Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Quo Vadis Gerakan Membaca Nasional ?

Quo Vadis Gerakan Membaca Nasional ?

bacabuku

Membaca merupakan sesuatu yang masih asing bagi negeri tercinta ini. Untuk itu pemerintah mengambil inisiatif untuk melakukan gerakan membaca. Wakil Presiden Boediono pada 27 Oktober 2011 mencanangkan Gerakan Nasional Pembudayaan Gemar Membaca .

Menindaklanjuti gerakan di atas Perpustakaan Nasional RI menggelar acara Roadshow Perpustakaan Nasional RI 2012 yang berupa deklarasi gerakan membaca nasional di beberapa provinsi. Roadshow tahun 2012 ini dimulai di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Setahun kemudian, Perpustakaan Nasional RI menggelar Publikasi Gerakan Membaca di Garut pada tanggal 24 Mei 2013. Tahun ini pun Roadshow seperti ini pun masih menjadi tradisi.

Dalam catatan penulis, pemerintah sudah berulang kali melakukan pencanangan gerakan membaca di negeri tercinta ini. Kampanye membaca selama ini lebih terkesan sebagai ajang tebar pesona. Pemerintahan orde baru mencanangkan Hari Kunjung Perpustakaan (14 September 1997), pemerintahan Megawati mencanangkan Gerakan Membaca Nasional (12 November 2003), dan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat (17 Mei 2006).

Aneka gerakan membaca di atas ternyata belum mampu memberikan perubahan yang berarti terhadap budaya membaca di tanah air. Gerakan membaca seolah berhenti seiring dengan selesainya waktu pencanangan. Tidak ada gerakan inovatif dan kreatif dalam mendongkrak budaya baca. Yang ada hanya gerakan rutinitas persis sama ketika belum ada pencanangan gerakan membaca.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar gerakan membaca bisa mencapai tujuan dengan sukses. Pertama, menentukan visi gerakan membaca. Visi merupakan suatu cita-cita dan keadaan yang ingin dicapai di masa depan setelah gerakan membaca dicanangkan. Visi bukan sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang bersifat nyata dan masuk akal yang bisa dicapai oleh sebuah gerakan membaca.

Kedua, menentukan misi. Misi merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh guna mewujudkan misi gerakan membaca. Misi harus mampu menjawan pertanyaan apa yang harus dilakukan dalam gerakan membaca ini, siapa yang melakukan dan bagaimana cara melakukannya.
Misi yang jelas akan menerangkan apa yang harus dilakukan oleh perpustakaan umum kabupaten/kota, apa yang harus dilakukan oleh perpustakaan sekolah/perguruan tinggi, apa yang harus dilakukan perpustakaan desa, dan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota dalam rangka mencapai visi yang telah ditentukan.

Ketiga, menerjemahkan misi dalam sebuah rencana strategis yang jelas guna menggapai mimpi yang ingin dicapai oleh gerakan membaca. Dalam rencana strategis inilah diuraiakan sasaran, jenis kegiatan, hasil yang ingin dicapai, dan target waktu yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian sebuah gerakan membaca akan terasa lebih mudah, nyata dan aplikatif. Selain itu, juga memudahkan untuk mengevaluasi keberhasilan sebuah gerakan membaca. Jika sebuah strategi gagal untuk mencapai tujuan, dapat ditempuh strategi lain.

Gerakan membaca dapat menentukan skala prioritas yang akan menjadi sasaran gerakan ini. Keluarga sebagai basis komunitas pendidikan terkecil dapat menjadi prioritas pertama dalam membudayakan membaca. Untuk itu perlu langkah nyata dari pemerintah untuk menghidupkan kembali pendidikan keluarga yang saat ini tengah mati suri. Gerakan para orang tua untuk membacakan buku kepada anak-anak setiap hari.

Pelajar dan mahasiswa merupakan sasaran kedua. Untuk itu, gerakan membaca harus memasuki ranah dunia pendidikan agar kurikulum yang diajarkan di sekolah mendukung kebiasaan untuk membaca buku di perpustakaan. Bukan sekedar mambaca informasi instan di internet.
Hal ini bukan berarti menambah mata pelajaran baru melainkan terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang ada. Kebiasaan pendidik yang menugasi peserta didik untuk mencari informasi di internet harus diubah menjadi mencari informasi di perpustakaan. Biasakan anak-anak untuk mengeksplorasi data dari sebuah buku bukan dari copy paste file di internet.

Jadikan informasi di dunia maya sekedar menjadi informasi pendamping saja bukan informasi pokok yang harus didewakan. Lagi pula mencari informasi di perpustakaan jauh lebih aman daripada mencari informasi di internet yang rentan godaan bagi generasi muda kita yang masih rapuh pertanahan dirinya.
Kalangan wirausahawan mikro dapat menjadi sasaran selanjutnya. Gerakan membaca harus mampu meyakinkan para wirausahawan mikro bahwa dengan membaca buku akan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup pembacanya. Bukan sebaliknya, sejahtera dahulu baru membaca, sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang gubernur di Indonesia. Ingat inti sebuah gerakan membaca adalah mengubah karakter bangsa ini dari tuna baca menjadi kecanduan membaca.

Karyawan, kaum buruh, dan kaum petani juga merupakan lahan garapan gerakan membaca. Gerakan membaca yang cerdas harus bisa member sugesti kepada golongan ini bahwa membaca akan mampu memberikan pencerahan dalam hidup mereka. Membebaskan mereka dari jerat kemiskinan dan keterbelakangan.
Keempat, menjalin kemitraan dengan para stakeholder. Korporasi, pendidik, seniman, budayawan, penulis, LSM, ormas dan stakeholder lain perlu digandeng bersama dalam gerakan membaca ini. Sehingga kekuatan dan efektifitas gerakan membaca akan bergema dalam ruang lingkup yang lebih luas.

Kelemahan gerakan membaca selama ini adalah belum memiliki visi dan misi yang jelas. Gerakan membaca terkesan dilakukan tanpa perencanaan, koordinasi, dan konsep strategi yang jelas. Sebelum mencanangkan gerakan membaca mestinya gubernur berkoordinasi terlebih dahulu dengan bupati/walikota di wilayahnya guna menentukan langkah-langkah yang akan diambil untuk membudayakan membaca di setiap kabupaten/kota.

Koordinasi ini penting untuk dilakukan dalam rangka sinkronisasi program peningkatan budaya baca antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Sehingga agenda gerakan membaca juga menjadi agenda yang dianggarkan di APBD kabupaten/kota. Jangan sampai program gerakan membaca ini menemui batu sandungan di pemerintah kabupaten/kota. Kita tentu tidak ingin jika Gerakan Nasional Membaca berubah menjadi Gerakan Nasional (Berhenti) Membaca!.

 

Sumber gambar : berita.upi.edu

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

  1. membaca memang harus dibudayakan sejak kecil..;) https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif