pasta gigi, motor dan mobil yang dikuasai perusahaan Jepang ,Korea, Eropa,bahkan Cina dan India menancapkan pasarnya ke Indonesia, bank –bank Indonesia yang sudah dimiliki pihak asing, dan untuk pasar semen pun yang per regional dikuasai oleh pihak asing seperti Semen Cibinong dikuasai Holcim dari Swiss. Operator telepon juga mestinya merupakan sebagai penopang ketersediaan teknologi dan informasi sebagai capital untuk pengembangan pembangunan yang lebih maju mayoritas sahamnya dikuasai asing baik Indosat, XL sampai Telkomsel.

Walaupun PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia yang dilaporkan meningkat dari US$ 1.177 per kapita pada 2004 menjadi US$ 3.592 per kapita pada 2012, dan periode yang sama angka pengangguran terbuka turun dari 9,86 persen pada 2004 menjadi 5,92 persen hingga maret 2013, hingga angka kemiskinan yang turun dari 16,66 persen atau 37,2 juta orang pada 2004 menjadi 11,37 persen atau 28,07 juta penduduk yang dilaporkan miskin pada maret 2013 dan “economic growth” yang rata-rata tumbuh 5,5 persen per tahun medio 2004-2009 menjadi 5,9 persen per tahun dari 2009 sd juni 2013 (republica.co.id, 16/8/2013). Apa daya “history repeat itself”, kenyataannya angka-angka tersebut hanya dicapai secara statistik, yang terjadi secara riil di tengah masyarakat bahwa kondisi kemiskinan yang terjadi sangat parah, belum lagi lonjakan harga barang konsumsi yang naik tiap saat tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan mereka, bahkan petani hingga nelayan yang merupakan profesi asli negeri ini kini semakin miris nasibnya mereka pun bahkan harus bersaing dengan petani maupun nelayan dar negeri asing yang menjajakan produknya ke Indonesia bahkan dengan harga lebih murah dan kualitas yang katanya lebih baik.

Liberisasi investasi yang datang bak pintu terbuka melalui kebijakan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah ini seperti menegaskan bahwa kita kembali menjadi jajahan atau daerah koloni Negara lain, utamanya Negara Superpower yang bebas memasukkan dan memegang steer ide terhadap apa yang mesti dilakukan untuk pembangunan Negara kita. Mereka menghendaki kita bertumbuh dan berkembang secara lambat sesuai irama keinginan mereka ibarat metronome pengatur tempo suatu konser musik ,terserah mereka.  Padahal bukankah kita punya Boediono, wakil presiden sekaligus salah satu pakar keuangan terbaik Indonesia, juga ada Sri Mulyani, direktur World Bank yang merupakan salah satu orang berpengaruh di Dunia, tapi kenapa keadaan ekonomi rakyat kita masih menciptakan rakyat yang berteriak lapar, suatu daerah yang belum dialiri listrik, petani yang sengsara, buruh yang tercekik dengan gaji seadanya, dan masih banyak lagi masalah menarik lainnya.

Kita memang tidak bisa menampik bahwa dalam setiap keluarga pasti akan ada masalah, dan Indonesia sebagai suatu rumah tangga “plural” yang sangat besar tidak terlepas pula dari problem seperti itu, kita sangat membutuhkan pemimpin – pemimpin baru yang benar-benar peduli akan rumah tangga ini, yang betul tahu bagaimana mengatur rumah dengan segala kemajemukan ini agar setiap anggota keluarga terpenuhi segala kebutuhannya dan juga memberikan pula dampak positif kembali ke rumah kita semua.

. Terutama kalangan muda atau mahasiswa yang merupakan golongan yang sedang mengalami pertumbuhan dan yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima tanggung jawab sebagai orang-orang dewasa sepenuhnya dan kelak sebagai generasi selanjutnya untuk memimpin bangsa ini, mereka adalah salah satu kunci untuk merubah negeri ini, yang nampaknya masih dalam cengkeraman segelintir manusia penguasa yang seakan lupa daratan yang bersenang-senang dengan dunianya,benar-benar lupa akan Tuhan, mengedepankan kemewahan, pesta pora dari narkoba, alkohol, korupsi merajalela di hamper semua lingkup pemerintahan, amoral yang sungguh bobrok, sementara rakyat masih ada yang fakir sengsara padahal bukankah telah telah diatur bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara (Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945) , harga barang naik, inflasi keuangan yang tiap tahunnya naik menggila, yang menyebabkan rakyat bertanya dengan gusar ,bahwa dengan pemimpin manakah kita dapat berharap dengan pasti yang kami pilih dan memperhatikan kami bukan dengan hanya sekedar janji bualan sementara dengan iming-iming uang yang begitu mudahnya habis terpakai sesaat namun kemudian menderita ?

Sudah terlalu banyak masalah di negeri ini, dirumah yang kita cintai ini, korupsi dari pembelian daging impor, bawang, alat-alat simulator untuk tes SIM, ruang rapat hingga WC wakil rakyat mereka, tidak kurang juga kolusi dan nepotisme birokrasi untuk mempertahankan kekayaan dinasti keluarga maka mereka sedemikan rupa cara mempekerjakan anggota keluarganya tanpa malu adalah lagu lama yang susah dihilangkan, praktik persekongkolan bisnis kartel dengan birokrasi malah semakin menjadi – jadi, pasar-pasar dan toko-toko kecil telah ditumbangkan oleh pusat belanja modern besar dan toko retail yang berjamuran di tiap sudut jalan, belum lagi hukum yang katanya ringan keatas dan berat ke bawah dan bahkan diperjual-belikan dengan berbagai macam cara pembayaran dari rupiah, dolar, hingga suap seks, dan bahkan pemilihan umum kepala daerah yang telah dilaksanakan dengan menghabiskan banyak dana dan pada akhirnya tetap bermasalah hingga berujung konflik saudara ditanah sendiri demi kursi panas atas nama pemimpin daerah. Dan inilah semua hasil dari reformasi yang kita inginkan pada awalnya namun berjalan tidak sesuai dengan koridor yang tepat dan perlu banyak pembenahan yang benar sehingga tujuan reformasi yang mulia untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Menurut hemat penulis, Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) presiden dan pemimpin di era reformasi ini sejak tahun 2004 telah cukup banyak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk berbakti dan membangun Indonesia Semoga kedepannya pemimpin kita kelak adalah pemimpin harapan kolekftif kita semua yang membawa Indonesia menuju rumah Indonesia baru,sebaru-barunya,sebaik-baiknya !

 

 

 

Facebook Comments

About ryanalams

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif