Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Informasi » Pemerintahan dan Militer » Balada Tenaga Honorer

Balada Tenaga Honorer

Rekrutmen calon pegawai negeri sipil dari tenaga honorer kategori dua (K2) hingga kini masih menyisakan masalah. Banyak nama yang tidak pernah masuk dalam daftar K2 tiba-tiba diusulkan pemerintah daerah untuk mengikuti seleksi CPNS khusus K2. Akibatnya, ditengarai ada nama yang tidak pernah menjadi tenaga honorer tiba-tiba diangkat menjadi CPNS dengan menggunakan jalur tenaga honorer K2. Pada saat yang sama, ratusan ribu tenaga honorer yang sudah puluhan tahun bekerja justru tidak lolos.

Tenaga honorer dalam sejarah birokrasi tanah air menjadi bagian yang tidak terpisahkan Tenaga honorer merupakan buah simalakama ayang jatuh dari pohon birokrasi masa lalu. Pada masa lalu, menjadi CPNS selalu dimulai dengan menjadi tenaga honorer.

Harapan untuk dapat diangkat menjadi CPNS menyebabkan banyak orang mau bekerja rodi menjadi tenaga honorer dengan gaji yang tidak layak untuk menghidupi keluarga. Ironisnya, kondisi ini dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah tanpa tindakan yang nyata. Bahkan pemerintah baik pusat maupun daerah selalu melahirkan tenaga honorer baru untuk program-program baru.

Pemerintah pusat menamakan tenaga pendamping atau penyuluh untuk program-program pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah. Oknum-oknum di pemerintah daerah juga terus menciptakan tenaga honorer untuk memberikan lapangan kerja kepada keluarga besarnya. Jika kita mau mencermati pola kekerabatan dalam birokrasi daerah maupun pusat, pasti akan muncul benang merah nepotisme ini.

Kebutuhan formasi pegawai baik CPNS maupun honorer cenderung mengutamakan jabatan fungsional umum atau pegawai administrasi belaka. Kebutuhan yang lebih penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air sengaja dilupakan. Di daerah terpencil masih cukup banyak sekolah dasar negeri yang hanya memiliki tiga sampai dengan empat guru PNS. Kondisi ini menyebabkan mau tak mau kepala sekolah harus mencari tenaga honorer sendiri untuk mengajar di kelas. Sementara itu pada saat yang sama banyak PNS kategori administrasi yang menganggur di instansi pemerintah.

Rekrutmen tenaga honorer oleh instansi pemerintah juga dilatarbelakangi rendahnya kualitas PNS yang ada. Mereka menderita penyakit TBC (Tak Bisa Computer), Kudis (Kurang disiplin, Kurap (Kurang rapi), dan Kutil (Kurang teliti). Para PNS yang memakan gaji bulanan dari rakyat ini tak bisa diberdayakan maksimal untuk mencapai tujuan organisasi. Sehingga untuk jalan pintas direkrutlah tenaga honorer yang memiliki kompetensi dalam bekerja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tenaga honorer akan bekerja lebih giat dari PNS yang sulit dipecat oleh negara meskipun hanya menjadi pengangguran di kantor.

Jadi, memang negara ini memang seolah-olah tak bisa hidup tanpa dukungan tenaga sukarela dari para honorer. Anak-anak dari daerah terpencil masih bisa mendapatkan ilmu di sekolah karena ada tenaga sukarela alias honorer yang siap berbagi ilmu. Di instansi pemerintah yang masih “gaptek” keberadaan tenaga honorer yang terampil teknologi informasi juga masih dibutuhkan.

Salahkah jika pemerintah akan mengangkat para tenaga honorer menjadi CPNS ? Dalam situasi darurat birokrasi seperti saat ini tentu tidak salah. Asalkan melalui prosedur yang benar dan tidak asal-asalan seperti yang terjadi saat ini.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Tenaga honorer yang menurut data masih tersisa kurang lebih 600.000 orang pada tahun 2013 dengan terpaksa harus tetap diangkat. Karena memang tidak ada tolok ukur yang pasti untuk tidak meloloskan mereka menjadi CPNS. Kecuali bagi mereka yang memang memalsukan data pribadi agar tercatat sebagai honorer harus dihapuskan dari daftar honorer.

Merdeka.com, 27 Februari 2014 memberitakan bahwa Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berjanji bakal mengangkat semua tenaga honorer Kategori II (K-II) menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pengangkatan akan dilaksanakan secara bertahap dengan koordinasi bersama Pemda. Azwar mengatakan dalam perekrutan honorer K-II akhir tahun lalu, baru 30 persen peserta yang diterima. Peserta yang belum diterima diminta tenang karena akan diangkat secara bertahap.

Setelah pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS ini ada agenda besar pemerintah yang harus dilakukan yaitu memaksa pensiun dini bagi PNS yang sudah tidak produktif lagi dalam bekerja. Penulis yakin jumlahnya akan mencapai 80 – 90 % dari PNS yang ada. PNS yang sudah tidak produktif lagi dalam bekerja ini akan digantikan oleh PNS baru atau Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebagaimana amanah Undang-undang Aparatur Sipil Negara 2014.

Pemerintah perlu melakukan analisa beban kerja untuk mengukur kebutuhan formasi yang ada. Pekerjaan yang bersifat administrasi belaka tentu tak perlu diisi oleh banyak orang. Sementara itu, untuk pekerjaan keahlian dan bersifat aplikatif di lapangan jangan sampai kekurangan sumber daya manusia yang memadai. Dengan kata lain melakukan transformasi linier mengubah sumber daya manusia yang bekerja secara administratif belaka menjadi keahlian dan aplikasi yang nyata di lapangan.

Selain itu, komposisi Aparatur Sipil Negara (ASN) harus terdiri dari 30 % PNS dan 70 % PPPK dalam rangka mengamankan kinerja birokrasi. Komposisi ini perlu dilakukan untuk menghilangkan zona aman dan nyaman yang membuat PNS selama ini menjadi “Pegawai Nyantai Sekali”. Tujuh puluh persen PPPK tentu akan bisa bekerja secara maksimal karena akan diputus kontrak kerjanya jika tidak memenuhi target. Tiga puluh persen PNS diharapkan merupakan manusia pilihan dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai.

Inilah tahapan yang harus dilalui untuk menyembuhkan birokrasi gendut yang sedang sakit. Langkah ekstrim tak bisa serta merta dilakukan tanpa tahapan yang jelas. Mengangkat semua tenaga honorer yang tersisa, menelaah ulang sumber daya manusia yang ada, dan menggantikan dengan yang lebih baik merupakan suatu keniscayaan. Jika tidak, birokrasi kita akan mengalami cacat permanen yang menuntun kepada kematian.

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

2 comments

  1. katedrarajawen

    ini memang ada hubungan sebab akibat ya, keadaan ini mestinya membuat tenaga honorer meningkatkan kemampuan sehingga dapat menaikan statusnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif