Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Introspeksi » Akar dari Tuhan (Renungan)

Akar dari Tuhan (Renungan)

lampost.co

lampost.co

Penelitian tentang keberadaan sebuah pohon tidak selamanya dilakukan oleh para ahli. Penelitian ini pun tidak selalu dilakukan di kebun botani. Akan tetapi, siapa saja termasuk kita juga bisa melakukan penelitian dan pengamatan terhadap tanaman atau tumbuhan di setiap tempat yang setiap hari bisa kita jumpai.

Alkisah seorang tukang kebun pun mencoba melakukan hal yang ilmiah. Ia mencoba melakukan penelitian pada tanaman untuk memahami kekuatan akarnya. Tukang kebun ini menanam dua tanaman sejenis, tetapi mencoba memberikan perawatan yang berbeda.

Tanaman pertama mendapat perawatan yang ekstra, ia memberinya pupuk dengan baik serta menyiramnya pagi dan sore. Sementara itu, tanaman kedua disiram dua hari sekali bahkan tanpa diberikan pupuk . Setelah tanaman cukup besar, tibalah waktu si tukang kebun untuk menguji tanaman tersebut.

Perbedaan yang sangat mencolok terjadi pada kedua tanaman tersebut. Ujian yang dilakukan oleh tukang kebun adalah mencoba mencabut tanaman tersebut beserta akar-akarnya. Hasil pengujian tanaman, apa yang terjadi? Ternyata tanaman pertama yang tumbuh cukup subur dan baik tadi, memerlukan waktu tak lebih dari dua menit untuk mencabutnya. Sementar itu tanaman kedua yang tadi kurang diberi perhatian tadi, ternyata membutuhkan waktu lebih dari lima menit.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Tanaman yang pertama cukup dimanjakan dengan air. Dengan demikian ia dapat dengan mudah memenuhi kebutuhannya untuk bertumbuh, sehingga akarnya tidak berusaha mencari air ke tanah yang lebih dalam. Akibatnya tentu akan lebih mudah tercerabut dari akarnya. Sedangkan tanaman yang kedua karena kurang mendapat suplai air secara baik, maka mau tidak mau akar harus menembus tanah yang lebih dalam lagi supaya memperoleh air dan makanan. Dengan demikian yang terjadi akar akan lebih masuk ke dalam tanah. Dampak yang terjadi, pohon kedua mempunyai kekuatan yang lebih karena akar menancap dalam ke tanah.

Analogi ini sebanarnya bisa kita terapkan dalam kehidupan kita berkaitan dengan cara TUHAN mendidik umatNya. Bayangkan saja jika TUHAN memanjakan kita dengan senantiasa mengabulkan setiap permintaan kita dan tak pernah mengizinkan kita mengalami penderitaan. Tentu kita akan menjadi orang yang manja. Kita juga akan menjadi orang yang cenngeng. Pastinya juga memiliki akar iman yang tidak kuat pula. Apabila menghadapi persoalan dengan mudahnya kehidupan menjadi tumbang.

Jika kita dimanjakan dan tidak pernah mengalami persoalan hidup, tentu kita juga akan menjadi orang yang manja dan cengeng. Akibatnya, akar iman kita tidak kuat dan kita pun akan dengan mudah tercerabut hingga kehidupan kita juga tumbang.

TUHAN juga sangat mengasihi dan mendewasakan serta melatih akar-akar iman kita. TUHAN senantiasa mengizinkan penderitaan, masalah , tekanan hidup dan berbagai macam pencobaan yang tidak menyenangkan.
Semua itu merupakan cara TUHAN mendidik kita dengan harapan akar iman kita terus mencari “sumber” yang sejati.

Saudara, bagaimana dengan pilihan kita? Apakah kita akan memilih untuk menjadi orang yang manja denngan akar yang rapuh, ataukah ingin menjadi orang yang didewasakan oleh TUHAN?
Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dengan akar iman yang rapuh.
Jadi, mari kita jalani hidup ini dengan gembira dalam suka dan duka. Satu hal yang harus kita ingat adalah “TUHAN tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan kita”.
Semoga iman kita semakin bertumbuh dan semakin mengakar pada TUHAN. Salam Ketik’rs-AST

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. katedrarajawen

    JAdi saya juga memahami, bahwa ketika kita hidup tak dipedulikan dan banyak masalah justru itu akan menguatakan hidup kita di kemudian hari, cerita yang sangat inspiratif mbak Anitahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Anita Godjali

    Pemahaman dan memaknai hidup itu yang penting Mas Kate, karena itu yang akan mendewasakan hidup kita….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif