Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Informasi » Pemuda dan Olahraga » Anak Muda dalam Sejarah: Terjebak Nilai Tunggal Otoritarianisme

Anak Muda dalam Sejarah: Terjebak Nilai Tunggal Otoritarianisme

Sejarah Indonesia dipenuhi dengan cerita keterlibatan anak muda secara aktif dalam perjuangan bangsa, sejak dari pertumbuhan kesadaran berbangsa pada awal tahun 20-an sampai kemerdekaan. Gerakan-gerakan dan partisipasi pemuda pascakemerdekaan juga meningkat pesat, ditandai dengan bermunculan dan berkembangnya berbagai organisasi kepemudaan, baik non-partisan maupun partisan. Namun, setelah peristwa ’65, nasib gerakan pemuda tidak berbeda jauh dengan nasib gerakan perempuan maupun gerakan progresif lainnya; mereka dihancurkan secara sistematis seiring dengan kemunculan Orde Baru (Orba).

Setelah membungkam gerakan pemuda yang dianggap berafiliasi dengan PKI, Orba–yang berhasil menumbangkan Orde Lama (Orla) antara lain dengan bantuan mahasiswa—bergerak untuk membungkam sekutu mudanya agar tidak menjadi ganjalan bagi pembangunan ke depan. Jika dalam menghancurkan Orla anak muda dianggap sebagai kawan, maka agar pembangunan berjalan lancar justru kawan muda ini haruslah tertib dan patuh, supaya perilaku kritis mereka tidak menghambat pembangunan. Tentu tidak mudah pada awalnya untuk menertibkan kawan sendiri, apalagi ketika itu Orba menampilkan dirinya sebagai orde yang menawarkan sesuatu yang baru, demokratis, dan pancasilais.

Pada awal masa Orba, gerakan kepemudaan sudah berhasil dibungkam, namun pemikir-pemikir muda yang berbasis di kampus masih bersuara kritis. Mereka, yang awalnya menjadi kawan Orba, mulai bersikap kritis terhadap berbagai isu seperti kesewenang-wenangan militer dalam berbagai bidang: korupsi, hutang luar negeri, penanaman modal asing, serta nepotisme.

Kebetulan, pada saat itu, di Eropa dan Amerika sedang berkembang pula gerakan flower generation yang juga dimotori oleh kaum muda. Flower generation ini pertama-tama menolak ketegangan yang masih berlanjut pasca Perang Dunia II, yakni perang dingin antara blok Barat dan Timur. Mereka juga menentang kemapanan yang timbul akibat pembangunan pasca perang yang cenderung kapitalistis. Mereka memperlakukan mahasiswa sebagai rangkaian mesin produksi yang dipersiapkan untuk pembangunan. Flower generation adalah semacam counter-culture yang dilakukan anak muda Amerika dan Eropa ketika itu. Mereka umumnya dapat dilihat dari tampilan luar mereka yang memanjangkan rambut dan memelihara jenggot (untuk yang laki-laki), mengenakan baju longgar beraneka warna dengan berbagai asesori seperti kalung dan gelang (Yudhistira 2010: 43).

Orba tampak menemukan pintu masuk untuk mengendalikan anak muda lewat kekhawatiran bahwa gerakan flower generation tersebut dapat menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia untuk turut menolak kemapanan yang justru sedang diusahakan lewat jargon pembangunannya. Pemerintah Orba, secara publik, mengutarakan keprihatinan mereka terhadap generasi muda yang, katanya, semakin tidak peduli pada nasib bangsa, senang hura-hura, meniru kebudayaan Barat secara mentah-mentah. Di sisi lain, mahasiswa yang mengajukan kepedulian akan nasib bangsa lewat kritik dicap sebagai gerakan kiri baru, memberikan kritik yang tidak membangun, dan kerap berprasangka buruk terhadap generasi tua.

Guna membangun dan menertibkan generasi muda, pemerintah saat itu melakukan serangkaian gerakan penertiban yang diawali dengan mengatur penampilan anak muda. Lantas, muncullah perang panjang melawan rambut gondrong dan pakaian “tidak sopan”. Rambut gondrong dijadikan sasaran karena kemiripannya dengan ciri khas para penganut flower generation. Razia rambut dan pakaian yang dilakukan di mana-mana menjadi alat efektif untuk menjangkau dan mengontrol ekspresi anak muda. Larangan berambut gondrong muncul di banyak tempat, di lingkungan kampus, pegawai negeri, sekolah dan bahkan televisi (saat itu, TVRI). Sejumlah layanan publik tidak akan melayani mereka yang rambutnya gondrong. Razia rambut gondrong dilakukan dengan memotong rambut di tempat orang-orang yang dianggap gondrong dan menggunting celana-celana model cutbrai yang dianggap tidak sopan.

Masalah rambut gondrong ini bukanlah hal yang sepele. Ia sampai memicu terjadinya peristiwa 6 Oktober 1970 di mana seorang mahasiswa ITB, Rene Louis Coenraad, ditembak mati oleh sekelompok taruna kepolisian. Peristiwa yang diawali dengan latihan lapangan para taruna itu dengan cara menugaskan mereka untuk melakukan operasi rambut gondrong, di mana sebagian besar anak muda yang terkena razia adalah mahasiswa ITB. (Yudhistira 2010: 123-127) Razia ini mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dan taruna kepolisian yang berujung pada penculikan dan penembakan Rene.

Pelarangan rambut gondrong ini lalu berkembang dan makin menimbulkan ketidakpuasan anak muda yang sudah risih dengan berbagai kebijakan pemerintah kala itu, seperti penanaman modal asing, pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan korupsi. Kemesraan antara militer dan anak muda yang pernah terjalin kini makin renggang. Dan pada perkembangannya, negara melalui aksi-aksi militer membungkam sama sekali gerakan anak muda pada tahun 1978. Pembungkaman antara lain dilakukan melalui program NKK (normalisasi kehidupan kampus). Menurut Orba, kampus yang normal adalah kampus yang digunakan sebagai tempat belajar, bukan tempat berpolitik dan mengkritik pemerintah. Gerakan kritis lainnya misalnya yang dilancarkan oleh sejumlah mahasiswa UI yang bertajuk “Warung Kopi”—yaitu kritik terhadap pemerintah menghiasi obrolan mahasiswa di warung-warung kopi—telah direduksi ketika para aktifisnya ditawari bermain film dan mengubah kritik mereka menjadi film-film slapstik yang amat laris di masa Orba.

Di sini tampak bahwa anak muda untuk menerima suatu ideologi yang monolitik, seragam, yakni ideologi militeristik a la Orba. Generasi muda yang besar dalam Orba tentu menerima ideologi monolitik ini dengan begitu saja dan tumbuh besar bersamanya. Dapat dikatakan, kondisi politis-historis telah memaksa anak muda untuk menjadi anti-pluralis. Anak muda dikondisikan untuk menjadi apolitis. Ruang satu-satunya yang tersedia untuk mereka berekspresi adalah budaya pop. Tidak heran anak muda lantas diidentikkan dengan gaya hidup hura-hura, labil, dan tidak memikirkan bangsa.

Sumber : Aquino Hayunta

Facebook Comments

About Akhmad Mutaallimin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif