Home » Lain-lain » [MBLR] Nikah Yuk

[MBLR] Nikah Yuk

Oleh Yulianti Zunior (No.3)

 

 

17  November 2013

Pukul 12.20 WIB

“Aih, aku dapat hadiah jam tangan loh kemarin dari Rendi,”cerita Mimi mengenai hadiah yang diberi pacarnya, sudah menjadi hal yang biasa didengarnya. Rekan kerjanya, hampir semuanya memiliki kekasih. Hanya dia sendiri yang memilih single. Dia berprinsip “setiap manusia itu sudah punya pasangan masing-masing, tinggal menunggu saja. Daripada bertemu dengan orang yang tidak tepat, tidak jodoh, hanya meninggalkan luka. Dia tidak perduli, pada luka pasangannya, yang dia khawatirkan luka dihatinya sendiri. Cukuplah pengalaman 3 tahun lalu sebagai pelajaran berharga baginya.

Ingatannya melayang pada sesosok lelaki Fahri. Fahri Hanan. Lelaki yang telah memberinya sebuah luka. Dia masih ingat betul bagaimana Fahri mendatanginya, membuat Inna memberi hati padanya, mencintainya, melalui hari-harinya dengan indah, apalagi saat Fahri mengatakan, jika ia membangun hubungan hanya untuk menikah. Gadis itu begitu percaya menaruh seluruh cintanya pada lelaki perwira muda  polisi itu. Betapa romantisnya setahun bersama Fahri. Ayah, ibunya, Iman, adiknya sudah menganggap Fahri sebagai menantu, kakak. Namun, setelah setahun, dia di campakkan begitu saja. Dengan sebuah sms, Maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, karena aku sudah dijodohkan ibuku dengan gadis lain. Begitu saja. Begitu marah dan begitu lukanya Inna. Sebagai gadis muda, itu sungguh pengalaman yang menimbulkan trauma.

Haloow  Inna, melamun aja, bagaimana bagus kan Alexander Christy ini?”celoteh Mimi membuyarkan lamunanya, di jam makan siang.

“Iya keren.” sahutnya singkat.

“Gitu aja responnya?”Mimi manyun.

“Udah deh Mi, mau pesan apa, aku mau pesan gado-gado sama air putih aja, ikutan?” tanyanya pada sohib centilnya itu.

“Oke, boleh deh. Baydewey, Na, kenapa sih betah menjomblo? Tuh Rahmat suka loh sama kamu, tadi aaja dia titip salam untuk kamu.” Mimi menyebut tetangganya yang berprofesi polisi itu.

“Bagaimana ya? Hatiku kurang tertarik untuk pacaran-pacaran begitu. Kapok.” Jawabanya ketus.

“Aih, kamu enggak lesbi ‘kan?” tanya Mimi seraya menyipitkan matanya sebelah kanan.

“HEI, mau kusiram pake gelas ini, apa!” Suara Inna meninggi. Mimi merasa serba salah. Makan siang kali itu berjalan dengan tidak nyaman.

Salahkah jika aku memilih menjadi jomblo? Batin Inna menghela nafas panjang. Gadis 24 tahun, yang berprofesi sebagai teller di sebuah bank, di Lahat. Sebuah kota kecil di selatan Sumatera.

***

20 November 2013.
Pukul 20.30 WIB.

Mimpiku yang sederhana saja. Umur 25 tahun, aku menikah. Punya suami yang tampan lagi sholeh. Keluaran S2 Luar negeri, Tinggi 170 cm. Berkacamata. Dan, bisa punya rumah kecil, punya mertua yang baik. Punya anak empat. Tulisnya pada diary hijaunya. Sahabat yang tak pernah membantahnya. Gadis berambut ikal mayang itu tersenyum sendiri. Ah mimpi. Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Inna menarik nafas panjang. Dibacanya kembali tulisan tinta biru itu. Ah, bener-bener mimpi, fikirnya geli sendiri.

“Tapi, bermimpi itu gratis ‘kan?”ucapnya pada diri sendiri.

Setelah selesai melakukan rutinitas wajibnya, yaitu menulis diarynya, Inna memutuskan bercengkerama dengan laptopnya, browsing berita di internet. Dibukanya facebooknya. Ada 50 pemberitahuan, dan ada 2 yang mengajak pertemanan. Andini Rahmadani, oh teman kuliahnya dulu. Satunya Wendi Anto Akbar. Entah siapa. Membuat keningnya berkerut. Siapa ini?

Dikliknya tulisan biru Wendi Anto Akbar. Hei, lelaki tampan, berkacamata. Tapi siapa? Di kliknya Tentang, Pernah bersekolah di SMA Negeri 9 Lahat. Bekerja sebagai Peneliti di departemen kemenetrian di negeri ini. Satu sekolah dulu fikirnya, tapi dia lahir 4 Mei 1984.  29 tahun, 5 tahun, diatasnya. Kok bisa mengajak saya berteman? fikirnya. Inna mengklik tulisan 2 Teman yang sama, oh temannya Kak Affan, sepupunya.

Dia pun mengkilik kotak bertulisan Konfirmasi Teman.

Ada satu pemberitahuan, “Thanks ya sudah mengkonfirmasi.” dari Wendi Anto Akbar.

Dan, Inna pun terlibat obrolan di facebook. Pertukaran nomor telpon genggam dan yahoo messengger, serta pin blackberry pun terjadi. Hari-hari Inna setelah itu, penuh keakraban dengan persahabatan di dunia mayanya dengan Wendi Anto Akbar. Mulai dari hobi membaca Conan, cerita soal makanan, sampai impian hidup masing-masing.

***

Sebulan berlalu. 2o Desember 2013

Seperti biasa, bbm dari Wendi mendarat di androidnya. “Semangat pagi Inna. Semoga harinya menyenangkan.” Inna tersenyum, ini tepat kata-kata yang sama mendarat ke 30kalinya. Satu bulan, separuh hatinya, sudah diserahkannya kepada Sahabat mayanya, yang belum sekalipun bertemu. Tapi, untuk kesekian kalinya, ditepisnya rasa yang indah itu dalam hatinya. Dia tidak mau terluka lagi.

Inna bergegas melajukan Mio merahnya ke tempat kerjanya. Melakukan aktivitas seperti biasa.

“Mbak, kalau mau membuka tabungan bagaimana?” Inna menatap yang bertanya. Hei, wajahnya tak asing. Inna menyipitkan matanya . Hei, Wendi. Astaga. Wajahnya memerah. Dia di Lahat? Bukankah dia di Jakarta. Atau semua isi datanya di facebook palsu semua. Tapi foto di facebook sama seperti aslinya.

“Wendi?” Lelaki itu tersenyum, mengangguk. “Aku tunggu makan siang nanti ya.” Inna masih dalam keterkejutannya.

“Siapa itu Na?” tanya Mimi menyelidik. Inna menoleh ke Mimi,” Ada lah seseorang…”. Dia meneruskan kerjaannya, dengan tak sabar hatinya menunggu istrirahat siang.

***

“Hei! Kapan di sini? Jangan-jangan kamu orang sini ya.” tanya Inna gencar setelah mendaratkan pantatnya di lesehan Mak Juleha.

Hahahaha…Wendi tertawa., “kira-kira?”

Kok bisa sampai kesini?”

“Aku ‘kan dulu pernah tinggal disini, Sampai SMA aku di sini. Jadi, taulah…”Wendi tertawa. Inna menatap Wendi. Tampan sekali. Pasti sudah punya kekasih, fikirnya. Wendi pun menatapnya tajam.

“Kamu manis sekali ternyata ya aslinya.” Membuat Inna menunduk dan mengalihkan pandangannya.

“Mau minum apa?” tanyanya pada Wendi, Inna berusaha menetralisir perasaannya dan rasa salah tingkahnya. Wendi tersenyum. Lelaki itu hanya mengikuti nalurinya dalam pencariannya.

“Air putih saja.” Jawab Wendi dengan tak lepas menatap wajah didepannya. Fahri sudah aku temukan, batinnya.  ter

“Inna, nikah yuk.” Inna terdiam. Lelaki didepannya ini, baru sekali bertemu, rumahnya dimana, anak siapa, aiiih, mimpi apa ini? kepalanya mendadak pusing. Seribu pertanyaan mendarat dikepalanya. Apa kata ayah, siapa dia? anak siapa? berapa saudaranya. Inikah jodohnya?

“Tidak perlu terburu-buru, istikhorohkanlah. aku akan menunggu.” Wendi tersenyum. Inna terjengah.

“Ini pembicaraan berat sekali ya, sepertinya bermain-main. Maaf, aku belum bisa bermain-main mengenai soal seperti ini.”katanya tegas.

“Siapa yang bermain-main, aku serius. Seserius aku sampai ke sini. Aku sudah 29 tahun Na. Pekerjaan aku sudah punya, ayah ibu sudah mengharapkan aku menikah, sekolah aku sudah, adikku sudah mau menikah. Aku harus menikah duluan Na.”

“Sepertinya di Jakarta tidak ada perempuan saja, sampai mencari kesini, enggak lucu sama sekali kalau di Jakarta tidak ada yang mau.”

“Kalau aku maunya kamu, gimana?” Jawab Wendi lugas. Inna terdiam. Dia melihat casionya, 12.45.
“Aku harus ke kantor, lagian aku belum dzuhur. Nanti, kita bicara lagi.”Inna meninggalkan Wendi sendiri. Wendi membuka androidnya, mengetik bbm, “Fahri, aku sudah menemukannya. Cantik, dia cantik sekali. aku mau menikahinya.” dikirimnya ke Fahri. Taklama bbm balasan pun tiba di android Wendi,”Bukan Jodoh ku Bro. Jodohmu mungkin, aku merestui” Wendi tersenyum.

***

20 Mei 2014

Pukul  17.00. Pulau Belitong.

“Dulu, setelah SMA, kenapa pindah ke Jakarta yank?” tanya Inna pada Wendi, duduk sambil menatap mentari akan tenggelam, di tepi pantai di Belitong. “Ayah pindah ke Jakarta. Untungnya, aku lulus ambil tehnik Mesin UI,”
“Lalu, kok bisa tembus MIT? ”

“Yah, mungkin faktor Luck juga.” Jawab Wendi membelai rambut Inna.

“Aku bersyukur atas semua itu, dan paling bersyukur, ketika aku begitu beruntung menemukanmu.”Wendi mencium pipi Inna.

Tau yank, bagaimana aku bisa menemukanmu, itu karena Fahri.” Ujar Wendi menatap mentari, Inna terkejut bukan main.

“Bu-bukannya kamu berteman dengan kak Affan?” tergagap Inna dalam keterkejutannya,

“Affan, iya teman, tapi aku berteman baik dengan Fahri, dia bilang, kalau ingin mencari  istri, coba temukan seseorang bernama Innayah Salsabila. Dia menyesal meninggalkanmu. Dia  tidak dapat membantah ibunya yang tinggal sendiri. Yang sudah punya calon buat Fahri.  Tapi, sudahlah, jodohmu itu aku sayangku,” Wendi merangkul Inna erat, menikamati mentari yang tenggelam. Indah sekali, seindah cinta mereka. Seindah mimpi diatas mimpi Inna yang menjadi kenyataan.

 

desaku

Pengumuman :
1. Kepada peserta Lomba Cerpen – Desa Rangkat, mohon segera mem-posting karyanya sebelum tanggal 10 Januari 2014
2. The Best 5 – Lomba Opini bisa di baca disini

Facebook Comments

About YuliantiZu

7 comments

  1. asssiikkk pertamax…. wkwkwkkwkw… finally posting akhirnya mbak, hehhehehhehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

    • Tau ini, cerbu ceritanya, cerpen buru-buru. Masih kebawa nonton drama korea ini , romantic maksa. :D….. Caiyo Rangkat!

  2. Aiiiiihhh… Serasa pulkam waktu bacanya. Sayang setting lokasinya kurang banyak. Kalo banyak, makin rindu neh buat pulkam…

    True story yg difiksi-kan kah ini? Siiip… Keren nian euy…

  3. I̶y̶a̶a̶a̶a̶a̶, mantabh romantisna euy (y)

  4. namanya bukan jodoh ya mbak Yuli, cinta Wendy yang nyata, inspiratif :)

  5. manisnyaa……cinta slalu tau muaranya berakhir…:)

  6. sippp bu guru…
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif