Home » Lain-lain » Diciptakan Bukan untuk Membenci

Diciptakan Bukan untuk Membenci

stock-photo-a-red-octogon-shapped-sign-reading-stop-the-hate-symbolizing-the-need-to-end-intolerance-racism-128264933

Diciptakan Bukan Untuk Membenci
Setiap kali berada di tanah air,bagaikan pengelana,saya dan istri berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Menemui ratusan orang,mendengarkan dan berbicara dengan mereka. Dan mencoba berbagi pengalaman hidup .Memotivasi mereka,agar bangun dari mimpi mimpi buruk..Kita tidak mungkin bisa melakukan hal hal yang besar,karena berbagai keterbatasan yang ada dalam diri. Tetapi yakin, kita bisa melakukan hal hal kecil,yang mungkin dapat membawa perubahaan besar bagi hidup orang lain.

Apa yang saya cari? Popularitas diri? Sanjungan? Syukurlah hati saya menjawab:” Tidak”. Karena saya sudah meliwati semua rintangan rintangan tersebut selama hidup hampir 71 tahun di dunia ini.Satu satunya harapan saya,adalah menjadikan hidup saya bermanfaat,disela sela saya juga menikmati setiap perjalanan saya bersama dengan istri tercinta. Saya memahami bahwa ada jutaan orang hidupnya terpuruk,bahkan bergulir hingga dititik nadir,bukan karena kurangnya materi,tetapi karena batin yang terluka. Jiwa yang terbelenggu oleh dendam dan kebencian. Hal ini setiap saat akan berubah menjadi mimpi mimpi buruk ,yang mengerogoti hidup mereka luar dalam.
Mimpi mimpi buruk mereka,walaupun diwarnai dengan berbagai ragam corak hidup,namun memiliki versi yang sama,yaitu: sakit hati dan dendam. Karena dalam perjalanan hidup,mereka pernah disakiti dan dihianati oleh orang orang yang selama ini disayangi. Bahkan tidak jarang,adalah anggota keluarga sendiri.

Salah satunya bu Yanti (bukan nama sebenarnya)berasal dari Bandar Lampung.Berprofesi sebagai seorang guru. Tidak ada hari tanpa pingsan. Ia bisa pingsan dimana saja. Sudah berobat ke mana mana,tetapi hasilnya tetap sama,yaitu tiada hari tanpa pingsan. Bahkan ia sudah ke Psikiater. Di beri obat obat penenang,yang hanya memperburuk kondisinya.

Pendekatan hati:
Saya mencoba berbicara dari hati ke hati. Ternyata wanita ini menyimpan dendam dan kebencian terhadap sahabat baiknya,yang telah ditolongnya ketika dalam kesulitan,tetapi ternyata kemudian menghianatinya. Ketika berbicara,matanya berapi api .menunjukkan rasa dendam yang menyala nyala dalam jiwanya. “Coba bapak bayangkan,dia datang memohon mohon untuk meminjam uang,karena rumahnya mau disita oleh Bank.

Karena sahabat baik,maka saya tidak tega menolak permohonannya. Saya pinjamkan Sertifikat Tanah,yang saya beli dengan susah payah. Dengan catatan,ia akan mengembalikannya segera setelah tanah perkebunannya terjual” Tetapi sejak hari itu ia tidak pernah datang lagi. Saya datangi rumahnya. Jawabannya:” Maaf,tanah perkebunannya belum ada yang mau beli”Sungguh saya sangat sakit hati…Sejak saat itu saya mulai sakit sakitan dan kemudian sering pingsan.

Bapak bisa bayangkan…sakitnya di hianati… Bagaimana mungkin saya bisa memaafkan orang seperti itu?!” Orang yang tidak pernah merasakan,bagaimana sakitnya dihianati,memang sangat mudah mengatakan untuk memaaafkan pak.” katanya ,masih dengan nada yang penuh kebencian. Saya membiarkan bu Yanti mengeluarkan semua unek unek yang ada di hatinya,hingga ia puas dan kemudian berdiam diri.Baru saya mulai berbicara.
“Saya sudah dengar cerita ibu. Sekarang boleh saya bicara?”
“ Ya bolehlah pak “ Kata bu Yanti.
Saya ceritakan sepotong kisah hidup saya,betapa berkali kali saya dihianati:
Pengalaman saya pertama ,merasakan bagaimana sakitnya dihianati ,adalah oleh sahabat saya di Singapura. Yang sudah seperti keluarga. Bahkan selalu mengatakan :” Efffendi,you are my best friend. You are my brother..believe me..trust me. I dont running with your money…ternyata kemudian “menyimpan “ uang saya untuk selama lamanya.(Nilai dari 65 ton barang) Pengalaman kedua adalah anak angkat kami,yang sudah kami didik bertahun tahun dan diberikan kepercayaan penuh,untuk memegang kunci gudang barang barang yang akan kami ekspor. Ternyata ketika kami keluar negeri.125 ton barang lenyap dari gudang dan tidak pernah kembali lagi bersama orangnya.

Pengalaman ketiga : seorang tukang beca ,yang saya didik dan saya modali agar bisa menjadi pengusaha.ternyata modal yang saya pinjami (tanpa bunga ,tanpa bagi hasil),dibawa kabur.Pengalaman keempat : seorang anak yang sejak dari kelas 4 SD kami didik,hingga kemudian menikah. Kami pinjamkan uang untuk membeli 3 buah truk pengangkut pasir.,ternyata juga hilang tak tentu rimbanya.Pengalaman kelima: seorang sahabat baik saya, memfitnah saya,sehingga saya masuk tahanan dan menderita lahir batin, Dipermalukan dan di shooting oleh salah satu TV nasional. Wajah saya ditayangkan sebagai :”tersangka” pelaku kejahatan….. Bu Yanti ,mengerti bagaimana perasaan saya ,ketika wajah saya ditayangkan oleh stasiun TV sebagai tersangka kasus kejahatan? Saya sudah menjalani semuanya bu..

Kata kata yang mampu mengubah hati
Bu Yanti terdiam.matanya berkaca kaca dan kemudian menangis . Setelah ia mulai tenang,saya tanyakan : “Menurut bu Yanti,apakah penderitaaan saya kurang cukup?”
Si ibu tidak menjawab,malahan tangisnya semakin keras
“Mereka semua sudah saya maafkan bu Yanti.. Dan ternyata semua penghianatan itu,tidak mampu menghadang hidup kami. Bahkan rejeki kami bisa datang dari mana mana saja..Kalau boleh saya sarankan:” Maafkanlah mereka yang menyakiti dan menghianati kita bu Yanti. Percayalah bila bu Yanti mau memaafkan,maka bu Yanti akan sembuh” Kita diciptakan bukan untuk membenci….. Kami berpisah….namun mata bu Yanti yang tadinya penuh dengan dendam kesumat,sekarang sudah berubah teduh…Saya berdoa semoga ini menjadi obat yang akan menyembuhkannya.

Terima S.M.S.
Seperti biasa,bila sedang berada di tanah air,setiap hari ,minimal saya menerima sekitar 100 sms setiap harinya dan semuanya pasti saya jawab. Salah satu yang menarik adalah dari bu Yanti,isinya:
“Alhamdulilah Pak Effendi,sudah seminggu saya tidak pingsan lagi. Luar biasa ,saya bisa memaafkan sahabat yang menghianati saya! Sungguh,saya sudah menemukan titik balik dari kehidupan saya yang selama ini merana karena dendam kesumat”
Luar biasa Pak Effendi,hari ini untuk pertama kalinya saya bisa bersyukur,memandangi matahari terbit. Bahkan melihat pepohonan bergoyang dan burung burung berkicau,sudah mampu melahirkan rasa syukur saya kehadirat Tuhan. Yang selama bertahun tahun,tidak pernah lagi saya rasakan. Karena hati dan jiwa saya terbelenggu oleh dendam dan kebencian..”
Bapak benar. Kita diciptakan bukan untuk membenci,tapi untuk mencintai sesama. Terima kasih tak terhingga.semoga Tuhan membalas semua kebaikan bapak dengan berlipat ganda…”
Renungan:
Saya tidak tahu,rasa syukur siapa yang lebih besar,diantara kami berdua. Bu Yanti bersyukur,karena ia sudah menemukan kembali titik balik dari kehidupannya. Ia berbahagia,karena sudah mampu mengalahkan diri sendiri,setelah belasan tahun selalu terbelenggu oleh dendam. Sisi lain,saya juga bersyukur,karena usaha saya untuk membangunkan orang dari mimpi mimpi buruknya,ternyata ada hasilnya.. Salah satu adalah bu Yanti.
Karena berbagai keterbatasan,kita tidak mungkin melakukan hal hal besar setiap hari dalam hidup . Tetapi kita bisa melakukan hal hal kecil ,yang mungkin dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi orang lain dan dapat mengubah hidup mereka.Sesungguhnya kita diciptakan bukan untuk saling membenci,tapi untuk mengasihi..Hatred cannot be end by hatred,but by love.
Wollongong, 13 Februari,2014
Tjiptadinata Effend

Facebook Comments

About tjiptadinata effendi

One comment

  1. katedrarajawen

    Dari info yang saya baca, penyakit manusia kebanyakan , sekitar 70 peren, akibat tidak bisa memaafkan, dan ini tentu ada pengaruh kebencian. Artikel yang sangat bermakna, Pak Tjipta, terima kasih

    salaman

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif