Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Belajar Sepanjang Hayat di Perpustakaan

Belajar Sepanjang Hayat di Perpustakaan

ortua

Menurut WHO (1997), kecakapan hidup (life skills) adalah berbagai ketrampilan/kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntuan dan tantangan dalan hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan kecakapan hidup ke dalam lima kelompok yaitu : (1) kecakapan mengenal diri sendiri (self awareneness) atau kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial (social skill), (3) kecakapan berpikir (thinking skill), (4) kecakapan akademik (academic skill) dan (5) kecakapan kejuruan (vocational skill).

Sementara itu Depdiknas (2004) mengungkapkan bahwa pendidikan kecakapan hidup pada dasarnya merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup setiap warga Negara. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi, sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Secara operasional, program kecakapan hidup dalam pendidikan non formal dipilah menjadi empat jenis yaitu :
1. Kecakapan pribadi (personal skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri sendiri, kecakapan berpikir rasional, dan percaya diri.
2. Kecakapan sosial (social skill), seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa, dan tanggung jawab sosial.
3. Kecakapan akademik (academic skill), seperti kecakapan dalam berfikir secara ilmiah, melakukan penelitian, dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.
4. Kecakapan vokasional (vocational skill) adalah kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat, seperti di bidang jasa (bengkel, jahit menjahit) dan produksi barang tertentu (peternakan, pertanian, perkebunan)

Keempat jenis kecakapan hidup di atas, dilandasi oleh kecakapan spiritual, yakni keimanan, ketakwaan, moral, etika, dan budi pekerti yang luhur. Dengan demikian, pendidikan kecakapan hidup diarahkan pada pembentukan manusia yang berakhlak mulia, cerdas, terampil, sehat, mandiri, serta memiliki produktivitas dan etos kerja yang tinggi.

Penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup pada satuan dan program pendidikan non formal, utamanya dalam rangka pengentasan kemiskinan dan penanggulangan pengangguran lebih ditekankan pada upaya pembelajaran yang dapat memberikan penghasilan (learning and earning).

Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup dengan pendekatan “broad based education (BBE)” pada jalur pendidikan non formal (Malik Fadjar, 2001), ditandai oleh :
1. Kemampuan Membaca dan menulis secara fungsional, baik dalam bahasa Indonesia maupun salah satu bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, dan lainnya).
2. Kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses pembelajaran berpikir kritis dan ilmiah, penelitian, penemuan, dan penciptaan.
3. Kemampuan menghitung dengan atau tanpa bantuan teknologi guna mendukung kedua kemampuan tersebut di atas.
4. Kemampuan memanfaatkan keanekaragaman teknologi diberbagai lapangan kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, kerumahtanggaan, kesehatan, komunikasi, informasi, manufaktur, dan industri, perdagangan, kesenian, dan olah raga)
5. Kemampuan mengelola sumber daya alam, sosial, budaya, dan lingkungan.
6. Kemampuan bekerja dalam tim baik dalam sektor formal maupun informal.
7. Kemampuan memahami diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.
8. Kemampuan berusaha secara terus menerus dan menjadi manusia belajar dan pembelajar.
9. Kemampuan mengintegrasikan pendidikan dan pembelajaran dengan etika sosio-religius bangsa.

Selama ini, ada empat lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan kecakapan hidup (life skills) yaitu lembaga kursus, perguruan tinggi, LPTM (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Terpadu Masyarakat, dan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Perpustakaan umum kecamatan dapat ikut berperan aktif dalam pendidikan kecakapan hidup dengan memfasilitasi berdirinya LPTM ataupun PKBM.

Hal ini tidaklah berarti perpustakaan umum kecamatan terlibat secara formal dan struktural dalam program ini, melainkan perpustakaan umum kecamatan menggerakkan anggota perpustakaan yang tergabung dalam kelompok pembaca untuk mendirikan LPTM/ PKBM dengan memanfaatkan secara optimal koleksi bahan pustaka di perpustakaan umum kecamatan. Kelemahan utama PKBM/LPTM selama ini adalah tidak memiliki referensi yang memadai untuk menunjang kegiatannya. Perpustakaan umum kecamatan dengan koleksi bahan pustakanya dapat mengisi ruang kosong ini dengan membidani kelahiran PKBM/LPTM di ibukota kecamatan.
PKBM/LPTM yang dibidani kelahirannya oleh perpustakaan umum kecamatan diharapkan dapat memberi nuansa lain dari PKBM/LPTM yang ada selama ini, berupa kepribadian anggota-anggotanya yang memiliki budaya baca yang relatif tinggi karena terbiasa berinteraksi dengan perpustakaan umum kecamatan.

Tingginya budaya baca akan memberikan umpan balik berupa sumber daya manusia yang lebih siap untuk diberdayakan karena tidak ketinggalan informasi. Salah satu kendala pemberdayaan program kecakapan hidup adalah masyarakat kita tidak hanya miskin secara materiil, melainkan juga miskin informasi, sehingga sulit mengembangkan diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk mendukung LPTM/PKBM ini, maka perpustakaan umum kecamatan harus menyediakan koleksi bahan pustaka yang mendukung terbentuknya life skills. Buku-buku teknologi tepat guna seperti reparasi TV, VCD,kulkas, sepeda motor, mobil dsb pantas untuk diketengahkan. Disamping itu buku-buku tentang home industri seperti cara pembuatan telur asin, krupuk, sirup, keripik dapat menjadi alternatif pilihan. Buku peternakan, perikanan, dan pertanian juga dapat digunakan sebagai koleksi pendukung life skills. Tak lupa buku-buku agama semacam manajemen qolbu-nya AA Gym juga perlu diberikan untuk memperkuat spiritualitas anggota PKBM/LPTM agar lebih tegar menghadapi tantangan hidup.

Layanan Warintek, Warung Informasi dan Teknologi yang merupakan produk dari Kementrian Riset dan Teknologi dapat dilayankan oleh perpustakaan umum kecamatan untuk mendukung program life skills ini. Tayangan VCD, DVD, CD Rom tentang teknologi tepat guna dapat disaksikan oleh peserta program life skills ini untuk memperluas wawasan dan cakrawala peserta program yang akhirnya mampu menghasilkan peserta program yang kreatif, inovatif, dan produktif dalam hidupnya.

Dengan demikian, pelaksanaan program kecakapan hidup dapat berlangsung dalam nuansa dan suasana yang lebih hidup, tidak monoton, pasif, formalitas, dan membosankan. Tidak semata-mata hanya diajari jenis ketrampilan tertentu, namun juga dibekali dengan “semangat hidup/spiritualitas’ dari koleksi bahan pustaka di perpustakaan umum kecamatan yang mampu menyentuh aspek lahirihiah sekaligus batiniah dari peserta program.

Pendidikan kecakapan hidup sesungguhnya merupakan esensi dari pendidikan seumur hidup/sepanjang hayat yang sering dikumandangkan oleh elit pendidikan di tanah air. Pendidikan seumur hidup harus mengarah pada terbentuknya kecakapan hidup. Tetapi entah kenapa dalam pelaksanaannya tidak pernah terbersit sedikitpun di hati mereka untuk melibatkan perpustakaan yang memiliki kemampuan untuk memberikan dukungan melalui koleksi bahan pustaka yang diperlukan guna menghasilkan pendidikan yang berkualitas, bukan sekedar formalitas.

Paul Lengrand (1970) mengungkapkan bahwa pendidikan seumur hidup itu masih berada dalam taraf konsep. Sebagaimana halnya dengan asas lain, misalnya kebebasan, keadilan dan persamaaan, maka pendidikan seumur hidup itu tanpa diragukan masih belum dapat menjadi kenyataan selama jangka waktu tertentu karena masih sebatas konsep. Selama ini analisa pendidikan seumur hidup tidak didukung oleh serangkaian pedoman yang menjelaskan situasi, struktur, program yang secara singkat dapat disebut “kenyataan”.

Pernyataan Lengrand tersebut seharusnya mampu menggugah para pakar dan elit pendidikan di tanah air untuk mulai melirik melirik perpustakaan umum kecamatan untuk dijadikan wahana belajar seumur hidup. Perpustakaan umum kecamatan/kota merupakan lahan subur bagi tumbuh-berkembangnya manusia pembelajar seumur hidup, karena dengan layanan gratisnya perpustakaan mampu menembus sekat-sekat sosial yang ada dalam masyarakat.

Struktur masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh kemiskinan sering menjadi penghalang utama untuk memperoleh kesempatan belajar. Perpustakaan dapat dijadikan alternatif utama bagi masyarakat miskin untuk belajar seumur hidup dengan memanfaatkan secara optimal koleksi bahan pustaka yang ada. Memanfaatkan dalam arti bukan sekedar membaca, melainkan membaca fungsional yang mampu meningkatkan kualitas manusia pembacanya.

Memang orang tidak akan serta merta menjadi “pandai” dengan sekedar berkunjung ke perpustakaan, Tetapi jika seluruh sumber daya di perpustakaan dioptimalkan oleh pemerintah bukan mustahil perpustakaan umum kecamatan akan menjadi embrio bagi pembelajaran sepanjang hayat yang memiliki peluang besar untuk berkembang di masa depan. Sosialisasi Depdiknas tentang pendidikan seumur hidup bukan hanya sekedar berbunyi “Mari Belajar Sepanjang Hayat”, melainkan “Mari Belajar Sepanjang Hayat di Perpustakaan”.

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif