Home » Lain-lain » [OPINI] Dengarkan Keluhan Negaramu Nak!

[OPINI] Dengarkan Keluhan Negaramu Nak!

[OPINI] Dengarkan Keluhan Negaramu Nak!

Indonesia, suatu Negara yang berdiri kokoh dibatas khatulistiwa, kekayaannya akan sumber daya alam dan sumberdaya manusianya menjadi daya tarik tersendiri bagi Negara-negara lain di dunia. Siapa yang tahu, dibalik Negara indah ini, dihuni berbagai macam tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang senang tiasa menjadikan indonesia sebagai lahan bermainnya, demi kesenangan semata.  Mempermainkan segenap supra sistem pemerintahan yang ia susun menyerupai sebuah mainan yang bahkan tidak akan laku di tukang loak.

Ekonomi merupakan supra sistem sebagaimana sistem politik. Artinya ekonomi dan politik adalah pilar utama suatu Negara. Maju tidaknya suatu negeri sangat banyak dipengaruhi oleh bagaimana sistem (tata kelola) ekonomi dan politiknya. Jika kita melihat indonesia, Negara ini menganut sistem ekonomi neoliberal di bawah rezim pusat pemerintahan. Neoliberal adalah sistem ekonomi yang mengutamakan pasar bebas, hingga asing (swasta) bebas menguasai dan mengelola sumber daya alam atau pun perusahaan yang semestinya diambil alih oleh Negara untuk dikelola yang hasilnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat (ummat). Makanya kita melihat, betapa banyak (kalo bukan hampir semua) SDA indonesia yang begitu kaya malah dikelola oleh asing, keuntungan besar pun diraup oleh asing tersebut. Sementara rakyat indonesia kian jauh terpuruk dalam kubangan kemiskinan dan kesengsaraan. Yang perlu diingat, bahwa sistem ekonomi neoliberal ini ditunggangi oleh asas sistem politiknya, yaitu kapitalisme, yang banyak memberikan wewenang kepada para kapital (pemilik modal/pengusaha) untuk mengendalikan kebijakan.

Meminjam istilahnya Thufail alghifari, penguasa “bersetubuh” dengan pengusaha. Makanya tak heran, jika kebijakan politik mau pun ekonomi yang ditetapkan oleh penguasa negeri ini, lebih banyak memihak dan menguntungkan asing dari pada rakyatnya sendiri. Itu sekilas pandangan saya tentang sistem pemerintahan indonesia, khususnya sistem ekonomi dan sistem politiknya, berangkat dari fakta yang saya lihat dan pelajari. “Kita butuh untuk kritis fi’, tapi tidak krisis identitas!” kata seorang sahabat kepada saya sebelum menulis ini. Saya sebagai seorang mahasiswa dan seorang muslim yang tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, keluarga dan golongan. Tapi juga memikirkan kondisi saudara kita yang lain. Soal bagaimana cara menstabilkan dan mensejahterahkan sistem perekonomian, maka seperti biasa saya menawarkan sistem ekonomi islam (tentu saja dengan membawa serta sistem politik islam) untuk menjadi solusi satu-satunya atas segenap permasalahan tersebut. Sistem ekonomi islam memiliki konsep yang didasarkan pada aqidah islam, yakni kepemilikannya dibagi atas 3, yaitu kepemilikan Negara, kepemilikan umum, dan kepemilikan individu.

Negara yang kaya akan sumber daya alamnya malah memilih mengimpor berbagai jenis bahan alam dari Negara lain. Bahkan indonesia yang berstatus sebagai Negara kepulauan malah memgimpor garam mineral dari Negara lainnya. Ada apa ini? kemana semua suber daya kita? Kemana semua pemuda-pemuda indonesia? Akankah kita biarkan Negara tempat kelahiran kita ini dikuasai oleh ulah para tikus-tikus berdasi? Aku begitu malu kepada para pahlawan yang telah menyumbangkan nyawanya demi kemerdekaan Negara ini.

Lebih jauh dari ini, muncul pula dalam benak saya ungkapan kakek yang serupa dalam bahasa Bugis, “Asu tau!” yang lainnya berbunyi “Tau asu!”, terjemahan bebasnya ialah MANUSIA ANJING. Dalam filsafat budaya manusia Bugis dinyatakan bahwa sesungguhnya manusia (TAU) itu terbagi tiga: (1) TAU TONGENG, (2) TAU BAWANG, (3) TAU-TAU. Yang pertama ialah manusia paripurna atau insane kamil. Yang kedua namanya saja manusia. Dia manusia topeng. Yang ketiga ialah topeng manusia yang hanya ada di sawah, fungsinya ialah penghalau binatang. Bahasa Bugisnya ialaha pajo-pajo.

Sampai di sini mungkin sudah bisa kita mengerti mengapa dalam masyarakat muncul istilah manusia tikus, manusia monyet, tikus-tikus berdasi. Hal ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diperangi, tentu saja bukan orangnya, melainkan perangainya. Korupsi itu perlu bahkan harus bisa diperangi, bukan hanya oleh mahasiswa Makassarsaja, melainkan oleh seluruh umat manusia. Jangan sampai korupsi berkembang menjadi budaya, yaitu perbuatan yang dilakukan lagi dan lagi, sampai berulang-ulang karena dinilai menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok. Namun, caa memeranginya juga hendaknya dibuat beradap. Apalagi kita mengatasnamakan diri mahasiswa, warga sivitas akademika.

Sudah waktunya semua pihak turun tangan bagaimana membangun tradisi dalam memerangi korupsi itu, bukan pelakunya. Turun di jalan, berorasi di sana sini, ya ini salah satu cara. Tetapi, cara ini sudah dikesan primitif, menjengkelkan, menghilangkan rasa hormat kita kepada dunia mahasiswa karena betul-betul sangat menyusahkan. Jalan ditutup, macet total, dan hasilnya tidak terukur. Pikirkan, pasti masih banyak cara lain yang bisa dilakukan yang kesannya lebih akademis, bermartabat, mengkondisikan masyarakat mencintai lembaga mahasiswa dan pejuangnya, dan hasilnya insya allah akan lebih efektif (kena sasaran) seperti dengan menulis essai seperti ini.

Sebenarnya korupsi itu adalah dunia gelap dan pelakunya menyukai kegelapan. Musuh yang paling ditakutinya ialah cahaya. Mereka takut pada KPK karena lembaga ini bisa menyorot mereka, artinya bisa membongkar borok mereka. Namun, jangkauan senter KPK masih sangat terbatas. Mahasiswa bisa berkontribusi di sini, yaitu menyediakan untuk tugas investasi. Insya allah suatu waktu para (calon) koruptor akan sangat takut pada lembaga mahasiswa karena takut borok mereka terungkap atau tersorot. Ubahlah perilaku kejahatan korupsi ini dengan mengubah lingkungannya. Pastikan para (calon) koruptor itu sadar bahwa semua mata yang memandang di tempat mereka beraktivitas adalah mata CCTV. Pada waktu yang sama usaha pencerahan harus terus dilakukan di semua lini sehingga setiap orang terkondisi memandang buruk, memandang hina, dan memalukan praktik korupsi itu. Artinya, bagaimana para koruptor itu ‘dipaksa’ merasa malu, nista disorot oleh mata teman-teman sekitar yang bernurani jujur dan bersih. Sekian

Facebook Comments

About fitriandani

4 comments

  1. yakin indonesia akan lebih baik kedepannya sudah banyak orang sadar akan pentingnya bertindak memperbaiki bangsa ini buka hanya bicara berdua dan ngomel2 dsjs

  2. hay hidayat, terima kasih atas tanggapannya, masa depan saya saja tidak bisa saya jamin apalagi masa depan suatu bangsa. saya hanya seorang anak yang ingin menyelamatkan tanah kelahirannya. masa depan negara kita ada dalam genggaman para pemuda indonesia, saya yakin anda masih muda kan? mari bersama mewujudkan sebuah akhir bahagia bagi tanah air tercinta :)
    pilih pemimpin yang benar-benar mampu mengayomi masyarakat, dan be a creative https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  3. Keep rocking on ur writing https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif