Home » Rubrik Khusus » Fey's Corner » Hati-hati ! Penipu Pura Pura Ingin Membeli Rumah

Hati-hati ! Penipu Pura Pura Ingin Membeli Rumah

Hati hati jika ingin menjual rumah di Indonesia dengan memasang iklan di koran. Banyak penipu yang pura pura jadi pembeli. Cara bicara mereka sangat santun dan selalu membawa nama Tuhan.

Biasanya mereka memancing akan segera membayar tanda jadi, sambil menanyakan nomor account kita. Nanti tanpa sadar kita malah mentransfer uang kerekening mereka atau kita di suruh ganti no pin/tin agar uang kita bisa mereka pindahkan lewat internet. Jika mereka gagal, kita akan dimaki maki oleh manusia tak tahu malu ini.

Tahun 2007 ketika masih bekerja di UAE , saya izin cuti karena akan menjual rumah. Kantor tempat saya bekerja hanya memberi izin 12 hari saja. Pikir saya lumayan sekalian hilangin kangen pada keluarga.

Tiba di rumah saya langsung pasang iklan di salah satu koran ibu kota Dua hari kemudian ada seorang pria menelpon, dia mengaku bernama Hasan. Tutur katanya sangat sopan dan ramah.

” Ibu mau jual rumah ya ? Berapa harganya ? Istri saya sudah lihat lho dan dia suka banget. Aduh ibu , kalau istri udah minta, rasanya susah nolak.”

Waktu itu saya percaya ucapan pak Hasan karena rumah yang akan saya jual memang kosong. Hanya ada seorang penjaga rumah yang sudah lama saya kenal. Ketika saya telpon dan menanyakan apakah benar ada ibu ibu yang datang, katanya benar ada beberapa orang.

Setelah tawar menawar per telpon, si Hasan setuju dengan harga yang saya tawarkan ( saya masih belum sadar sedang berhadapan dengan penipu). Si bapak ini menawarkan tanda jadi, katanya takut saya jual sama yang lain. Dia setuju mentransfer 10 Juta rupiah (saya kaget koq banyak amat).

Dalam hati saya ini orang percaya sekali padahal belum pernah bertemu. Maka sayapun mencoba bertanya sekali lagi.

” Bapak percaya sama saya? kan Bapak belum ketemu saya cuma bicara lewat telpon .”

” Aduh bu masa saya ngga percaya sama ibu, tak mungkinlah ibu mau saya. Demi Tuhan saya percaya sama ibu. Kita sebagai umat beragama pasti takut dosa kan bu? ”

Tak lama saya berikan nomor rekening anak saya di bank BCA , sambil berpesan agar si bapak kirim kerekening tersebut. Siang itu dia telpon lagi , katanya uang sudah di transfer.

Saya yang oneng ini coba cek saldo, tapi uangnya belum ada. Langsung saya sms dan dia telpon balik.

“ Aduh bu mohon maaf , mungkin over limit karena tadi pagi istri transfer uang ke Surabaya . Nanti saya suruh istri pakai uang dia dulu ya bu. Oh ya ibu punya bank lain ngga ? “

“ Ada pak dibank Permata,” jawab saya jujur.

“ Wah kebetulan istri saya banknya sama tuh bu, kan lebih gampang transfernya. Sebentar lagi ibu ke ATM dan cek aja uangnya , pasti kali ini sudah masuk.”

Saya check di ATM , uang masih belum ada (begonya saya koq nurut aja ). Lalu saya sms dan dan dia telpon lagi.

” Maaf bu kayaknya ada masalah di banknya, gimana kalau saya transfer secara manual saja. Dari bank BCA ke bank Permata kan ATM bersama tuh. Tunggu ya bu saya hubungi ibu dengan bank BCA langsung.”

Tiba tiba saya mendengar suara dari computer dari bank BCA : Tekan 1 untuk Bahasa Indonesia , tekan 2 untuk Bahasa Inggris, tekan 0 untuk berbicara dengan staff kami. Tiba tiba ada suara seolah dari staff bank tsb.

” Hallo BCA selamat sore dengan Adi di sini, ibu mau di bantu transfer secara manual ya ? Ok ikuti panduan saya ya ?”

Lalu dia bertanya saldo saya ada berapa dan menyuruh saya ganti nomor PIN dan TIN? Mana mungkin pegawai BCA menyuruh saya ganti no PIN dan TIN.

Alhamdulilah, terima kasih ya Allah, saat itu juga saya sadar akan ditipu. (kenapa lama bener baru sadar…duh dasar saya masih oneng)

Si Hasan dan Adi pasti sedang duduk di depan internet. Jika saya menuruti kata mereka mengganti PIN dan TIN, maka uang saya akan ditransfer kerekening komplotan penipu ini.

Sekejap akal saya jalan dan pura pura bego biar makin lama telponnya :

” Maaf sebelum saya ganti nomor PIN dan TIN, tadi nama bapak siapa ya? Saya lupa deh.”

” Nama saya Adi bu. ” jawabnya singkat, udah ngga sabar pengen tahu PIN dan TIN

” Pak Adi dari bank BCA mana ya ?”

” Saya di BCA pusat bu! ”

Dia sudah mulai kesal nih nampaknya, tapi terus saja saya nanya lagi

” Oh BCA pusat ya ? Wah pasti kenal sama adik sepupu saya dong yang bernama ibu Lisa, dia supervisor lho pak…” ( memang benar waktu itu adik sepupu saya supervisor dibank tsb).

Tiba tiba saya di bentak keras sekali.

” Ini mau dibantu transfer apa ngga sih! Kalau ngga mau di bantu ya udah, dasar bangsat loe! Goblok loe! “

Saya jawab saja dengan santai,

” Lho koq customer bank BCA galak sih! Gini aja bilang sama pak Hasan dan buat kamu juga, jangan jadi penipu…cari rezeki yang halal ya ? Masih mau no PIN dan TIN saya ngga, gue kasih nih sekarang! ”

Telpon langsung di tutup, saya hubungi lagi tidak diangkat.

Saya mengerti cara mereka menipu yaitu Bapak Hasan menghubungi bank BCA , lalu speaker hp dibuka agar saya mendengar kalau dia menghubungi bank BCA (memang benar saat itu mereka menghubungi bank tsb) . Ketika terdengar suara tekan 0 untuk bicara dengan operator. Saat itu juga pak Hasan langsung menutup telpon dan si Adi langsung bicara seolah dari operator bank tersebut

Terakhir saya kirim sms :

” Pak cari rezeki yang halal, jangan suka nipu orang, masa kasih makan anak istri dari uang haram. Kagak berkah tau!! Oh ya kalau mau nipu jangan bawa bawa agama dan Tuhan, dosa nya berlipat ganda lho pak!”

SMS pun terkirim …..

Berhati hatilah jika ingin menjual rumah di Indonesia , apalagi jika kita pasarkan sendiri lewat iklan di koran. Lebih baik lewat agen property resmi, lebih aman dan nyaman.

Penipu dimana mana sama saja, tak punya hati, tak punya malu makan darah bangsa sendiri. Mereka juga tak takut Tuhan karena di otaknya cuma UANG. Kita harus selalu berdoa, waspada dan hati hati.

Facebook Comments

About fey down

One comment

  1. Muhammad Armand

    Wah ini pernah menimpa keluarga saya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif