Home » TEKNO » Isu Aktual » Gula dan Semut Hitam

Gula dan Semut Hitam

korupsi

neverojatno.wordpress.com

Saya kadang sempat merenung, seandainya saya jadi seorang pejabat yang punya kekuasaan dan kewenangan untuk memutus nilai proyek yang besarnya sampai puluhan milyar rupiah atau bahkan sampai angka T. Tentu saya akan dicari banyak orang, terutama yang ingin memperoleh keuntungan atas pekerjaan yang akan dilaksanakan. Proyek pemerintah yang bernilai besar, bagaikan gundukan gula pasir yang rasanya teramat manis, dan tak heran bila banyak semut yang mengerumuni dan berlomba untuk mendapatkannya. Diantara semut semut itu, ada yang beritikad baik yaitu yang benar benar serius dan profesional dalam menyelesaikan tugasnya, yang saya namakan semut putih, tapi tak jarang juga semut semut hitam berkeliaran. Seperti namanya, semut hitam saya ibaratkan pihak pihak yang hanya ingin mengeruk keuntungan pribadi atau golongannya, dan tak terlalu peduli terhadap kualitas hasil kerjanya.

Sesungguhnya teramat mudah untuk mengetahui itikad buruk semut hitam ini. Mereka tak segan melakukan segala cara, demi tercapai maksud dan tujuannya. Sejak dari awal, mereka selalu mencoba mengajak kolusi para pejabat dan antek anteknya agar proyek yang besar itu dapat dimenangkannya. Ini jelas permainan yang tidak fair. Bahkan mereka berani membayar uang muka yang nilainya tidak  tanggung tanggung, yaitu sampai 30 % dari nilai proyek yang akan diterimanya.

Atau bisa juga sebaliknya, justru ada juga oknum pejabat yang sengaja mencari vendor atau kontraktor yang mau membayar uang ‘kick back’ dimuka. Agar memudahkan terlaksananya konspirasi, mereka juga tak segan me ’mark up’ semua item harga hingga sampai berkali kali lipat. Tujuannya jelas, agar pihak pelaksana pekerjaan masih bisa memperoleh keuntungan, meski sudah disunat sampai 30 %.

Jadi memang benar apa yang pernah dikatakan oleh alm. Profesor Sumitro dulu. Sang begawan ekonomi ini berpuluh puluh tahun lalu, yang kala itu masih dalam admosfir Orde Baru, telah menyatakan secara terbuka bahwa telah terjadi kebocoran APBN secara nasional sampai 30 %. Angka yang luar biasa fantastis!. Tradisi ‘mark up’ nilai  proyek ternyata masih saja berlangsung hingga detik ini. Dan celakanya lagi bahwa tradisi ini rasanya sudah tak aneh lagi dan sudah jamak dilakukan, baik itu yang berawal dari inisiatif bowheer sendiri atau dari pihak pelaksana pekerjaan.

Mungkin sekarang saya masih bisa mengatakan bahwa para pejabat yang melakukan tindakan tidak terpuji itu pastilah punya moral bejat, sebab saya dalam kondisi bukan sebagai pejabat alias rakyat jelata. Tapi, seandainya saya boleh membayangkan suatu saat saya memainkan peran sebagai seorang pejabat tinggi di pemerintahan, di kantor manapun itu, apakah saya masih bisa mengatakan “tidak” bila terlarut dalam arus KKN dalam urusan proyek ?

Semut semut hitam sungguh lihai dalam merayu dan meyakinkan saya bahwa semuanya bisa diatur dan akan berjalan dengan baik baik saja, aman dan dijamin tak kan ada yang mempermasalahkan. Sebab memang mereka sudah sangat ahli dalam memain-mainkan angka.

Aktifitas korupsi semacam ini ibaratnya seperti kita sedang menunggang kuda. Semakin lama berjalan, semakin nikmat dalam mengendarainya, apalagi bila sang kuda sudah berlari kencang, rasanya kita semakin kuat saja dalam memegang kendali dan tak bisa lepas sedetikpun dari pelana kuda. Serasa dunia ini bagai surga dan membuat kita terlena dan semakin asyik melakukannya..

Bila sudah terlanjur hanyut dalam bergelimang uang yang berlimpah ruah, sangat sulit bagi sesorang untuk berhenti melakukannya. Awalnya korupsi kecil kecilan. Tapi lama lama kenikmatan itu semakin menjadi jadi. Tak terasa uang semilyar yang dulunya dinilai sangatlah besar, sekarang bisa jadi teramat kecil. Maunya dapat jatah puluhan milyar dan angka ratusan juta rasanya sudah tak ada artinya lagi.

Bila sudah merasakan nikmatnya bergelimang uang milyaran rupiah, seakan urat malunya telah putus. Padahal dalam hatinya tahu, bahwa dia sedang menerima uang yang bukan haknya. Tak ada lagi punya rasa takut dan semakin percaya diri bahwa semuanya akan berjalan baik baik saja, seakan akan dirinyalah yang berkuasa dan berhak melakukan apapun yang dia inginkan.

Bahkan ironisnya, bila mereka mendengar ada berita seorang pejabat yang tertangkap tangan oleh KPK karena kasus korupsi, anggapan mereka enteng saja, pejabat tersebut sedang apes atau sedang mengalami nasib sial saja. Benar benar sudah hancur moral para pejabat hitam dinegeri ini.

Untuk menggambarkannya seringkali terlontar anekdot yang mengatakan bahwa ‘untuk mencari yang haram saja sudah susah, apalagi yang halal’. Begitulah kira kira yang sedang terjadi kini. Sudah ratusan pejabat tertangkap KPK, tapi kok tidak kapok kapok juga ?

Yang jadi pertanyaan saya adalah “sudah sedemikian parahkan kondisi KKN dinegeri ini ?”

Apakah benar bila ada yang mengatakan bahwa bila seseorang yang pada awalnya berperilaku baik sekalipun, secara tak sadar lambat laun akan mengikuti kebiasaan jahat dilingkungannya ?

Bila hal ini benar, maka siapapun yang akan jadi pejabat, lambat laun apakah juga akan ikut berubah menjadi pejabat hitam ?

Tapi saya rasa, hal ini tentu tidaklah benar. Tidak semua pejabat ambruk moralnya. Semuanya berpulang kepada pribadi masing masing pejabat itu sendiri. Tentu masih ada bahkan banyak banyak para pejabat yang punya moral yang baik, jujur dan dapat dipercaya. Tapi sayangnya yang menjadi berita besar adalah kasus kejahatannya saja, padahal masih banyak para pejabat yang memberi suri tauladan dan menebarkan inspirasi agar dalam bekerja tetap istiqomah dan konsisten dalam menjaga kemuliaan hati nuraninya. Semoga..

.oOo.

Facebook Comments

About Doni Bastian

3 comments

  1. Muhammad Armand

    ini sih refleksi Bung
    Apa daya karena itu hanya pengandaian dari Bung Doni
    wkwkwkwkwk

  2. tjiptadinata effendi

    Pak Doni, memang hal ini sudah menjadi rahasia umum. Tapi ternyata masih ada pejabat yang jujur. Teman saya, seorang Kolonel (P.) yang dua kali menjabat sebagai Bupati Kerinci,ketika pensiun,hanya memiliki mobil tua. Orang menertawakannya dan mengatakannya :” bodoh benar” masa 2 X Bupati ,tidak memilii Pom bensin atau perkebunan kelapa sawit?” Semoga pemilu mendatang,kita dapat pemimpin yang bersih dan sungguh sungguh berdedikasi untuk Indonesia yang lebih baik. Salam hangat

  3. josephinewinda

    membaca artikel ini langsung ingat lagunya Iwan Fals..”BONGKAR!!…”https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif