Home » Insidental » Lomba Opini » [OPINI] Potret Wajah Pendidikan di Indonesia

[OPINI] Potret Wajah Pendidikan di Indonesia

logoKKlip

Assalamualaikum wr wb.

Pada kesempatan kali ini, saya atau penulis akan mengeluarkan seluruh pendapat saya mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Saya bukan mencari-cari kekurangan pendidikan bangsa ini, tetapi untuk mengingat kembali masalah-masalah yang pernah terjadi di tanah air untuk dapat kita perbaiki bersama.

Berbicara mengenai “Menuju Indonesia 2014”, tentu banyak faktor-faktor penghambat yang mesti diperbaiki di Indonesia. Menurut saya, dari sekian banyaknya faktor penghambat tersebut, permasalahan pendidikan adalah salah satu faktor utama penghambat suatu Negara berkembang seperti Indonesia untuk menjadi Negara maju. Di Indonesia, pendidikan memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Masalah pendidikan menjadi hal yang menarik untuk selalu diperbincangkan. Pendidikan merupakan gerbang utama dan pertama yang harus dilewati suatu Negara untuk menuju Negara maju. Pendidikan juga menjadi tolak ukur dari suatu Negara, apakah Negara tersebut maju atau berkembang. Apabila kualitas pendidikan suatu Negara itu bagus, maka calon-calon pemimpin bangsa juga akan cemerlang seperti yang kita harapkan. Mereka inilah gerbang keduanya. Jadi, apabila gerbang utama rusak, maka akan rusak pula gerbang selanjutnya. Begitu juga sebaliknya. Karena, pada faktanya tugas pendidikan adalah untuk menciptakan kader-kader bagi bangsa indonesia untuk hal pembangunan.

Menurut saya, pada tahun 2013 ini, cukup banyak yang mesti diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia. Berikut ini akan saya jelaskan secara singkat dan padat hal-hal apa yang harus diperbaiki dan diperhatikan pemerintah dalam sistem pendidikan di Indonesia sehingga terwujudnya Indonesia yang lebih baik.

1. Ujian Nasional atau UN di Indonesia.

Ujian nasional tidak lagi menimbulkan efek positif kepada siswa, guru sampai kepala sekolah. Malah sebaliknya. Pastinya pihak sekolah sangat ingin untuk mempertahankan citra sekolahnya. Apabila ada satu siswa yang tidak lulus, ini akan menimbulkan efek yang besar buat sekolah, untuk itu banyak cara-cara yang mestinya tidak dilakukan sekolah untuk mensukseskan ujian nasional. Hal yang lumrah yang sudah mengatmosfir yaitu bimbel, banyak sekali siswa-siswi yang masuk bimbel, hanya untuk mendapatkan kunci. Walaupun tidak semua bimbel yang memberikan. Dilain sisi, siswa-siswi yang benar-benar belajar tidak ada cara lain untuk lulus selain dengan cara belajar. Namun tak semua siswa-siswi yang masuk dalam kategori tersebut. Karena kebanyakan dari siswa-siswi kita adalah nilai oriented, yaitu berusaha hanya untuk mendapatkan nilai yang tinggi dengan berbagai macam cara, apapun itu. Sampai hal yang sejatinya tidak perlu dilakukan oleh guru yaitu memberikan kunci jawaban kepada semua siswanya  dan konon kabarnya, ada sekolah-sekolah yang sampai membentuk “tim sukses” untuk mensukseskan UN, dengan membantu siswa agar lulus. Semua hal itu dilakukan hanya demi sebuah kelulusan. Maka tak salah cetakan sistem pendidikan kita sekarang akan melahirkan sosok pemimpin rakyat yang tidak amanah dan korupsi. Ditambah rendahnya kualitas kertas ujian yang mudah sobek dan keterlambatan pendistribusian soal-soal ke sekolah-sekolah di beberapa provinsi atau kota, seperti Bogor, Sumatera Utara, Bali, NTT, NTB dan lain-lain. Menyebabkan tingginya tingkat kebocoran soal bagi daerah-daerah yang belum mendapatkan soal. Itu semua harus menjadi baham perhatian yang tinggi bagi pemnerintah.

2. Sarana dan Prasarana Sekolah.

Tidak lengkapnya sarana dan prasarana masih menjadi masalah utama bagi setiap sekolah di Indonesia. Padahal sarana dan prasarana merupakan penunjang proses pembelajaran yang mempunyai pengaruh besar terhadap output pembelajaran pada siswa. Sarana dan prasarana di daerah-daerah yang terpencil atau desa sangat berbeda jauh dengan yang di kota. Kasus seperti ini akan menimbulkan kesenjangan mutu pendidikan. Cukup banyak sekali peserta didik di daerah yang terpencil yang tidak bisa menikmati sarana dan prasaranan yang ada di kota. Selain itu masih banyak sekali fasilitas-fasilitas sekolah yang tidak memenuhi standard an tidak layak pakai. Kalau boleh jujur, di daerah saya di Pekanbaru cukup banyak fasilitas-fasilitas yang tidak layak pakai. Khususnya pada tingkat SMP. Minimnya sarana dan prasarana akan menimbulkan efek negative bagi siswa. Karena, bakat dan minat siswa tidak akan tersalurkan secara penuh, dan para pelajar akan mengalokasikan kelebihan waktunya untuk hal-hal negatif. Perawatan yang buruk adalah salah satu faktornya. Sikap acuh tak acuh dari semua komponen sekolah dan kurangnya pengawasan pemerintah mengakibatkan buruknya sarana dan prasarana sekolah. Ditambah lagi alokasi dana yang terlambat dan penyalahgunaan dana administrasi sekolah. Ini hal yang sering kita lihat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini akan membuat semakin lambatnya titik keberhasilan pendidikan di sekolah tersebut.

3. Kesenjangan Pendidikan.

Hal ini terlihat jelas dengan adanya perbedaan kualitas pendidikan di desa dan di kota. Banyak sekali anak-anak desa yang tidak sekolah dengan alasan tidak ada sekolah dan biaya yang mahal. Mereka lebih senang membantu orang tua mereka bekerja daripada belajar dengan biaya mahal. Padahal menurut UUD 1945 Pasal 31 (1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Tetapi, bagaimana dengan faktanya sekarang? Tidak hanya di desa, di kota saja masih sangat banyak anak-anak yang tidak sekolah. Padahal mereka adalah bibit-bibit penggerak bangsa di masa depan nanti.

4. Mahalnya Biaya Pendidikan.

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. mahalnya biaya pendidikan menyebabkan banyaknya anak putus sekolah karena tidak mampu menjangkau biaya yang tinggi. Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 yang mengatur tentang sistem pendidikan nasional, terutama dalam pasal 36 dalam ayat 1, 2 dan 3 dan Pada ayat 1 disebutkan biaya penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggungjawab pemerintah. pada ayat 2 disebutkan biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi tanggungjawab badan/perorangan yang meyelenggarakan satuan pendidikan. Kemudian pada ayat 3 disebutkan bahwa pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Apakah ini berjalan dengan baik?

5. Penerapan E-learning.

E-Learning  berarti pembelajaran dengan bantuan teknologi atau perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer atau internet. Dengan adanya metode e-learning, siswa tidak hanya sebagai pendengar, tetapi juga pembicara dan pemikir dalam proses KBM. Karena fokus utama e-learning adalah pelajar. sehingga timbul feedback yang baik antara pengajar dan pelajar atau antara guru dan siswa. Cara itu dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat elektronika seperti ; Handphone dan laptop. Dengan adanya perangkat tersebut siswa atau guru dengan mudah berselancar di internet dan mengakses materi-materi pembelajaran secara lengkap dan cepat sebagai bahan tambahan maupun pelengkap. Siswa akan lebih kreatif, mandiri, berusaha, inisiatif, bertanggung jawab dan pastinya memainkan peran dalam proses KBM. Wawasan guru dan siswa juga akan bertambah secara tidak langsung disebabkan banyaknya variasi-variasi materi yang disediakan oleh internet. Selain itu, pada waktu diluar KBM siswa dan guru dapat dengan mudah mengulang materi dan berinteraksi satu sama lain walapun tidak bertatap muka. Banyak sekali manfaat-manfaat yang diberikan oleh sistem e-learning.

Jadi, dapat saya simpulkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Faktor-faktor seperti sarana prasarana sekolah, biaya pendidikan dan kesenjangan pendidikan merupakan penghambat keberhasilan pendidikan di Indonesia. Pada pemilu presiden 2014 nanti, tidak perlu siapa yang akan menang, dari mana asalnya, dan apapun suku dan warna kulitnya, hal yang terpenting adalah bagaimana masalah-masalah pendidikan di Indonesia yang saya sebutkan tadi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi mereka. Dan pada akhirnya berhasil menciptakan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini kita idam-idamkan. Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan penuh potensi untuk menjadi Negara maju. Pendidikan yang baguslah akan membuat generasi-generasi muda kita nanti akan menjadi motor penggerak bangsa di masa depan.

Facebook Comments

About pmmikhbal

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif