Home » Rubrik Khusus » Asam Garam » Baju Mirip Nazi VS Revolusi Mental

Baju Mirip Nazi VS Revolusi Mental

Terus terang saya nge-fans dengan lagunya tapi tidak dengan penciptanya. Ahmad Dhani seorang musisi briliant yang dimiliki negeri ini, namun sayang tingkah polah dan perilakunya tidak sedikit yang tak terpuji. Mengamati sosok Ahmad Dhani sepertinya memang dia ini tak pernah ada kapoknya. Meski dia jenius dalam satu sisi sebagai musisi, tapi agak aneh juga disisi lain.

Kebanyakan kalau orang sudah merasa pintar dan kaya, seringkali mereka terjangkit penyakit sombong dan arogan. Demikian pula dengan Ahmad Dhani, yang baru saja membuat video kampanye untuk mendukung Prabowo, yaitu sebuah video klip Lagunya Queen “We will Rock you” bersama para vokali pemenang Indonesian Idol.

Bila saya mau jujur, secara pribadi saya menilai video itu biasa biasa saja, tak ada yang perlu dipermasalahkan. Sebab saya adalah pencita seni, khususnya musik, jadi cara memandang saya terhadap video itu mungkin berbeda dengan yang lain.

Sejak pemunculan video tsb di situs YouTube.com, kontan saja menuai banyak kecaman dari berbagai pihak, sebab Ahmad Dhani memang sedikit ‘kurang ajar’ didalam video itu dengan mengenakan baju dinas para petinggi Nazi di Jerman pada jaman dulu.

Tapi Ahmad Dhani dibalik itu sebenarnya dengan sengaja membuat baju Nazi untuk dikenakannya dalam video kampanyenya, dan dia tentu sudah memperhitungkan bahwa bahwa apa yang diperbuatnya itu pasti akan manjadi kasus yang menghebohkan.

Menurut saya, Ahmad Dhani dalam hal ini telah berhasil dalam misinya yaitu membuat seantero jagad menjadi heboh. Saya juga sangat memaklumi, namanya juga Ahmad Dhani si pembuat onar. Yang penting ‘pukul dulu, urusan belakangan’, pakai metode ala kopral saja dia.

Lalu siapa yang diuntungkan ?

Ya tentu saja dia sendiri, sebab dengan demikian namanya makin melambung seantero bumi. Efek lainnya juga bisa dinikmati Kubu Prabowo, sebab video tersebut telah menyita perhatian atas kampanye mendukung Prabowo-Hatta.

Apakah ada yang dirugikan ?

Nah, sampai disini mungkin kita berada dipersimpangan jalan. Entah bagaimana awalnya, kenapa yang di-blow up adalah baju mirip Nazi yang dikenakan Dhani ?. Berbagai komentar bernada kecaman pun berhamburan dan langsung mengarah kepada Ahmad Dhani.

Yang dipermasalahkan orang adalah apakah maksud Dhani dengan mengenakan seragam mirip petinggi Nazi. Apakah itu merefleksikan eksistensi Dhani yang mendukung paham Fasis ? Ataukah memang dia punya keterkaitan dengan anggota Ex Nazi, atau apalah yang terkait partai Nazi dan Fasisme ?

Dimata publik, fasisme adalah paham yang harus dimusnahkan dari atas bumi, sebagai mana pemerintah Jerman yang telah melarang berdirinya partai yang menganut paham Fasisme itu. Sama juga halnya dengan yang dilakukan oleh Pemerintah RI ketika membubarkan partai Komunis Indonesia (PKI) dan melarang paham komunis bercokol dinegeri ini.

Fasisme diharamkan di Jerman, sebagaimana paham Komunis juga dilarang di Indonesia.

Kita semua pastilah sepakat dengan itu. Tapi apakah bisa dikaitkan dengan Dhani yang memakai baju yang mirip dengan baju anggota Partai Nazi, lalu dengan serta merta bisa kita nyatakan bahwa Dhani adalah mendukung atau pro terhadap paham Fasisme ?

Sehubungan dengan hal itu Ahad Dhani pun telah menyatakan menolak anggapan bahwa dia adalah pendukung paham Fasisme. Bahkan dia balik bertanya, apakah bila seseorang mengenakan baju mirip tentara Amerika atau Rusia, maka secara serta merta dianggap dia telah mendukung atau berpihak pada negara tsb?

Saya jadi teringat dibagian lain, yaitu tatkala Jokowi menghembuskan wacana “Revolusi mental”. Tidakkah anda katahui bahwa istilah Revolusi Mental ini dulu juga digunakan oleh para pendiri paham Komunis, yang mana ini adalah ideologi yang telah dilarang oleh pemerintah Indonesia ?

“Istilah REVOLUSI MENTAL juga dipakai oleh pendiri Partai Komunis China yg bernama CHEN DUXIU bersama temannya yg bernama Li DAZHAO sebagai doktrin dan cuci otak kepada para Buruh dan Petani dalam menentang kakaisran China.

Di Indonesia istilah REVOLUSI MENTAL istilah ini mulai dipakai oleh seorang pemuda asal Belitung yang bernama AHMAD AIDIT anak dari ABDULLAH AIDIT dan kemudian mengganti namanya menjadi DIPA NUSANTARA AIDIT ( DN AIDIT ) dan ketika ayahnya bertanya kenapa namamu diganti ? AIDIT menjawab saatnya REVOLUSI MENTAL” kedua paragraph diatas saya kutip dari sini

Apakah dengan demikian maka dengan serta merta kita semua boleh menuduh bahwa Jokowi adalah pendukung paham Komunis terkait dengan wacana “Revolusi Mental” nya?

Nah, sampai disini kita akan menemukan polemik yang tidak ketahuan kemana ujung pangkalnya. Kedua kubu masing-masing bisa saling serang dan saling menghujat dengan alasan yang mereka buat sendiri. Dengan demikian makin keruhlah suasana perdebatan antara kedua kubu pendukung Capres, yang tentunya bisa berpotensi menimbulkan disintegrasi.

Oleh sebab itu, tak perlulah kita terlalu curiga, atau mencurigai siapapun terkait dengan kasus ‘Video Kampanye’ nya Ahmad Dhani dan wacana “Revolusi Mental’nya Jokowi.

Marilah kita sama sama berpikir positip dengan mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Salam

Facebook Comments
Terus terang saya nge-fans dengan lagunya tapi tidak dengan penciptanya. Ahmad Dhani seorang musisi briliant yang dimiliki negeri ini, namun sayang tingkah polah dan perilakunya tidak sedikit yang tak terpuji. Mengamati sosok Ahmad Dhani sepertinya memang dia ini tak pernah ada kapoknya. Meski dia jenius dalam satu sisi sebagai musisi, tapi agak aneh juga disisi lain. Kebanyakan kalau orang sudah merasa pintar dan kaya, seringkali mereka terjangkit penyakit sombong dan arogan. Demikian pula dengan Ahmad Dhani, yang baru saja membuat video kampanye untuk mendukung Prabowo, yaitu sebuah video klip Lagunya Queen "We will Rock you" bersama para vokali pemenang Indonesian…

Review Overview

About Juru Martani

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif