Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Inovasi » Menggapai Asa dengan ”2M2B”

Menggapai Asa dengan ”2M2B”

Menggapai Asa dengan ”2M2B”
Oleh Budianto Sutrisno

perpustakaan calvin

Tak pelak lagi, apresiasi masyarakat terhadap karya tulis atau buku sudah menjadi ciri budaya sebuah bangsa yang mendambakan kemajuan di segala bidang kehidupan. Mulai dari ekonomi, keuangan, ilmu pengetahuan, sastra, seni, olahraga, politik, dan lain sebagainya. Boleh dikatakan tak ada bidang yang tak disentuh oleh buku – termasuk buku elektronik (e-book) yang tersebar di berbagai situs internet.
Kemajuan bangsa yang menolok itu dicapai melalui apa yang penulis sebut sebagai formula ”2M2B”, yakni Membaca, Menulis, Berpikir, dan Belajar. Dari mana mulainya? Dari setiap diri kita masing-masing. Sebelum kita menuntut orang lain untuk belajar dan meningkatkan kemampuan serta prestasi, kita harus menuntut diri kita sendiri terlebih dahulu. Menuntut diri untuk belajar, agar hari ini lebih baik daripada kemarin, dan esok lebih baik ketimbang hari ini.
Formula ”2M2B” perlu kita perkenalkan dan akrabkan kepada masyarakat Indonesia sejak usia memasuki sekolah dasar. Pelajaran membaca dan menulis perlu digalakkan. Siswa perlu diberi pelatihan bagaimana menuangkan dan mengembangkan ide-ide kreatif ke dalam tulisan. Mata pelajaran ’Mengarang’ perlu dihidupkan kembali.

Sosok panutan
Ketika masih kanak-kanak, sewaktu ditanya tentang cita-cita yang kita idamkan, muncullah stereotipe jawaban seperti: ”Saya ingin menjadi dokter”, ”Saya ingin menjadi insinyur”, atau ”Saya ingin menjadi ahli komputer”, dan seterusnya.
Jabatan seperti dokter, insinyur, dan ahli komputer di atas menandakan jabatan tersebut sangat populer pada rentang waktu pertanyaan diajukan. Atau, setidaknya, jabatan tersebut merupakan jabatan bergengsi yang mudah diingat dalam benak seorang anak yang membutuhkan sosok panutan. Karena, bagaimanapun majunya teknologi dan ilmu pengetahuan sebuah bangsa, tetap dibutuhkan sosok yang bisa memberikan suri teladan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sosok panutan. Kurangnya sosok atau tokoh yang bisa memberikan suri teladan inilah yang menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan terjadinya kemerosotan moral dan etos kerja pada sebuah bangsa.
Jujur saja, bangsa Indonesia selama beberapa dasawarsa terakhir ini, kurang atau bahkan tidak memiliki tokoh yang bisa menjadi panutan secara substansial. Yang dibentangkan di hadapan publik justru hal-hal yang mendatangkan aib bagi bangsa. Korupsi, misalnya, sudah bukan berita yang asing lagi. Yang menyedihkan, sebagian besar pelakunya adalah para petinggi yang seharusnya memberikan suri teladan kepada masyarakat. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, jika ada segelintir tokoh yang jujur dan cakap bekerja, justru dipojokkan dan disingkirkan. Kalau hal seperti ini berlanjut terus-menerus dari generasi ke generasi, bukan tak mungkin, negara kita tercinta ini bisa menjadi negara preman tanpa hari depan.
Sementara, kurangnya akses terhadap informasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat masyarakat memiliki rentang pandang yang relatif sempit terhadap jenis dan ragam profesi atau pekerjaan. Jarang sekali, kalau tidak bisa dikatakan tak ada, anak yang menyebutkan cita-citanya dengan kata-kata, seperti: ”Saya ingin jadi sastrawan”, ”Saya pengin jadi pelukis”, atau ”Saya ingin jadi pakar kuliner”.
Jabatan-jabatan yang penulis sebutkan di atas, oleh sementara kalangan dianggap kurang bergengsi dan kurang menjanjikan. Sudah barang tentu, anggapan seperti ini salah total. Jabatan atau profesi apa pun (yang halal), jika ditekuni dengan sungguh-sungguh, akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Sempitnya pandangan seperti ini bisa dicegah apabila tersedia buku-buku yang memberikan berbagai informasi tentang imu pengetahuan dan jenis profesi dalam jumlah yang cukup. Ketersediaan buku-buku ini baru dimungkinkan apabila kita memiliki tenaga penulis yang handal dalam jumlah relatif banyak. Dan ketersediaan para penulis ini dimungkinkan bila sejak usia dini para pelajar Indonesia sudah dibiasakan dengan mata pelajaran ’Mengarang’. Di samping itu, harga buku-buku tersebut harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dan menarik minat baca para generasi muda penerus bangsa.

Integrasi pengetahuan, seni, dan budaya
Untuk mewujudkan formula ”2M2B” diperlukan upaya mengintegrasikan berbagai ragam pengetahuan, seni, dan budaya. Idealnya, kita memiliki sebuah wadah untuk mengintegrasikan berbagai ilmu pengetahuan melalui penyediaan buku-buku dan berbagai film di perpustakaan, penyelenggaraan seminar, tempat pelatihan dan pergelaran berbagai macam seni serta museum. Wadah ini nantinya akan dinamakan PUSPISEBUDI (Pusat Pembekalan Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Budaya Indonesia).
Tempat paripurna ini harus dikelola oleh orang-orang yang mumpuni dan profesional di bidangnya. Pemilihan personel untuk mengelola segenap aktivitas pengintegrasian ini sangatlah penting. Melalui kegiatan semacam inilah sebenarnya karakter bangsa ikut dibentuk, sehingga kaum remaja dan pemuda menjadi insan yang dilengkapi bukan saja dengan pengetahuan kognitif, tetapi juga dengan seni dan budaya yang baik. Semangat dan energi yang bergejolak dalam diri para pemuda Indonesia bisa memperoleh wadah yang tepat. Eksistensi mereka dapat lebih dihargai, terutama melalui kegiatan riset yang intensif. Mereka ini dipicu dan dipacu untuk menjadi generasi yang inovatif, bukan konsumtif. Pendalaman akan seni dan budaya Indonesia memupuk kecintaan mereka akan tanah air Indonesia, sehingga mereka mampu menghargai warisan budaya bangsa sendiri di tengah maraknya pengaruh budaya asing.
Kegiatan utama PUSPISEBUDI itu berupa pembinaan para remaja dan pemuda Indonesia dalam ”2M2B” yang mencakup berbagai karya ilmu pengetahuan, seni, dan budaya Indonesia, serta mengkajinya secara mendalam. Untuk itu, sudah barang tentu, perlu dibangun ruang pamer hasil karya bermutu bangsa sendiri. Oleh karenanya, diperlukan para pengajar/tutor yang ahli dan berpengalaman di bidangnya, serta bersedia mendedikasikan dirinya untuk melatih dan membina para remaja dan pemuda Indonesia demi kemajuan bangsa.
Masih ditambah lagi dengan fasilitas laboratorium fisika, matematika, kimia, biologi, dan bahasa. Studio untuk seni musik, seni tari, seni suara, dan berbagai ragam seni rupa. Plus gedung pertunjukan serta pameran yang berkelas dunia, baik dari segi desain, akustik, dan daya tampung pengunjung/penonton.
Diperlukan pula sebuah perpustakaan akbar yang mampu menampung aneka ragam buku penunjang yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Melalui perpustakaan dan kelas-kelas bimbingan, generasi muda Indonesia dapat dipersiapkan sebagai generasi penerus bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman.
Wadah integrasi menjadi semakin lengkap dengan adanya museum, di mana para kawula muda bisa belajar dari temuan serta hasil karya di masa lalu. Dari apa yang dilihat di situ, bukan tak mungkin para pengunjung bisa terinspirasi untuk berkarya lebih baik lagi.
Program PUSPISEBUDI ini membutuhkan orang-orang yang mampu bertugas sebagai pencari bakat generasi muda di seluruh wilayah Indonesia. Sekurangnya, setiap provinsi akan diwakili oleh sepuluh remaja atau pemuda berbakat untuk dikarantina dan digembleng. Untuk itu diperlukan sebuah asrama yang memadai guna menampung ratusan pemuda berbakat. Setelah melewati tahap tertentu, mereka bisa kembali ke daerah masing-masing untuk memotivasi dan memberikan teladan kepada generasi muda lainnya. Dengan demikian, semakin hari akan semakin banyak remaja serta pemuda Indonesia disiapkan sebagai suatu generasi mandiri yang sanggup mengimplementasikan apa yang dipelajarinya bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Kerja sama dengan berbagai pihak
Untuk melaksanakan program prestisius ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Kerja sama bisa digalang dengan berbagai universitas, institusi pendidikan, perusahaan swasta, dan sangar-sanggar seni yang tersebar di seluruh nusantara. Perlu pula menggandeng tangan para pakar seperti Yohanes Surya (fisika), B.J. Habibie (iptek), Sangkot Marzuki (biologi molekuler), Avip Priyatna (musik), N. Riantiarno (teater), Sapardi Djoko Damono (sastra), Nyoman Nuarta (patung), Nungki Kusumastuti (tari), William Wongso (tata boga), dan berbagai ahli serta seniman lainnya. Para pakar ini di samping bertindak selaku pendidik dan pelatih para generasi muda yang berbakat di bidang masing-masing, sekaligus juga menjadi sosok panutan.
Dana dalam jumlah besar pasti dibutuhkan. Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, bisa bekerja sama dengan berbagai pihak swasta dan BUMN yang tergerak hatinya untuk memberikan donasi. Setiap bentuk donasi dikelola dengan baik, transparan, bertanggung jawab, dan diaudit oleh pihak independen. Pengelolaan profesional seperti ini merupakan persyaratan mutlak yang tak bisa ditawar lagi.

Mewujudkan mimpi
Mungkin hal-hal yang penulis kemukakan di sini masih dianggap sebagai mimpi kosong bagi sementara kalangan. Akan tetapi penulis percaya, jika kita berniat untuk melakukannya secara bersungguh-sungguh dengan semangat memajukan bangsa, niscaya impian ini akan menjadi kenyataan. Bukankah banyak hal besar itu dimulai dengan mimpi yang pernah dianggap mustahil untuk menjadi kenyataan? Pencapaian prestasi manusia mendarat di bulan, misalnya, merupakan contoh nyata betapa mimpi itu bisa diwujudkan sebagai kenyataan yang membanggakan.
Apabila program PUSPISEBUDI ini sudah terlaksana, penulis yakin bahwa Indonesia akan mampu menumbuhkan sebuah generasi yang bukan saja cerdas secara kognitif, melainkan juga cerdas secara karakter, dan siap berkarya nyata secara inovatif. Program ini akan menjadi semacam kawah Candradimuka untuk menggodok generasi muda Indonesia agar mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain dari sejumlah negara maju. Dan sudah barang tentu, aktivitas ini mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat tinggi di tengah era globalisasi yang semakin memberi kita tantangan untuk terus melangkah maju. Menuju hari depan yang lebih baik.
Menurut hemat penulis, mewujudkan keberadaan PUSPISEBUDI dengan asas inti ”2M2B” ini tidak lebih kompleks ketimbang upaya mendaratkan manusia ke bulan. Yang kita butuhkan adalah kesadaran akan pentingnya kemajuan bangsa di hari depan. Kesadaran ini kemudian diikuti dengan kemauan untuk bekerja sama guna menggapai asa dan mewujudkan mimpi kita. Jika kita fokus dan berkomitmen pada tujuan yang akan kita capai, mimpi niscaya menjadi kenyataan dan asa pun tergapai.
Jika bangsa lain bisa, mengapa kita tidak? Tunggu apa lagi? Potensi sudah tersedia, mengapa kita tak bergegas melaksanakannya?

Soli Deo Gloria!

 

***

Facebook Comments

About budinovo

2 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Formula yang menarik Pak Budi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif