Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Introspeksi » Bangsawan, Negarawan Dan Negeri di Awan

Bangsawan, Negarawan Dan Negeri di Awan

negeri

foto: virginmojito.wordpress.com

Kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri diawan. Dimana kedamaian menjadi istananya,… Hari ini membuat saya mengenang kembali syair kata – kata lagu lama dari Katon Bagaskara. Tadi selama hampir dua jam dengan bersabar, berpanas-ria kami menunggu di TPS. Tanpa mendapat surat undangan menyoblos, entah apa alasannya. Saya dan suami tetap bersikeras untuk melakukan pemilihan suara. Padahal orang lain mungkin malas, ogah, enggan dan angkat tangan. Bayangkan, kami penduduk lama yang menetap disini hampir selama lima belas tahun. Boleh dikata cukup mengenal banyak orang, KTP juga asli. Namun herannya tidak mendapat undangan sebagai pemilih! Kami pikir alasannya mungkin karena kami punya dua KTP beralamatkan sama. Yang satu adalah KTP lama berakhir tahun 2015 dan satunya KTP elektronik yang belum diaktivasi. Mungkinkah hal itu menjadi kendala untuk mengundang kami?

Ketika tiba di TPS sedikit mengejutkan. Yang tidak mendapat surat undangan banyak banget, Olala! Untung semuanya punya dan membawa KTP setempat. Rame – rame mendaftar. Diberitahukan juga bahwa surat suara tambahan jumlahnya ‘hanya’ 410 lembar. Kalau yang berminat hingga 450 orang, sisanya tidak bisa menyoblos. Soalnya surat suara terbatas. Waduh,… Agak bingung juga, mengapa masyarakat yang tidak dapat surat undangan memilih kok banyak banget? Tersiar kabar bahkan ketua KPPS juga tidak dapat surat suara. Wheladalah? … Jaman serba gadget, urusan administrasi kok amburadul sekali dan susah merapikannya? Tapi sudahlah, kan bangsa Indonesia ini paling sabar, panjang ususnya, tinggi budi pekertinya. Jadi sebagian rakyat yang ‘tanpa undangan’ itu termasuk saya dan suami mendaftar dengan bermodalkan fotocopy KTP. Untungnya diterima dan termasuk sebagian orang tanpa undangan yang pertama dipanggil untuk menyoblos. Pfiiiuuuhhh,….

Nunggunya lumayan lama, tapi kalau orang Jawa bilang ‘rahat’. Rahat itu kurang lebih artinya hangat dan akrab. Kenapa? Lha, semua tetangga, encing, engkong, teteh, opa, oma dll, semuanya muncul di TPS. Jadilah ajang pertemuan silaturahmi tak resmi. Ada yang bawa balita sambil among bocah. Ada yang sekalian mau jajan soto di lokasi dekat situ. Ada yang sambil wawancara petugas TPS untuk tugas sekolah. Ada yang sempat memfoto kami untuk update status. Ada yang digodain sebagai caleg padahal bukan. Seru ya! Kagum, karena ternyata tanpa undangan pun orang – orang banyak yang bersabar menunggu giliran. Yang apes, KTP non lingkungan kami benar – benar ditolak! Artinya jika warga Pluit atau Pademangan ingin menyoblos di Tangerang Selatan, mohon maaf tidak bisa. Apalagi jika warga Pontianak atau Banjarmasin. Waduh? Mudik dulu gitu naik pesawat? Hmm, … rumit juga. Tapi pada akhirnya perhitungan quick count dan munculnya para bangsawan serta (calon) negarawan kita di televisi membuat saya lega. Semua lancar dan baik hasilnya. Lagi – lagi saya terhanyut dengan lagu tentang negeri di awan.

Mereka, para bangsawan dan calon negarawan saling mengucapkan selamat. Lalu mulai beramai – ramai menganalisis peta percaturan politik untuk menentukan langkah – langkah selanjutnya. Sedikit lupa ya, bahwa rakyatlah yang menempatkan bidak – bidak pada papan catur? Yang berpanas – ria di TPS? Janji – janji – janji…sangat membosankan bagi saya. Lebih baik kita perhatikan secara langsung siapa yang memang ‘bekerja’ dan bukan sekedar ngegombal. Saya rasa semua orang pernah muda, remaja. Ada masanya kita jatuh cinta atau merasa naksir pada orang yang terus mengumbar janji – janji dan janji. Lalu ketika janji – janji itu tak ditepati atau janji itu hanyalah palsu maka jadilah patah hati dan sumpah serapah. Makanya jangan percaya janji! Para bangsawan langsung ‘toast’ merayakan kemenangan, mencari celah lagi untuk macul kekayaan tujuh turunan. Sementara para calon negarawan justru pusing karena beratnya beban yang diemban. Dua hal utama jelas menanti! Pertama adalah kerja keras yang luar biasa untuk memperbaiki timbunan carut – marut. Yang kedua adalah bertahan dari hembusan angin kencang berupa celaan, hinaan dan kritikan pedas dari mereka – mereka yang berusaha keras mencari kesempatan untuk melakukan ‘smack-down’. Dan semoga negeri di awan tidak selalu jadi impian,…

Facebook Comments

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif