Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Informasi » Pertanian » Analisa Hasil Usaha Bertanam Aren

Analisa Hasil Usaha Bertanam Aren

Bibit aren

Bibit aren

 

Anda mau kaya? Mau jadi jutawan bahkan jadi miliarder

Caranya gampang. Melaksanakannya juga tidak sulit. Cuma ada syaratnya.
Bagaimana caranya? Apa syaratnya? Apa ini mau pakai jurus piara tuyul? Atau ikut MLM uang beranak? Atau merampok toko emas? Main valas?

Maaf, anda keliru jika menduga begitu.

Syaratnya adalah, anda harus punya lahan pertanian tanah kering.
Untuk mendapatkan penghasilan setara gaji seorang camat, maka anda cukup punya lahan seluas 1.000 m2 saja.

Untuk menjadi seorang jutawan, anda cukup bermodalkan tanah pertanian sekira setengah hektar saja. Sedangkan untuk menjadi seorang miliarder, maka minimal anda harus memiliki tanah pertanian satu hektar.

Mau ditanami apa? Sawit? Karet? Atau nilam?

Ketiga tanaman di atas memang sudah lama menjadi primadona dunia pertanian. Tetapi bagaimana jika ada satu jenis tanaman lain yang mampu memberikan penghasilan hingga sepuluh kali lipatnya? Tanaman itu namanya AREN alias ENAU.

 

Bagaimana mungkin?

Berdasarkan wawancara eksklusif kami dengan tiga orang penyadap aren, Pak Bahtiar, Pak Ramli dan Pak Salim Sinaga beberapa waktu yang lalu, didapat kesimpulan sebagai berikut : empat pohon aren yang disadap pagi dan sore menghasilkan 24 liter air nira, jika dimasak maka akan menghasilkan gula aren seberat 6 kg. (saat ini musim kemarau sehingga air nira sedikit tetapi rendemennya tinggi). Gula aren asli ini dipasaran dijual dengan harga Rp.25.000/kg. (gula aren palsu/campuran harganya 17.000-20.000 rupiah/kg).

Jadi penghasilan kotor penyadap aren ini adalah Rp.150.000/hari. Satu bulan berarti berjumlah 4,5 juta rupiah. Dipotong biaya membeli kayu bakar/ elpiji dan biaya transportasi jarak dekat sebesar 500.000 rupiah, maka penghasilan bersih dari menyadap empat pohon aren adalah sebesar empat juta rupiah. Padahal empat pohon aren ini hanya mengambil luas lahan 4×5x10m= 200m2 alias setengah rante.

Jika tersedia tanah seluas 1000m2, maka dapat ditanam pohon aren 1.000:50=20 pohon. Dianggap yang bisa disadap dalam satu waktu hanya 50%nya saja, maka =10 pohon.

10 pohon aren dalam satu hari (disadap pagi dan sore) menghasilkan gula aren sebanyak 15kg. Maka 15×25.000=375.000 rupiah/hari. Anggap saja anda tidak mau bersusah payah bekerja, maka anda bisa menggaji 1 orang penyadap Rp.90.000/hari, dan menggaji satu orang tukang masak nira rp.68.000/hari ditambah biaya beli gas 3 kg Rp.17.000/hari, maka anda masih punya sisa hasil Rp.200.000/hari = Rp.6 juta/bulan = GAJI SEORANG CAMAT !

Selain itu, aren masih menghasilkan produk lain berupa ijuk dan kolang-kaling alias bargat. Tapi kalau anda memang pemurah, maka berikan saja ijuk dan kolang-kaling itu untuk diolah oleh penyadap aren anda. Hitung-hitung amal.

 

Patut dicatat juga, dengan jarak tanam 5×10m seperti di atas, maka masih bisa didapat penghasilan tambahan dari tanaman tumpang sari. Jika ditanam monokultur, maka jarak tanam idela adalah 5 x 6 meter.

Tidak seperti sawit, aren adalah jenis tanaman yang familiar dengan tanaman tumpang sari dibawahnya. Berbagai jenis palawija hingga kopi masih dapat tumbuh dengan baik di sela tanaman aren, bahkan hingga aren berproduksi. Sebenarnya, aren akan makin baik produksi niranya, bila tanah tempatnya tumbuh digemburkan secara berkala, yaitu saat anda akan menanam palawija.
Adapun jenis palawija yang direkomendasikan adalah ubi kayu jenis ubi racun alias ubi begog.

Namun jika mau intensif memanfaatkan tanah pertanian di sela pohon aren, maka anda bisa membuat pembibitan tanaman lain, kelapa sawit misalnya. Mau lebih mantap lagi? Tanam nilam.

Seterusnya, bagaimana hitungan hasil aren ini hingga penanamnya bisa menjadi miliarder seperti yang disebutkan di awal pembuka kata?

Hitungannya begini : 1ha = 10.000m2.
10.000:50=200 pohon aren.

200:50%=100 pohon disadap dalam satu waktu.

100×6 liter nira = 600 liter = 150kg gula aren x Rp.25.000 = Rp.3.750.000/hari.

Biaya keluar = gaji 15 orang penyadap x rp.90.000 = Rp.1.350.000 + (gaji 3 orang tukang masak x Rp.75.000 = Rp.225.000) = Rp.1.575.000.

Ditambah biaya beli kayu bakar atau gas 3 kg sebanyak 3 tabung = Rp.51.000.

Jadi 1.575.000 + 51.000 = total pengeluaran harian 1.626.000.

Maka penghasilan bersih perhari : 3.750.000-1.626.000 = 2.124.000 rupiah.

Rp.2.124.000 x 365 hari ( penyadapan tidak bisa terhenti meski hanya satu hari saja, bisa merusak tandan yang tengah dalam sadapan ) = Rp.775.260.000/ tahun. Nah, dalam dua tahun panen saja, anda sudah bisa jadi MILIARDER !

Hitung-hitungan di atas bukan khayalan atau dimark up gaya pejabat korup, tetapi aktual berdasarkan pengalaman para penyadap di daerah kami.

Coba perhatikan hal krusial ini : di daerah kami, Kab. Batu Bara, Sumut, 10 m dpl, satu pohon aren hanya menghasilkan 6 liter nira perpohon perhari. 4 liter dari sadapan sore, 2 liter dari sadapan pagi. Tapi memang rendemennya sangat tinggi, 25%. (memang ada kiat khusus dari penyadap, yang ‘belum’ bisa kami paparkan di sini). Di daerah lain, umumnya satu pohon aren menghasilkan 15-20 liter nira perhari dengan rendemen 15%.

Jika mengikut hasil dari daerah lain itu, maka akan didapat hasil gula yang lebih banyak, namun pengeluaran untuk membeli gas dan upah memasak juga akan membengkak. Jadi, hasil akhirnya akan lebih kurang sama : jadi miliarder dalam waktu 2 tahun panen.

Terakhir, kita sampai pada pertanyaan terpenting : Apa sebab tiga 0rang penyadap aren tadi, sudah puluhan tahun menyadap aren, koq tidak juga jadi jutawan apalagi miliarder?
Jawabannya : karena mereka hanya memiliki 4 sampai delapan batang pohon aren, yang berarti hanya menyadap 2-4 pohon setiap satuan waktu.
Apa mereka punya tanah pertanian? Ya, punya.
Koq tidak ditanami aren?
Entah, mungkin mereka serius tidak mau kaya raya.

Anda bagaimana?

 

Facebook Comments

About bang pilot

One comment

  1. katedrarajawen

    Usaha yang menarik , bang. Coba kalau masih tinggal di kalimantan tanahnya masih banyak hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif