Home » Lain-lain » RETAS EGO POLITIK DAN FANATISM: SATUKAN CITA DALAM KEBHINEKAAN MENUJU INDONESIA SATU PASCA PEMILU 2014

RETAS EGO POLITIK DAN FANATISM: SATUKAN CITA DALAM KEBHINEKAAN MENUJU INDONESIA SATU PASCA PEMILU 2014

RETAS EGO POLITIK DAN FANATISM: SATUKAN CITA DALAM KEBHINEKAAN MENUJU INDONESIA SATU PASCA PEMILU 2014

Oleh:

Muh Ruslan Afandy

            Indonesia merupakan Negara demokrasi terbesar di Asia. Sebagai Negara demokrasi sudah selayaknya kedaulatan rakyat diskala prioritaskan, dalam proses bernegara mengingat bahwa esensi Negara demokrasi yaitu mengutamakan hak rakyat diatas segalanya. Salah satu hak yang dijamin dan dilindungi oleh Negara adalah hak untuk memilih dan dipilih dalam proses berdemokrasi. Jaminan hak tersebut diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan pemilihan umum(pemilu) yang terdiri atas pemilu legislatif (anggota DPR, DPD, dan DPRD) pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta pemilihan Kepala dan Wakil Kepala Daerah. Kita tentunya patut bersyukur dan mengapresiasi diselenggarakanya pemilu, karena telah menjadi media penyalur aspirasi kita untuk memilih pemimpin Indonesia kedepannya.

 

Pesta demokrasi telah kita laksanakan, berbagai manuver mewarnai pemilu di tahun 2014 ini, dimana manuver tersebut benar-benar merasuk ke kita semua, salah satunya adalah tingginya tensi politik antar peserta pemilu maupun antar pemilih. Hal ini sebenarnya telah menjadi hal yang lumrah setiap pesta demokrasi diselenggarakan, dimana masing-masing kandidat berlomba-lomba untuk menarik simpatik masyarakat, melalui berbagai cara baik yang legal misalnya kampanye politik sampai kepada cara yang illegal pun dilakukan misalnya money politik, kampanye hitam dan intervensi politik, tak cukup dari situ para pemilih pun tak mau ketinggalan berlomba-lomba untuk mengunggulkan kandidat pilihanya dan bahkan turut serta menarik masyarakat untuk memilih kandidat pilihnnya. Jika melihat kondisi tersebut faktor utama yang menyebabkan hal tersebut adalah tingginya ego politik dan fanatism peserta/ kandidat pemilu dan pemilu.

 

Tingginya ego poltik membuat peserta/ kandidat pemilu yang paling pantas/layak dan capable untuk dipilih oleh rakyat dibanding peserta/ kandidat lainnya, disisi lain jika ego politik juga menjangkiti para pemilih membuatnya berpandangan bahwa kandidat pilihannya yang paling layak untuk di pilih. Hal ini patut dicermati bahwa jika ego politik yang tinggi masih ada diantara peserta/ kandidat pemilu dan pemilih pasca pemilu 2014, maka dikhawatirkan akan memicu konflik baik secara vertikal maupun secara horizontal antara pemilih dengan pemilih, peserta/ kandidat pemilu dengan peserta/ kandidat pemilu dan bahkan kita ketahui sekarang adalah konflik antara peserta/ kandidat pemilu dengan penyeleggara dan pengawas pemilu melalui jalur litigasi (hukum). Tak hanya ego poltik yang tinggi, fanatism yang tinggi pun bisa menjadi “bom konflik” yang sewaktu-waktu bisa meledak. Hal ini karena bagi peserta/ kandidat pemilu yang fanatik tinggi terhadap jabatan yang diinginkannya tidak tercapai atau dengan kata lain tidak terpilih dalam pemilu 2014, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan crash. Disaat yang sama jika fanatism tinggi juga menjangkiti para pemilu, dikhawatirkan memicu terjadinya “sikap apatis” terhadap penyeleggaraan pemerintahan, karena menurutnya kandidat pilihanya yang pantas untuk memerintahnya.

 

Konstalasi dampak dari ego poltik dan fanatism pada pemilu 2014 memang kita akui bersama bahwa masih dalam kondisi yang wajar atau dengan kata lain belum mencapai titik akut, hal ini bisa diketahui dari konflik yang muncul adalah soft crash yang berupa perang informasi ( penyebaran berita/fakta yang buruk dari peserta/ kandidat pemilu), intimidasi yang tanpa kekerasan untuk milih salah satu peserta/ kandidat pemilu, sampai kepada jalur hukum yang diambil oleh peserta/ kandidat pemilu (gugatan). Namun patut kita cermati bahwa walaupun dampak ego poltik dan fanatism yang tinggi pada pemilu 2014 didominasi oleh soft crash, bukan berarti kita lantas bernafas lega, justru kita masih perlu was-was mengingat tensi pemilu 2014 belum berakhir, seperti yang kita ketahui bersama bahwa proses hukum pemilu, khususnya PILPRES 2014 masih berlangsung dan akan berakhir setelah diputuskan oleh majelis hakim Mahkamah Konstitusi pada tanggal 21 Agustus 2014.

 

Melihat kondisi tersebut, dalam rangka menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban sekaligus menjaga rasa persatuan dan kesatuan Negara kita tercinta ini, maka sudah saatnya rasa ego politik dan fanatism yang tinggi “di retas atau dihilangkan” dibumi pertiwi pasca pemilu 2014. Dan jika hal ini benar-benar di implementasikan oleh peserta/ kandidat pemilu yang kalah dalam pemilu serta pemilih yang kandidat pilihnya kalah, maka “cita kebhinekaan” yang menjungjung tinggi persatuan dan kesatuan akan terlaksana dengan baik dan dengan demikian akan menstimulasi terselenggaranya pemerintahan yang baik (good governance), pemerintahan yang pro- rakyat, pemerintahan yang bersih dan pemerintahan yang tidak apatis (didukung oleh seluruh warga Negara Indonesia). Tentu hal ini bisa menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik bagi Negara kita tercinta di usianya yang ke- 69 tahun. Akhir kata mengutip pernyataan pakar politik dari Stanford University, Thomas J.J Kern yang mengatakan “ Ketika perbedaan pandangan muncul dalam sistem pemerintahan maka niscaya hancurlah sistem pemerintahan tersebut, sebaliknya ketika persamaan pandangan muncul dalam sistem pemerintahan maka niscaya, kokoh/kuatlah sistem pemerintahan tersebut.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

About MUH RUSLAN AFANDY

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif