Home » Lain-lain » [OPINI] Mungkin Negeri ini Sakit Tapi Belum Mati

[OPINI] Mungkin Negeri ini Sakit Tapi Belum Mati

miskin

Meraih posisi teratas sebagai negara paling korup se Asia Pasifik bahkan dunia  bukan lagi merupakan hal asing bagi Indonesia. Para perampok kekayaan negara membagi secuil hasilnya kepada penguasa korup agar mau menjelaskan kepada rakyat banyak bahwa semuanya terkendali. Secuil harta curian itu juga dipakai membiayai aparat hukum agar ikut meyukseskan terselenggaranya perampokan ini. Sumber daya alam melimpah yang dikaruniakan Tuhan untuk negeri ini menjadi surga bagi para penjarah. Ambil apa saja yang mereka mau tanpa harus membagi pada ratusan juta orang Indonesia, cukup “infaq” secuil saja untuk menghidupi penguasa dan aparat yang semakin hari kian berhutang budi pada mereka. Benar-benar hanya secuil saja. Hitungannya, dari satu tambang Freeport saja, nilai total emas yang sudah diambilnya semenjak 40 tahun lalu, bisa dibagi untuk 300 juta orang dengan nominal masing-masing orang sekira 1,3 Trilyun. Dengan uang sebanyak itu tak ada sulitnya mereka membiayai 10 kandidat presiden sekaligus. Kelak siapapun yang menang dari 10 kandidat itu, sang presiden bisa sukses “menghadiahkan” wilayah yang lebih luas lagi untuk bisa dijarah secara “halal”.

Itu baru emas nya Freeport. Indonesia berada di peringkat ke-25 negara dengan cadangan minyak bumi terbesar, dan peringkat ke-8 dunia untuk penghasil gas alam terbesar. Cadangan timah peringkat ke-5 terbesar, peringkat ke-7 untuk tembaga dan peringkat ke-8 untuk nikel. Belum lagi keanekaragaman sumber daya alam hayati dimana di dunia ini hanya Brazil yang bisa mengungguli Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, keanekaragaman sumber daya alam hayati merupakan cikal bakal perkembangan ekonomi berkelanjutan (green economy) di masa depan. Tidak salah Koes Plus mengatakan, “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Kekayaan luar biasa inilah yang membuat orang berebut untuk ikut “memperoleh berkahnya”. Siapa saja yang sukses “membeli” penguasa negeri ini, dia telah mendapatkan jaminan kekayaan yang mengalir tak habis dimakan 70 ribu turunan.

Negeri kita tercinta menduduki peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah RRC, India dan USA, dengan jumlah mendekati 240 juta jiwa. Tentu bukan saja masalah ketersediaan sumber daya manusia untuk mengolah sumberdaya alam yang melimpah, tetapi juga, jumlah penduduk sebanyak itu merupakan potensi pasar yang luar biasa. Produk teknologi, mobil, mesin, elektronika, dan teknologi informasi mendapatkan pangsa pasar terbesar di negeri ini. Artinya Indonesia merupakan tambang uang bagi produk mereka. Berbagai cara dilakukan agar ketergantungan terhadap produk mereka bisa terus bertahan atau bahkan semakin meningkat. Bahan baku boleh saja dari Indonesia tetapi diproses dan diproduksi oleh mereka untuk selanjutnya dijual lagi ke Indonesia. Industri lokal dimatikan dengan “memaksakan” barang impor yang lebih murah. Mereka melakukannya agar tetap mendominasi pasar dan semakin mampu mencengkeram bangsa ini dengan ketergantungan. Tentu saja semuanya bisa dilakukan dengan “membeli” sang penguasa agar mau merekayasa “aturan mainnya”. Imbalannya? Lagi-lagi secuil dari keuntungannya yang berlipat-lipat dari potensi pasar yang sangat besar itu.

Korupsi telah benar benar sukses dipraktekkan oleh penguasa yang dibeli, penguasa yang dibesarkan oleh mereka, penguasa yang gemar merasakan betapa murahnya menggendutkan perut sendiri ketimbang membagi kekayaan alam untuk 240juta orang. 100 Trilyun tak cukup untuk makan seminggu seluruh rakyat Indonesia, tetapi sudah terlalu banyak dan tak bisa dihabiskan oleh sang penguasa, kerabat, dan para penjaga hukum yang mengamankannya. Dan uang sejumlah itu benar benar hanya secuil dari hasil jarahan yang mereka lakukan atas kekayaan negeri ini. Maka seandainya tiap kita adalah penjarah itu, kemudian bebas memilih, maka siapapun akan lebih senang mengeluarkan 100 Trilyun untuk sang penguasa daripada membagikan keuntungan kepada seluruh rakyat Indonesia, yang tentu saja jauh lebih banyak dari itu.

Mungkin benar bahwa negeri ini sedang sakit, tapi pasti belum mati. Negara kaya sumber daya alam seperti ini dimiliki oleh ratusan juta rakyat dengan tingkat kesejahteraan yang termasuk paling rendah di dunia. Penyakit akut yang paling mempengaruhinya adalah korupsi. Pendorong utamanya adalah para penjarah yang mengambil keuntungan dengan memanfaatkan penguasa. Celah terbesarnya adalah penguasa yang bisa dibeli atau memang dibesarkan dan dimunculkan oleh mereka sebagai penguasa.

Secercah harapan untuk Indonesia baru kita 2014 ini. Ditengah pertarungan propaganda para calon penguasa, yang tentu saja bercampur baur semua tangan termasuk para penjarah yang secara halus membiayai mereka, adakah kiranya seorang saja yang memang berdiri untuk bangsa ini dengan kaki dia sendiri dan tidak pernah dibesarkan oleh media mana pun milik para penjarah?  Jika dia ada dan pasti dia ada, dia akan segera menempuh jalan untuk menolak 100 Trilyun untuk perutnya dan mengambil semua kekayaan dari para penjarah untuk dibagikan kepada 240 juta rakyat Indonesia. Semoga.

Facebook Comments

About nowoadhi

One comment

  1. Yang bisa menjadi pemimpin berani hanyalah pemimpin yang tidak terikat (berhutang budi) pada siapapun

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif