Home » TEKNO » Isu Aktual » Tepatkah Mengatakan Perayaan Tahun Baru = Maksiat ?

Tepatkah Mengatakan Perayaan Tahun Baru = Maksiat ?

dakwah-keras

Spanduk bertuliskan kecaman terhadap perayaan tahun baru seperti gambar di atas menurut hemat penulis tidak pas dilakukan meskipun bertujuan untuk meluruskan bilamana dalam perayaan tahun baru diisi dengan maksiat. Penghakiman seperti ini terlampau menggeneralisir sebuah peristiwa, bahwasanya “Perayaan Tahun Baru selalu identik dengak Kemaksiatan”. Benarkah demikian?

Memang tak bisa dipungkiri, ada sebagian anak-anak muda dan mungkin orang-orang dewasa yang merayakan tahun baru dengan berpesta pora melewati batas, misal dengan mabuk-mabukan atau pacaran hingga terjadi perzinahan. Namun apakah semuanya demikian? Kalau hanya merayakan dengan membuat panggung hiburan dan kesenian untuk menghibur masyarakat, saya pikir akan berlebihan jika divonis sebagai kemaksiatan.

Dan jika dipandang dari etika, memasang spanduk seperti ini pun tidak pas karena dipasang di tempat umum yang terbaca oleh semua pemeluk agama. Padahal di dalam spanduk dikutip hadist yang tentunya lebih ditujukan buat umat Islam. Karena masalah agama itu masalah yang cukup sensitif di tengah penduduk yang plural seperti negara kita, tentu cara-cara seperti ini justru kontra produktif dengan maksud dipasangnya spanduk ini.  Maksudnya memang baik, mencegah terjadinya kemaksiatan yang dilakukan di tahun baru. Tapi apa iya dalam setiap perayaan tahun baru itu pasti terjadi kemaksiatan? Tidakkah perilaku penyimpangan terhadap perayaan tahun baru saja yang perlu diberi edukasi tanpa harus melarang perayaan tahun baru? Dan jika yang melakukan pemasangan spanduk-spanduk seperti ini bukan dari pemerintah akan berpotensi terjadinya pandangan subyektif dan tak memikirkan umat lain yang memiliki perspektif lain terhadap makna sebuah perayaan. Apalagi dalam spanduk itu tidak jelas dari siapa atau organisasi apa yang memasangnya. Bagaimana jika semua orang bebas memasang spanduk yang berisi senada dan saling memberikan perlawanan? Tentu akan terjadi perang konflik antar sesama anak bangsa.

Barangkali himbauan seperti ini akan lebih cocok dilakukan di dalam internal umat muslim saja, dan tak perlu terlampau phobia dengan semangat perlawanan terhadap adanya perayaan tahun baru. Yang lebih bagus justru apa yang dilakukan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Beliau mampu memberikan alternatif atau konten dalam mengisi pergantian tahun baru dengan berdzikir berjamaah di masjid At-Tin. Beliau tak perlu melakukan perlawanan atau mengecam perayaan tahun baru, tapi cukup memberikan penawaran yang lain dalam mengisi Tahun Baru.

Memang perlu sebuah sikap yang bijak dalam berkomunikasi dalam masyarakat plural seperti di negara kita. Setiap komunikasi yang dilakukan di ranah publik, selaiknya memperhatikan bagaimana tanggapan umat atau etnis lain yang bersinggungan dengan materi yang dikomunikasikan. Jika tidak akan berpotensi menciptakan konflik baru. Tata cara komunikasi seperti yang diajarkan walisongo dahulu kala bisa menginspirasi kita untuk menghargai budaya lokal. Dakwah walisongo justru bisa berkolaborasi dengan kesenian wayang kulit, atau malah bisa masuk ke acara-acara ritual Hindu seperti selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, sampai haul satu tahun atau 1000 hari yang diisi dengan dzikir dan doa. Meski sebagian juru dakwah di masa kini memvonis bid’ah hal-hal tersebut, namun fakta membuktikan dakwah seperti ini lebih bisa diterima dibanding melakukan konfrontasi dan menolak sebuah adat atau budaya secara mutlak.

Akhirnya, jika kita tak menyukai sebuah model perayaan tahun baru maka cobalah merayakannya dengan cara sendiri atau duduk di rumah bersama keluarga atau apa saja yang penting tidak berbuat maksiat. Tapi jika suka dengan perayaan hiburan yang diselenggarakan pemerintah, itu juga sah-sah saja selama tetap menjaga batasan terhadap hal-hal yang dilarang atau tidak disukai oleh nilai-nilai agama masing-masing.

Selamat Tahun Baru 2014.
Semoga hari esok menjadi lebih baik dari hari kemarin.

#Jakarta, 30 Desember 2013

 

Facebook Comments

About heripurnomo

6 comments

  1. Anita Godjali

    Bung Heri, perlu dikasihani orang yang jalan pemiirannya sesempit itu. Selamat menyongsong Tahun Baru 2014 semoga berkat Tuhan melimpah-Salam

    • Kasihan sekali memang, menyimpan kebencian yang tidak proporsional. Amin mbak Anita. Trims komennya. :)

  2. Mau maksiat ngga usah nunggu tahun baru kali. Tiap hari juga bisa maksiat. Semua gimana orangnya. Dasar beriman kuat sepanjang tahun ya takut maksiat…Gimana negeriku mau maju. Kenapa ngga ngurusin orang miskin, bantuin gitu..jangan cuma ngomong agama..Beriman kan harus beramal

    • Mestinya aparat tidak mengizinkan pemasangan spanduk-2 seperti ini di tempat-tempat umum. Karena penilaian maksiat = tahun baru sungguh tidak tepat. Coba jika logika itu dipakai dalam kasus, orang islam banyak yang koruptor. Berarti Islam mengajarkan korupsi?
      Jd memang kalau mau maksiat mah gak hanya di tahun baru, pengadaan haji saja banyak maksiat (korupsi) di dalamnya kan. :) trim komennya mbak Fey.

  3. semuanya tergantung apa yang dilakukan, perayaan model apa? https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif