Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Pengakuan Mantan Agen CIA tentang ‘Pembersihan’ PKI

Pengakuan Mantan Agen CIA tentang ‘Pembersihan’ PKI

Logo CIA, sumber Wikipedia

Logo CIA, sumber Wikipedia

Di internet, ada banyak informasi penting dan bersifat rahasia yang sudah dibuka, bahkan yang dulunya bersifat sangat rahasia. Namun kita masih kesulitan untuk memahaminya. Salah satu penyebab kesulitan itu adalah kurangnya kemampuan kita dalam memahami bahasa Inggris.

Meskipun saat ini sudah tersedia mesin penerjemah otomatis, namun sering kali hasil terjemahannya malah membuat kita pusing, karena hasil terjemahan itu, tata bahasanya tunggang balik, dan terlalu ‘apa adanya’.

Sejalan dengan itu itu, saya coba untuk menerjemahkan sebuah karya tulis berbahasa Inggris yang membahas masalah keterlibatan CIA dalam operasi penghapusan PKI.

Harapannya adalah, semoga kita makin bersemangat memahami salah satu bahasa asing , hingga makin banyak ilmu yang dapat diserap. Mari.

***

Tulisan berikut adalah terjemahan, dan ringkasan dari sebuah artikel di surat kabar San Francisco Examiner edisi 20 Mei 1990 yang bertitel : CIA Compiled Indonesian Death Lists in 1965, ditulis oleh Kathy Kadane.

Diterjemahkan dan diringkas oleh : Bang Pilot.

“Dalam waktu empat bulan, jumlah orang yang mati (anggota PKI-pen) di Indonesia lima kali lebih banyak dibanding jumlah orang yang mati di Vietnam (sepanjang perang Vietnam vs Amerika Serikat-pen).
Padahal perang Vietnam itu berlangsung selama dua belas tahun”. (BERTRAND RUSSELL).

***

CIA Menyusun Sebuah Daftar Maut di Indonesia pada Tahun 1965

Robert J. Martens, seorang mantan diplomat senior merangkap agen CIA, membuat pengakuan tentang sebuah informasi penting yang dirahasiakan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) selama 25 tahun.

Mereka (CIA) selama dua tahun telah mengumpulkan daftar yang berisi lebih dari 5.000 orang pejabat teras PKI, mulai pimpinan pusat sampai koordinator tingkat desa se-Indonesia. Setelah G30S-PKI meletus, daftar itu sebahagian demi sebahagian diserahkan kepada seorang utusan pihak tentara. Kemudian CIA bersama tentara mengkaji daftar itu, siapa saja yang masih hidup, siapa yang sudah ditangkap dan yang sudah dieksekusi.

Robert J. Martens mengakui bahwa ketika itu pemerintah AS ikut memainkan peranan penting dalam pembantaian terburuk di abad 20 itu, dengan menyediakan daftar nama itu.

“Itu benar-benar adalah bantuan besar kepada tentara (TNI)”, kata Robert J. Martens , mantan anggota bagian politik Kedutaan Besar AS yang kini menjadi konsultan untuk Departemen Luar Negeri . “Mereka mungkin membunuh banyak orang , dan aku mungkin memiliki banyak darah di tanganku, tapi itu tidak semuanya buruk . Ada saat ketika Anda harus memukul keras pada saat yang menentukan”.

Pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah bagian dari upaya pemerintah AS untuk memastikan bahwa Komunis tidak akan berhasil menanamkan kekuasaannya di negara terbesar di Asia Tenggara , di mana Amerika Serikat sudah terlibat dalam perang rahasia di Vietnam. Indonesia adalah negara yang paling padat penduduknya ketika itu, terpadat  kelima di dunia .

Ada pun juru bicara Gedung Putih dan juru bicara Departemen Luar Negeri AS menolak mengomentari pengungkapan itu.

Meskipun mantan wakil kepala stasiun CIA Joseph Lazarsky dan mantan diplomat Edward Masters , yang juga adalah bos Martens, mengakui bahwa agen CIA berkontribusi dalam menyusun daftar kematian, juru bicara CIA Mark Mansfield mengatakan , “Tidak ada substansi tuduhan bahwa CIA terlibat dalam persiapan dan/atau distribusi daftar yang digunakan untuk melacak dan membunuh anggota PKI . Ini sama sekali tidak benar”.

Juru bicara Kedutaan Besar Indonesia Makarim Wibisono mengatakan ia tidak memiliki pengetahuan pribadi peristiwa yang dijelaskan oleh mantan pejabat AS itu . “Dalam hal memerangi kaum Komunis, sejauh yang saya ketahui, rakyat Indonesia berjuang sendiri untuk membasmi kaum Komunis”, katanya.

Ketika itu, PKI adalah Partai Komunis terbesar ketiga di dunia, dengan sekitar 3 juta anggota. Melalui organisasi-organisasi afiliasinya seperti kelompok tenaga kerja dan kelompok pemuda, PKI mengklaim loyalitas 17 juta anggota lainnya .

Pada tahun 1966, Washington Post menerbitkan sebuah estimasi bahwa 500.000 orang tewas dalam pembersihan saat perang saudara singkat itu . Dalam laporan tahun 1968 , CIA memperkirakan telah terjadi 250.000 kematian , dan itu disebut pembantaian.

“…..salah satu pembunuhan massal terburuk di abad ke-20”.
Persetujuan untuk merilis 5.000 nama-nama itu dilakukan oleh pejabat Kedutaan Besar AS level atas, termasuk mantan Duta Besar Marshall Green, wakil kepala misi Jack Lydman dan kepala bagian politik Edward Masters. Ketiganya mengakui hal itu dalam wawancara.

Mantan Direktur CIA William Colby , dalam sebuah wawancara mengakui bahwa penyusunan daftar maut itu dilakukan atas inisiatif dirinya. Operasi intelijen untuk mendapatkan data itu sendiri dinamakan ‘Operasi Phoenix’.

Selain berisi nama para pejabat teras PKI, daftar itu juga memuat nama-nama para pemuka organisasi onderbouw PKI, seperti PR (Pemuda Rakyat), SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), BTI (Barisan Tani Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) dan lainnya

“Saya tahu bahwa kami memiliki informasi lebih banyak tentang PKI daripada orang Indonesia sendiri, ” kata Martens.

Daftar itu diserahkan sedikit demi sedikit kepada seorang utusan dari Indonesia, dimulai dari daftar nama pentolan PKI level atas. Sang utusan itu sendiri aslinya adalah seorang pembantu Adam Malik, yang kala itu menjabat sebagai menteri di Indonesia. Adam Malik merupakan sekutu dekat Soeharto dalam operasi pembasmian Komunis.

Diwawancarai di Jakarta, Tirta Kentjana (”Kim”) Adhyatman, menegaskan ia telah bertemu dengan Martens dan menerima daftar ribuan nama , yang pada gilirannya ia memberikan kepada Adam Malik. Adam Malik meneruskannya ke markas Soeharto di KOSTRAD.

Adapun informasi tentang siapa yang telah ditangkap dan dibunuh, diambil oleh CIA dari markas Soeharto, untuk bahan analisa. Hal ini dikatakan oleh Joseph Lazarsky, wakil kepala stasiun CIA di Jakarta pada tahun 1965. Markas Soeharto di Jakarta adalah tempat pengumpulan pusat laporan militer dari seluruh negeri, yang merinci penangkapan dan pembunuhan pemimpin-pemimpin PKI, kata Lazarsky .

“Kita mendapatkan laporan yang jelas di Jakarta tentang siapa yang dijemput”, kata Lazarsky. “Tentara sendiri juga memiliki ‘daftar penembakan’ lain, berjumlah sekitar 4.000 atau 5.000 orang”.

Di markas Soeharto, saat itu dibuat sebuah pusat penahanan. Pusat penahanan dibentuk untuk menahan mereka yang tidak segera dibunuh .

“Mereka tidak punya cukup tentara untuk menangkap dan membinasakan mereka semua, dan beberapa orang masih berharga untuk diinterogasi”, kata Lazarsky. Hal ini membuat kami bersemangat untuk meminjam beberapa dari mereka untuk kami interogasi. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mereka (PKI) rencanakan.

Soeharto dan penasehat-penasehatnya berpesan agar orang yang ‘dipinjam’ itu diberi makan selagi mereka masih hidup.
Masters , kepala bagian politik CIA, mengatakan , “Kami memiliki daftar ini, yang juga dibangun oleh Martens, dan kami menggunakannya untuk memeriksa apa yang terjadi pada partai, dan apa efek dari pembunuhan itu.

Lazarsky mengatakan, pemeriksaan daftar, dan analisa tentang efek tindak lanjutnya oleh tentara , juga dilakukan di direktorat intelijen CIA di Washington.

Pada akhir Januari 1966, setelah nama-nama yang ditangkap dan dibunuh diperiksa, banyak analis CIA di Washington menyimpulkan bahwa kepemimpinan PKI telah hancur.

“Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, mereka harus dibantai”, kata Howard Federspiel, yang di tahun 1965 adalah ahli Indonesia di Biro Intelijen dan Riset Departemen Luar Negeri CIA.

Dalam upaya perburuan anggota PKI itu, CIA atau pemerintah AS memberikan bantuan berupa dana, radio panggil lapangan khusus frekwensi tinggi jenis Collins KWM, kendaraan jeep, borgol dan senjata ringan untuk membunuh dari jarak dekat.

Dahsyatnya, seluruh pembicaraan tentara lewat radio panggil bantuan CIA itu, disadap dan dipantau oleh CIA.

Facebook Comments

About bang pilot

4 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Sejarah adalah pelajaran untuk masa kini dan masa depan

  2. waaw, bisa masuk menjadi dokumen rahasia nih artikeel. good :D

  3. Yes, Mas Romi.
    Sajarotun sendiri berarti pohon.

    Trims sudah singgah dan meninggalkan jejek.

  4. Mas Wildan, kalo udah gene, ya gak rahasia lagee….
    Hehehe… salaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif