Home » Lain-lain » [OPINI] Gotong-royong Membangun (Ulang) Indonesia Baru

[OPINI] Gotong-royong Membangun (Ulang) Indonesia Baru

Tahun ini, 2014, adalah tahun politik. Di tahun ini, kita bakal mempunyai pasangan pemimpin tertinggi yang baru.

Seiring pemilihan umum (pemilu), entah itu pemilu legislatif ataupun pemilu eksekutif, untuk tingkat daerah maupun tingkat nasional, ekspektasi kita meningkat. Kita berharap, kepemimpinan baru akan membawa kebaikan dan perbaikan, sehingga bisa menanggulangi “kerusakan-kerusakan” yang ditimbulkan para pendahulu mereka. Tapi, lucunya, di saat yang sama, kita semua juga “hamil” akan semacam rasa pesimis. Pesimis akan kepemimpinan baru yang sama juga, bahwa mereka hampir pasti tidak akan mungkin mampu membawa perubahan yang lebih baik.

Berharap…. Menunggu…. Berdoa…. Terus berdoa…. Tetap menunggu…. Tak henti berharap….

Dan jarang sekali, bahkan tidak pernah, mengambil insiatif…. Bertindak…. Menjadi pelopor….

Mungkin ada yang begitu. Tapi hanya satu-dua orang…. Satu-dua kelompok… Sudah itu? Tiada!…. Tidak ada yang bergabung secara masif, bersama-sama, seluruh komunitas sebagai satu kesatuan bangsa…. Bergotong-royong…..

Kenapa sih kita selalu dan senantiasa menggantungkan nasib pada orang lain? Mengapa kita tidak membentuk sendiri nasib kita?

Kita berdalih, “Itu semua memang tugas pemimpin!” Salah! Tidak satu makhluk pun yang mampu dan berkewajiban untuk mengubah nasib kita selain diri kita sendiri! Tuhan? Jelas Dia mampu! Namun, Dia tidak wajib melakukan itu. Sebaliknya, kitalah yang Tuhan wajibkan untuk merekayasa nasib dan kehidupan kita sendiri, alih-alih berleha-leha, berdoa, sembahyang, menggantungkan nasib sekaligus tangan-kaki pada Tuhan, seolah-olah Tuhan itu pembantu kita!

Jangan salah sangka! Benar, Tuhan adalah pemilik hidup dan diri kita, dan benar, kita harus berharap hanya pada-Nya semata-mata, bukan pada siapapun. Benar juga, pemimpin itu punya kewajiban untuk mengembuskan angin segar perubahan dan restorasi, mengorbankan tulang lengan dan tungkainya demi pembangunan bangsanya, bahkan menumbalkan nyawanya sendiri agar amanat Tuhan yang diembankan padanya atas kebaikan bangsanya bisa tercapai.

Tapi, pada saat bersamaan, kita harus sadar kebenaran lain: apa yang mau Tuhan lakukan, itu urusan Tuhan sendiri; dan apapun yang menjadi tanggung jawab dan yang dikerjakan para pemimpin, itu adalah urusan mereka sendiri! Bukan urusan kita! Urusan kita adalah mengerjakan tanggung jawab kita sendiri. Yakni memperbaiki nasib diri kita sendiri, sesudah itu, membantu tetangga kita memperbaiki nasib mereka, lalu berperan di lingkungan kita yang lebih besar bagi kebaikan lingkungan tersebut, dan terakhir, kalau diri, tetangga, dan lingkungan terbatas kita sudah mulai beres, kita juga harus dan wajib mengurusi bangsa kita. Ini bangsa kita ‘kan? Kita merasa menjadi bagian darinya ‘kan? Makanya, marilah kita berhenti menjadi parasit! Mulailah menjadi induk semang dan inang pengasuh!

Lagipula, mengapa selalu menudingkan jari pada para pemimpin? Betul, para pemimpin kita hingga saat ini sebagian besar masih belum pada becus. Tapi, coba kita renungkan bersama-sama. Mereka, para pemimpin itu, adalah orang Indonesia juga, bukan? Ya, mereka adalah anak bangsa kita juga! Mayoritas dari mereka, bahkan mungkin hampir seluruhnya, lahir, dibesarkan, dan menghabiskan sebagian besar masa kecil, masa sekolah, masa remaja, dan masa mudanya di Indonesia, bukan? Apa artinya? Berarti, lingkungan mereka, yang dominan membentuk kepribadian mereka, terutama keluarga mereka, adalah lingkungan dan keluarga Indonesia, bukan? Dan itu adalah juga lingkungan dan keluarga kita sendiri, benar? Mereka itu satu produk dengan kita! Mereka itu bahkan adalah produk kita! Kalau begitu, jika kinerja mereka tidak becus, kira-kira, kenapa mereka bisa seperti itu? Memang, faktor intrinsik pribadi mereka adalah variabel yang nilainya paling besar. Tapi, kita tahu, faktor ekstrinsik dari lingkungan, istimewanya keluarga, adalah variabel kedua terbesar, nilainya hanya sangat sedikit di bawah faktor pribadi. Karena itu, bukankah itu berarti kita, yang menjadi bagian dari lingkungan mereka, berperan sangat besar dalam membentuk karakter mereka yang rusak dan destruktif, yang dekaden dan amoral? Dan itu artinya kita sendiri adalah orang-orang yang berkarakter dan bermoral rusak, destruktif, dekaden, dan amoral!

Kemudian, coba kita pikir juga yang ini: tidak ada sesuatu apapun yang besar tanpa sebelumnya berawal dari kecil terlebih dahulu. Jika pemimpin sanggup korupsi besar-besaran, itu karena dia atau mereka memang sudah amat sangat terbiasa dengan korupsi kecil-kecilan! Orang yang sebelumnya tidak pernah satu kali pun melakukan kejahatan, sekali dia berbuat kejahatan besar, reaksinya pasti akan seperti penderita depresi dan kecemasan berat, akibat rasa bersalah dan berdosa yang luar biasa besar membebani hati dan pikirannya. Tapi, lihatlah di televisi! Betapa para pejabat dan petinggi yang korup itu memamerkan tampang yang bukan hanya tidak merasa berdosa, namun sangat percaya diri! Dan memang, mereka memang sama sekali tidak merasa bahwa yang sudah mereka lakukan itu salah. Mengapa? Karena mereka sudah amat sangat terbiasa! Dan tebak, siapa yang membantu dan punya andil besar sekali sehingga mereka menjadi begitu terbiasa? Kita!

Sekarang, mari kita kembali melihat ke cermin. Alangkah sering dan banyaknya perbuatan kita yang tidak benar! Dan (malangnya bangsaku!) yang teramat menyedihkan adalah kita sama sekali tidak merasa bahwa semua itu tidak benar! Sebaliknya, dengan alasan “sudah lumrah”, “semua orang pun begitu”, dan “semua orang juga melakukannya”, kita memandang semua yang salah itu sebagai kebenaran, dan apa yang merupakan kebenaran justru kita anggap sebagai kegilaan, ketidakbenaran! Contoh, masuk atau mengambil teritori orang lain tanpa terlebih dulu mendapat izin yang diberikan secara ikhlas oleh orang yang bersangkutan adalah pencurian, apapun alasannya. Tapi berapa banyak kali kita parkir mobil dan motor kita di depan rumah orang, atau di pinggir jalan seenaknya, atau di manapun yang sebenarnya bukan merupakan tempat parkir? Lalu, berapa banyak kali juga kita taruh jemuran di depan rumah orang lain tanpa memikirkan perasaan dan hak mereka? Itu adalah perampokan! Tapi kita sama sekali tidak menganggap itu perampokan ‘kan? Belum lagi, pengendara yang mengambil jalur busway di Jakarta.

Kita mesti segera sadar, semua itu adalah potensi korupsi! Sekarang kita terbiasa dengan semua itu, ketika kita menjadi pemimpin dan pejabat, dijamin, kita pasti akan melakukan korupsi… sama sekali tanpa merasa!

Akhirnya, mari berhenti menuding siapapun, termasuk para pemimpin! Marilah mulai membereskan diri kita sendiri. Karena kelak, salah satu dari kitalah yang akan naik menjadi pemimpin. Sementara itu, sisa selebihnya dari kita, adalah orang-orang yang membentuk saudara kita yang menjadi pemimpin itu. Ini adalah proyek jangka panjang. Proyek kita semua! Ayo, kita semua, tanpa terkecuali, gotong-royong menyiapkan diri menjadi pemimpin dan/atau menyiapkan diri orang lain menjadi pemimpin, demi membentuk ulang Indonesia menjadi baru! Indonesia baru yang benar dan adil!

Facebook Comments

About Sammy

One comment

  1. katedrarajawen

    Satu semangat yang layak dilestarikan demi Indonsia yang lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif