Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Introspeksi » Menjinakkan Pikiran Kera

Menjinakkan Pikiran Kera

monkey-brain-monkey-on-head

foto: www.theroadtosiliconvalley.com

Sudah lama saya ingin menuliskan ini, tetapi menunggu saat yang tepat untuk menuangkannya. Sedikit sulit juga untuk menjelaskan tentang pikiran kera. Tetapi saya merasa memiliki ‘penyakit’ – pikiran kera, jadi saya semakin ingin tahu dan memahami apa sih sebenarnya pikiran kera itu? Pikiran kera atau ‘monkey mind’ adalah istilah yang dikemukakan oleh Sang Budha. Saya sendiri baru mendengar istilah ini ketika mendalami yoga. Bahwa dalam benak manusia khususnya yang telah dewasa, banyak perihal muncul dan menjadi beban pikiran. Segala permasalahan bersliweran di kepala, berjumpalitan, berisik, menjerit, merengek dan menggaruk persis seperti perilaku seekor kera. Benar tidak?

Tagihan listrik nunggak, uang sekolah anak belum ada, deadline pekerjaan dari boss tinggal dua hari lagi, bonus pendapatan tidak mencukupi untuk biaya rumah sakit Mama, tetangga beli kulkas baru gede amat, adik ipar punya mobil mewah, anak baru di kantor kok cepet banget naik jabatan? Waduh, … segala pikiran kera berjumpalitan kesana – kemari. Semuanya sangat mengganggu! Inginnya sih tidak memikirkan apapun, tetapi semua hal tersebut sungguh – sungguh terjadi dan bergesekan dalam eksistensi kehidupan kita sebagai manusia. Bagaimana cara mengusirnya? “The mind is a wonderful servant, but a terrible master, pikiran adalah pelayan yang hebat, tetapi juragan yang payah,” demikian kata Robin Sharma, pria keturunan India yang menjadi pengacara sekaligus penulis buku best seller bagi pengembangan kepribadian.

Pikiran kita gampang sekali menurut kepada acuan yang telah ada, tetapi sulit menjadi acuan bagi diri sendiri. Tagihan listrik dan uang sekolah anak yang menunggak bikin panik dan gelap mata, deadline pekerjaan bikin stress, bonus pendapatan yang kurang bikin jengkel dan kecewa, tetangga dan adik ipar yang punya standar kemewahan bikin dengki, anak baru yang beruntung bikin iri dan tidak terima. Semua aksi pikiran kera ini berjumpalitan dalam benak dengan liar. Kabar buruknya adalah semua hal itu tidak dapat diusir, karena itu adalah realitas kehidupan. Kabar baiknya, pikiran kera ternyata dapat dijinakkan. Salah satunya adalah dengan berdoa, ini jika dipandang dari aspek religius saja. Dari sisi ilmu kesehatan jiwa ada beberapa cara lagi yang lebih terperinci dan detail untuk menjinakkan pikiran kera.

Berikut ini adalah beberapa tips yang saya adaptasi dari tulisan Marina Chetner dari web mindbodygreen.com :

  • Jangan Kehilangan Momen
big-splash1

foto: www.blastmedia.com

Dalam beberapa kesempatan seringkali ketika berbicara dengan orang lain, pikiran kita melayang tentang hal yang berbeda. Lalu berakhir dengan pertanyaan, “Hah,.. maaf.. tadi Anda sedang bicara tentang apa ya?” Dalam kehidupan saya pribadi sering terjadi ketika bercakap dengan teman, saya menjawab tanyanya dengan jawaban yang berbeda. Biasanya mereka akan bingung, “Win,… bukannya tadi kita sedang bicara tentang musik? Kenapa mendadak kamu bercerita soal kontrak rumah?” Nah, nggak nyambung! itulah kera yang berjumpalitan. Segera kembalikan momen Anda ke masa kini dan nikmati pembicaraan tentang musik!

  • Observasi Pemikiran Anda

Misalkan Anda sedang memikirkan kontrak rumah yang sewanya dinaikkan oleh sang tuan tanah. Tanyakan pada diri, kalau biaya kontrak naik bagaimana? Nggak sanggup bayar. Lalu bagaimana? Pindah ke lokasi lain bisa? Bisa. Apakah kontraknya lebih murah? Iya. Apakah untuk sementara kita dapat hidup ditempat lain tersebut, tidak kehujanan dan tidak kepanasan? Iya. Nah, bercakaplah dengan kera dalam benak Anda. Jinakkan si kera!

  • Bernafas Dengan Selaras

Kedengarannya sepele namun dalam latihan yoga peserta biasanya akan sangat dilatih untuk melakukan pernafasan. Yaitu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Nafas jangan dihentakkan. Seorang pelatih yoga mengatakan kepada saya bahwa dalam hembusan nafas yang panjang ‘pekerjaan oksigen’ memperbaharui sel – sel tubuh akan lebih lancar dan merata keseluruhannya. Sementara nafas yang pendek – pendek akan sangat melelahkan dan tidak membantu dalam regenerasi sel. Maka biasanya kita saksikan jika orang yang meledak dalam amarah atau menangis histeris nafas mereka akan pendek – pendek dan mengakibatkan panik. Hal ini bisa dihindari dengan bernafas panjang, lembut dan tenang.

  • Berdiam Diri Sejenak

Berdiam diri ternyata sangat penting. Dengan berdiam diri, orang akan memiliki waktu untuk berpikir lebih jernih, fokus dan mendalam. Berdiam diri juga melatih agar kita tidak terburu nafsu untuk segera melakukan sesuatu dengan gegabah. Saya sedikit sulit mengendalikan diri dalam perihal berdiam. Karena apa? Saya orang yang serba terburu – buru dan tidak sabaran, kalau sudah ingin sesuatu harus cepat dan sebisa mungkin mencapai target. Jika tidak, akan menjadi beban pikiran. Setelah mendalami yoga, saya jadi mengerti berdiam diri bukan berarti kalah atau mengalah tanpa perjuangan. Berdiam diri bisa jadi saat untuk recharge battery, mengisi kembali tenaga yang hilang lenyap karena berbagai emosi.

  • Ikhlas Menerima KehendakNya

Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan harus diterima dengan rendah hati. Bagaimanapun juga ada hukum sebab – akibat yang tidak kita pahami sepenuhnya. Itu adalah previlege Yang Maha Kuasa, Sang Causa Prima. Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah hati itu menurunkan standar atau keinginan yang terlalu dikuasai ambisi individu. Ingin menjadi yang ‘ter’ atau yang ‘paling.’ Jika takdir yang dikehendaki tidak terjadi lalu apakah akan kecewa berkepanjangan? Lebih parah lagi, menjadi gila? Padahal masih ada kesempatan lain dikemudian hari. Jika ingin menjadi ketua kemudian hanya mencapai posisi wakil, terimalah dengan legawa. Syukurilah, jangan jadikan itu pemantik emosi yang berlarut dan berlebihan. Grateful sangat disukai oleh Sang Causa Prima.

  • Dengarkan Kata – Kata Sang Guru

Mungkin ini dapat diartikan sebagai rutinitas untuk membaca kitab suci atau buku – buku spiritual lain yang membangun kepribadian dan karakter kita. Jika kita rajin mendengar petunjuk dan nasihat – nasihat bijaksana setidaknya kita akan tiba pada satu kebijaksanaan walau mungkin tidak bisa meraih seribu kebijaksanaan sekaligus. Tidak mengapa, karena kita ini manusia biasa, bukan mahluk super, dewa, nabi atau mahluk lain yang memiliki sifat digdaya. Sedikit demi sedikit to be a better me.

  • Mendekatkan Diri Kepada Alam
dawn

foto: vimeo.com

Mendekatkan diri kepada alam adalah hal yang kian diabaikan oleh manusia modern. Buang sampah sembarangan, merokok sesukanya, merusak hutan, mengotori sungai. Setiap hari bermain komputer dan gadget, lupa cara bermain layang – layang, lupa melihat jernihnya aliran sungai, lupa melihat indahnya matahari terbenam dan lupa hal – hal mahakarya lain yang disajikan secara mempesona oleh alam. Peristiwa terdekat kepada alam yang  paling berkesan bagi saya adalah ketika melihat sebuah pohon penuh dengan kunang – kunang menyala bagai lampu – lampu kecil. Kejadian itu saya alami ketika sedang pesiar bersama dengan ibu ke Selangor-Malaysia, suatu sore jelang senja dengan suara azan maghrib di kejauhan. Saat itu saya berkata pada diri saya sendiri, ‘Saya akan selalu mengingat momen ini sebagai bagian kenangan bersama dengan ibu.’ Bagaimana dengan Anda? … Apa peristiwa terdekat Anda dengan alam?

 

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. Anita Godjali

    Civita …di suatu pagi, semburat jingga di ufuk Timur dengan bayang-bayang cemara dan hembusan angin tepi danau. Bulan sabit yang berdampingan dengan cahaya bintang Timur yang masih terang benderang ditingkahi cericit dan lompatan tupai di dahan Matoa…sungguh-sungguh kenangan saya dekat dengan alam yang tak terlupa.

  2. Muhammad Armand

    lebih asyik bersama kalian
    bisa ngakak-ngakak
    hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif