Home » Lain-lain » Sanksi Tanpa Landasan Hukum

Sanksi Tanpa Landasan Hukum

Saya kadang menonton acara Homecide Hunter dari Fox TV. Ceritanya serial tentang pengungkapan pembunuhan yang dipimpin oleh Lt. Joe Kenda. Acara ini menarik karena model bedah kasus dan sungguh-sungguh peristiwa yang pernah terjadi. Lalu diperankan ulang oleh para model/ figuran. Yang kemarin baru saja saya saksikan adalah kasus pembunuhan ibu rumah tangga. Pulang belanja dengan kawannya, tasnya dirampok dan ia dibunuh oleh seorang pria bertopeng tak dikenal.

Kasusnya memusingkan Lt. Joe Kenda sebagai pemimpin investigasi. Pasalnya ibu dari tiga anak ini orang yang sangat baik, manis, lembut, tidak ada dosanya. Singkatnya ibu rumah tangga bahagia sejahtera. Punya suami yang juga tinggi, gagah dan tampan. Jadi apa masalahnya? Rasanya agak aneh, kalau seorang ibu ditembak hanya karena seseorang ingin menjambret tasnya? Pembunuhnya disebut sebagai pria yang agak pendek dan tidak dikenali wajahnya karena mengenakan topeng. Suaminya yang jangkung langsung dicoret dari daftar tersangka oleh para penyelidik. Pelakunya pasti bukan si suami, kata Lt. Joe Kenda.

penghakiman

foto: meetville

Dipandang kasat mata rasanya rumah tangga bahagia dengan tiga anak tidak ada cacatnya. Apa yang salah dengan ibu tersebut? Hingga ia dibunuh dengan pistol pelurunya besar, kaliber 45. Yang menarik lagi, bisa dipastikan pistol yang digunakan adalah senjata antik, bukan senjata biasa. Bisa jadi senjata milik kolektor. Ini nih, keahlian penyidik investigasi yang harus dipelajari! Lalu mereka mulai menyelidiki dan bertanya-tanya pada si suami. Apakah ada yang aneh? Apakah ada yang memusuhi ia dan istrinya? Si Suami menjawab, kehidupan keluarganya baik-baik saja, happy. Nggak jelas kenapa ada penjahat yang ingin membunuh istrinya? Joe Kenda tetap melakukan tanya jawab. Si Suami lalu menyebutkan bahwa ternyata ia hobby fitness. Hampir tiap hari nge-gym.

Dari fakta itu Joe Kenda melacak. Ditemukan bahwa ternyata sang suami punya ‘selingkuhan’ WIL, teman nge-gym. Temannya ber-fitness. Yang hebat wanita ini bersuamikan Kapten investigator militer. Wah, nggak enak dong ya! Joe Kenda bisa tersangkut konflik penyelidikan dengan suami si wanita. Tapi Joe Kenda tetap menyelidiki tanpa rasa segan dan takut. Yang pasti kejahatan harus terungkap. Lambat laun ketahuan kalau si Kapten ini kolektor senjata antik pula! Kemudian ketahuan juga bahwa senjata pistol antiknya kaliber 45 baru saja ditembakkan. Ternyata yang menggunakan adalah istrinya! Jadi si WIL lah yang membunuh istri sah dari pria temannya nge-gym. Suaminya yang Kapten militer justru bersih dan tidak bersalah dalam hal apapun juga.

Diusut lagi ternyata wanita ini membunuh diperintah oleh SUAMI KORBAN! Wow,….sungguh-sungguh cerita konspirasi yang aneh. Jadi sambil selingkuh, sambil dicuci otak oleh lelaki ini–suami korban. Ia tidak betah karena istrinya sakit lupus, merepotkan dan jika si istri meninggal maka suami akan dapat uang asuransi kematian. Apalagi jika meninggalnya terbunuh, asuransinya akan berlipat. Suami korban terus mencuci otak WIL nya agar melakukan itu. Jadi wanita ini menyamar menjadi pria, menggunakan kemeja dan celana suaminya, menggunakan topeng dan membunuh istri kekasihnya dengan darah dingin.

Masalah ini sangat aneh karena si suami mengaku sudah lama tidak betah dengan istrinya yang sakit lupus, padahal sakit lupusnya ternyata jenis yang paling ringan dan mudah diobati. Bukan jenis penyakit yang berat. Si suami ini sangat pandai mencuci-otak WIL nya dengan mengatakan, “Kita sudah berbuat dosa dengan berzinah, tidak ada salahnya kita tambahi dengan dosa pembunuhan. Yang penting setelah semuanya beres, kita berdua mengaku kepada Tuhan dan mohon ampunanNya,…” Lt. Joe Kenda ketika menceritakan ini melirik pada penonton televisi, “Seriusssss cooooy, percaya ginian??” ujarnya. Ha-ha! Tapi demikianlah si WIL saking cinta berat pada suami orang tersebut lalu membunuh istrinya. Dengan suaminya sendiri, si Kapten militer yang jujur, mereka sudah pisah ranjang. Sudah sering cekcok. Hmm,...

Orang-orang terheran-heran. Kalau memang sudah tidak cinta pada istrinya, mengapa suami korban tidak minta cerai saja?? Kenapa harus menyuruh orang lain membunuh istrinya? Suami korban ini dalam mencuci -otak wanita yang menjadi WIL-nya menyitir kata-kata kitab suci dan keagamaan. Saya hanya berkesimpulan, ia penganut suatu agama yang taat, tapi tidak bahagia dengan pernikahannya. Untuk cerai, sepertinya tidak bermoral. Untuk meneruskan ia sudah tak tahan. Namanya orang udah nggak suka dan cinta, tidak ada alasan apapun — pokoknya sudah tidak berminat. Titik! Maka terjadilah tragedi yang mengerikan itu.

Disisi lain. Di bumi Indonesia, tadi saya baca ketua KPK baru saja memecat salah satu pegawai di jajaran KPK alasannya,… SELINGKUH. Saya agak heran. Bagi saya sanksi sosial dan sanksi hukum itu rasanya tidak dapat disamakan. Mencuri/korupsi ada hukumnya hitam diatas putih dan memang bisa menerima konsekwensi masuk penjara. Tapi selingkuh lalu dipecat?? Saya agak kurang setuju. Selingkuh, berkeimanan dan berke-TUHAN-an itu masalah yang pribadi. Apa iya harus dihukum pecat?? Entah juga kalau di persyaratan pekerjaan kantor KPK memang menyebutkan ketahuan selingkuh akan langsung kena pecat.

Saya hanya mencoba melihat lebih jernih. Apa iya kita boleh menilai orang lain seperti itu? Selingkuh itu ngga bener, jauhi, musuhi, hukumlah mereka yang selingkuh! Jadi KITA SENDIRI  –> JANGAN SAMPAI TERPELESET DOSA. Wah? Yakin ya?… Apa iya manusia bisa seyakin itu dirinya akan menjadi malaikat selama hidup didunia? Maka saya katakan berkeimanan dan berke-TUHAN-an itu masalah yang sangat pribadi. Agamanya apapun jika kehendak BAIK yang memimpin dirinya, selama di dunia ia akan selamat. Sebaliknya selama ada kehendak-kehendak TIDAK BAIK, bisa jadi manusia akan terpeleset dan berbuat dosa. Masalahnya, menurut saya semua manusia RENTAN dosa. Tidak ada yang steril. Maka agak kurang tepat jika menemukan orang yang berbuat salah hanya pada efek pribadi si pembuat salah (tidak merugikan perusahaan dan orang lain, kecuali suami/istri WIL nya) lalu diberikan SANKSI HUKUMAN, seperti ketua KPK memecat pegawainya yang selingkuh.

Menurut saya perselingkuhan dan perzinahan itu sanksinya tidak perlu dibuat model legalitas, tetapi lebih kepada pembinaan masalah moralitas dan sanksi sosial. Tanpa dihukum pun secara langsung, mereka sebenarnya masih berkutat dalam benang ruwet kehidupan. Masalah perasaan memang sesuatu yang sulit dikontrol. Banyak orang yang secara mendadak dikuasi emosi alias perasaan –> GALAU ABIS, lalu mendadak dangdut jatuh cinta! Halah, ngga usah ABG, aki-aki juga masih bisa jatuh cinta kaleee… Tapi kan kurang tepat, kalau kita lalu menyerang orang-orang yang lagi pada GALAU itu. Hukum, pecat, penjarakan, denda? Sedangkan tanpa legalitas pun biasanya ada saja azab yang menghadang. Contoh: kasus Lt. Joe Kenda yang saya ceritakan panjang lebar diatas. Lalu kasus seorang kyai kondang yang mendaratkan pandangan matanya pada wanita idaman lain, lalu berangsur-angsur pamornya gurem.

Hallah sudahlah,… semua juga akan jadi ruwet sendiri. Masalah seperti itu tidak perlu diadili manusia, Tuhan sendiri yang akan mengadili. Ya nggak sih?

———————-

words:

dengan menghakimi orang lain, kita seolah menutup mata pada setan yang masih ada dalam diri kita sendiri,

dan pada kemuliaan kasih Tuhan dimana orang lain juga memiliki hak yang sama, seperti kita. 

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Soal pegawai yang selingkuh lalu dipecat, kalau itu memang sudah merupakan ketentuan di instansi tersebut ya, memang itu sudah resikonya, ini bukan masalah menghakimi atau apalah itu, sama juga seperti PNS yang dilarang beristri dua, apa kita bilang itu melanggar HA, sementara agama saja membolehkan. Tapi itulah konsekwensinya menurut saya. Kalau masalah selingkuh itu memang urusan moral sendiri tapi setiap instansi pun memiliki nilai moralnya sendiri untuk pegawainya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif