Home » Insidental » Lomba Opini » [Opini] Menuju Indonesia Baru?

[Opini] Menuju Indonesia Baru?

logoKKlipSaya sengaja menambahkan tanda tanya pada tema lomba menulis opini ini. Maksud saya jelas, menuju Indonesia baru yang seperti apa? Temanya sangat luas. Namun, baiklah, tak perlu diperpanjang, mengingat, ruangnya hanya 1000 kata. Saya akan mencurahkan pemikiran saya dengan membahas kedalam dua topik; kira-kira seperti ini, (1) Indonesia baru yang lebih baik?, atau (2) Indonesia baru yang lebih buruk? Saya, terlebih dahulu, akan mengawali diskusi saya dengan mengulas ‘menuju Indonesia yang lebih buruk’.

Tampaknya masih sangat sulit, dalam waktu dekat ini, kita bisa menyaksikan Indonesia menjadi lebih baik. Beberapa bulan lalu, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, memprediksi bahwa tidak akan ada perubahan berarti paska pemilu 2014. Argumen ini berdasar pada analisisnya ketika melihat daftar calon yang masih didominasi wajah-wajah lama. Bahkan, dengan sangat dingin, Zuhro menghakimi ‘..[m]asa demokrasi bukan semakin baik, dan berkualitas, justru bencana korupsi yang luar biasa … jadi, siap-siap untuk menciptakan korupsi-korupsi baru setelah pemilu 2014’ (jaringnews.com, 23/4/2013).

Tak kalah menariknya, analisa dari Agus Hilman, mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UI, melihat bahwa para calon masih menggunakan teknik klasik, pseudo-populis dan politik uang. Dengan teliti, Hilman memotret celah-celah sempit yang digunakan oleh para calon peserta pemilu dalam berbuat curang. Kedok busuk yang disingkap Hilman di sini adalah dengan dalih kemanusiaan, melakukan gerakan kemanusiaan pada korban bencana. Dalam studinya Hilman, cara ini sangat efektif untuk mengeruk suara, dan setelah menang, selamat tinggal pemilih. Tidak hanya Hilman, cara busuk ini juga dibeberkan oleh peneliti international Arjen Boin dan Paul Hart dalam menjelaskan hubungan bencana dengan popularitas di Belgia. Menurut mereka cara ini sangat murah dan efektif. Pseudo-populis ini sudah terlihat di Indonesia wilayah timur, Manado. Beberapa calaon anggota legeslatif di sana menyusupkan kampanye mereka dengan mengadopsi tren yang sedang berlangsung, mencetak jadwal piala dunia lengkap dengan foto mereka (lih. tempo.co, 23/12/2013).

Selain itu, kasus kekerasan sangat mungkin terulang lagi. Beberapa hari lalu, di Jombang dan Surabaya, telah muncul aksi itu. Berawal dari pelanggaran perjanjian antar partai, akibatnya, simpatisan salah satu partai menggunakan kekerasan. Beberapa baliho yang dipasang, dirusak oleh oleh salah satu simpatisan tersebut. Proses hukum kembali dialpakan. Mungkin inilah juga perlu untuk menjadi perhatian.

Sedikit menengok kebelakang, perjalanan demokrasi kita dibangun dengan ceceran darah. Proses pendirian negara republik (yang katanya demokrasi ini) memakan ratusan bahkan jutaan jiwa. Sukarno dan para pendiri bangsa menjadi saksi itu. Meski sekarang mereka terbungkam. Pada tahun 1965, ketika RI, sebuah negara yang baru belajar demokrasi, merangkak untuk saling beradu argumen dan idiologi, namun sayangnya, kekuatan senjata melibas lebih dari sejuta nyawa warga Indonesia. Hanya berdalih, Idiologi tak ber Tuhan, Komunis. Maka, orang-orang yang tak memahami duduk perkara sebenarnya harus memilih antara dua; anti-komunis atau mati!

Cucuran darah terus mengalir menggenangi negara bersimbol Garuda ini. Kejadian berdarah Tanjung Priuk, Poso, tragedi dukun santet, Sampit, kekerasan bulan Mei, Semanggi, Trisakti, Situbondo, Sambas, Ketapang Maluku dan banyak lagi lainya, menunjukan bahwa sejarah kekerasan itu masih melekat dalam ingatan kita. Tak heran jika historian Freek Colombijn & J. Thomas Lindblad, dalam bukunya Roots of Violence in Indonesia, menganugerahi bangsa ini dengan sebutan ‘Violent Country‘.

Dari sisi perekonomian, mungkin kita juga harus jujur bahwa posisi kita masih sangat rentan. Perekonomian kita masih bertatih-tatih dan sangat dipengaruhi  kebijakan-kebijakan dari pihak eksternal, luar negeri. Saat ini saja, mata uang kita tergerus sampai Rp 12 ribu/ 1 US $. Padahal, banyak dari masyarakat kita yang tidak tahu asal muasalnya, mengapa tiba-tiba nilai rupaih naik atau turun. Asumsi seperti ini juga dilontarkan oleh Jaya Yuke Yurike, anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Namun, meski begitu, Yurike menekankan bahwa masyarakat kecil merupakan penopang utama perekonomian Indonesia. Untuk itu, perlulah investasi negara supaya selalu memperhatikan mereka dengan cara memberikan kelonggaran liquiditas pada mereka. Akan tetapi, peran negara sangat tidak memungkinkan pada situasi tertentu, misal dalam tekanan ekonomi akibat kebijakan dari pihak luar. Maka negara harus mengetatkan likuiditas. Artinya, masyarakat yang tak paham maksud apapun ini dibiarkan temggelam dalam amukan badai krisis. Masyarakat lemah, negarapun lumpuh.

Hal seperti ini sangat mungkin terjadi, menyusul paska pemiliu 2014. Situasi ini pernah diingatkan oleh Ndiamé Diop, world bank lead economist. Diop, setahun lalu pernah berstatemen bahwa pemilu 2014 pasti akan menjadi sorotan kebijakan internasional. Diperkuat dengan pernyataan serupa, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle, mewanti-wanti kaum bisnis Indonesia untuk tidak berpuas diri. “Outlook ekonomi dunia masih dibayangi ketidakpastian dan rentan terhadap tekanan-tekanan.” (lih. swa.co.id, 25/12/2012). Mungkin situasi inilah yang agaknya tepat untuk menafsirkan pesan dari Prof. Emeritus Dorodjatun Kuntjoro Jakti, yang pada intinya mengajak warga negara Indonesia perlu untuk memilih presiden yang bisa diajak untuk take off bersama 10 tahun lagi.

Meskipun dengan sangat brutal, saya mencoba menggambarkan bahwa ‘menuju indonesia menjadi lebih baik pasca pemilu 2014 adalah sangat sulit. Berbagai alasan telah saya tuangkan, meski dengan sangat minimalis.

Namun begitu, saya juga tidak mau membawa pembaca yang budiman tenggelam dalam pesimisme. Saya hanya berusaha menunjukan apa yang seharusnya kita pikirkan bersama. Dan sekali lagi, saya juga tidak mau masyarakat kita tenggelam kedalam euforia dunia yang lebih baik, namun gagap menghadapi pahitnya kenyataan.

Terkait dengan pembahasan yang kedua ‘menuju Indonesia yang lebih baik’, jujur, saya juga masih sangat optimis. Namun, rasa percaya diri saya itu harus dibayar dengan situasi yang bertolak belakang dengan nukilan fakta yang saya gambarkan di atas.

benn :)

 

 

Facebook Comments

About benn

11 comments

  1. great article

  2. katedrarajawen

    Menarik Pak Benn, bila haru memilih maka saya akan memilih Indonesia baru dalam hal baik….untuk waktu dekat memang sulit, tp lima atau sepeuluh tahun akan mulai ada harapan. Kalau Jokowi atau Ahok diberi kesempatan saya yakin akan mulai terbuka Indonesia baru

    • bung katedrarajawen, sepertinya memang begitu. Setidkaknya, fakta saat ini memang menunjukan bahwa kita memang perlu bergandeng bersama, membangun menjadi lebih baik. Siapapun presidenya, asal rakyat tetap bisa berkuasa, mungkin itulah suatu pratanda menjadi lebih baik :)

  3. Mantab.. mantab… Semakin lancar dan teratur tulisan Bung Benn…
    Aloo, masih berlibur di Bangkok kah? Ah, kupikir dirimu selalu beruntung (atau malah buntung), setiap ke Bangkok, selalu terjadi aksi-aksi besar, termasuk dulu saat bandara diduduki para demonstran..

    Ayo, kutunggu dirimu di Yogya, Bung!

    • Thanks mas Odi :) hehe ya… bener banget mas… beberapa kawan bahkan bilang ‘jangan2 akulah dalang semua itu’ hehehe

      Siap mas, ku usahakan nongkrong di Jogja secepatnya, dah kangen hehehe :)

  4. “menuju indonesia menjadi lebih baik pasca pemilu 2014 adalah sangat sulit.”

    Memanag, saya sangat setuju dengan pernyataan Anda.

    Tapi toh, mana ada yang mudah untuk berubah menjadi lebih baik? Semuanya tidak mudah. Pasti ada tantangan yang siap menghadang. Selalu.

    Peran paling mudah dapat kita lakukan pada Pemilu 2014 besok. Menjadi pemilih yang cerdas.

    Sederhana bukan?

    • Aih.. maaf aku baru buka blog ku. Terimakasih telah mampir di lapak ku bung khulqi :)

      ‘Menjadi pemilih yang cerdas’… emm… kalau pilihan orang Indonesia selama ini belum memiliki hasil maksimal, apa mungkin para pemilih selama ini ‘tidak cerdas’? :)

  5. Sepertinya tidak sempat masuk lomba opini. Sayang sekali. Saya kurang familiar dengan cara memasukkan tulisan ini.

    Tapi tak apalah. Tak ada salahnya berbagi.

    https://ketikketik.com/lain-lain/2013/12/31/opini-memimpin-memilih-pemimpin.html

    Regards,
    @KhulqiR

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif