Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sastra » Namaku Kasih

Namaku Kasih

Namaku Kasih. Aku mahasiswi semester terakhir sebuah perguruan tinggi swasta di kotaku. Saat ini aku tengah sibuk menyelesaikan tugas akhir, menulis skripsi. Aku ingin buktikan kepada kedua orang tuaku, aku adalah gadis kuat yang tak akan menyerah dan mengalah pada nasib. Aku Kasih. Aku berharap bisa menyelesaikan skripsiku segera, walaupun kadang-kadang timbul juga rasa takut. Aku takut Allah tidak memberiku kesempatan hidup lebih lama lagi.
@@@
Saat itu usiaku baru sepuluh tahun. Aku mendengar pertengkaran hebat antara Bapak dan Ibuku. Berbagai sumpah serapah dan kata-kata makian, yang selama ini tak boleh aku ucapkan, justru mengalir deras dari mulut Bapak dan Ibu. Aku melihat ayah meninggalkan rumah, saat melintas di dekatku dia hanya menatapku tajam lalu berucap dengan suara mirip desisan
“Mulai hari ini, saya tidak peduli dengan kamu dan ibumu.” Aku yang berdiri kaku di dekat pintu sangat ketakutan melihat raut wajah Bapak ketika itu.

Sejak hari itu bapak tidak pernah lagi pulang. Aku hanya hidup berdua dengan Ibu. Berbagai kesulitan dan masalah mulai menjadi bagian dari kehidupan kami. Dari tagihan iuran madrasah, rekening listrik, hingga kebingungan karena tak punya beras untuk dimasak.

Ibu, satu-satunya tempat aku berlindung, akhirnya memutuskan untuk pergi bekerja sebagai TKW. Bukan masalah ekonomi saja yang membuat Ibu pergi, tetapi luka di hatinya yang menjadi pendorong utamanya. Ibu meminta adik perempuannya yang belum menikah untuk menemaniku. Mulanya aku tidak mengerti mengapa Ibu tidak menitipkanku saja kepada Nenek dan tinggal bersamanya. Setelah dewasa baru aku membuat perkiraan-perkiraan, menurut pikiranku, ini pasti tentang hak kepemilikan rumah. Jika rumah dikososngkan, Ibu khawatir nantinya akan di isi oleh Bapak. Entahlah!

Sejak Ibu pergi ke Saudi, aku tidak pernah lagi kelaparan. Ibu selalu mengirimi kami sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebetulnya uang yang dikirimkan ibu tidak benar-benar mencukupi, tetapi Kak Marsih, begitu aku memanggil adik ibu itu, berusaha mencari tambahan dari sana-sini.

Kak Marsih begitu pandai mengelola uang kiriman ibu, setiap menerima kiriman dia membeli berbagai barang yang kemudian dijual kembali kepada para tetangga. Uang itu sedikit bertambah. Aku juga mencoba membantu Kak Marsih. Para tetangga biasanya memintaku untuk menjaga anak-anaknya, atau memintaku pergi ke pasar, ke warung, membayarkan rekening listrik, atau pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya, yang mampu aku kerjakan. Mereka lalu memberiku sejumlah uang. Kadang-kadang mereka juga memberiku upah berupa beras atau makanan.

Ayahku? Seperti yang dikatakannya saat meninggalkan rumah, ayah sama sekali tidak mempedulikan aku. Ayah tidak pernah menjengukku. Jikapun aku rindu dan mencoba menemuinya maka yang akan aku dapati hanya kata-kata pahit, yang sangat melukai jiwa kanak-kanakku.

Suatu hari Kak Marsih mengajakku bicara serius, saat itu aku sudah kelas satu SMA.
“Kasih, Kak Heri mengajak Kakak menikah.” ujarnya hati-hati. Aku hanya diam menunggu kelanjutan ucapannya itu.
“Kamu tidak apa-apa, kan?”
“Enggak apa-apa. Aku seneng kok, Kakak menikah.” jawabku tanpa prasangka.
“Masalahnya, Kak Heri bekerja di Tangerang.” lanjut Kak Marsih.
“Memangnya, kalau dia bekerja di Tangerang, kenapa, Kak?” tanyaku bingung.
“Kakak harus mengikutinya ke sana.” Kak Marsih tetap menjawab dengan hati-hati, tetapi aku terlanjur luka. Aku kembali merasa kehilangan. Kali ini aku juga dihinggapi ketakutan. Hidup sendirian di usiaku yang semuda ini, ini benar-benar menakutkan. Perlahan air mata yang tadi tersangkut di sudut mataku meluncur turun semakin lama semakin deras. Akhirnya tangisku pun meledak. Kak Marsih memelukku.
“Kalau kamu tidak setuju, Kakak akan batalkan pernikahan ini.” kaK Marsih membuat keputusan teramat gila. Aku hentikan tangisku. Aku tidak boleh egois. Usia Kak Marsih sudah tidak muda lagi. Dia sudah serahkan seluruh usia mudanya untuk mengasuh dan menemaniku. Sekarang sudah waktunya dia menemukan kebahagiaannya sendiri. Aku lepaskan pelukannya.
“Kak, aku tidak keberatan Kakak menikah. aku bahagia karena akhirnya Allah memberi Kakak jodoh. Aku tidak apa-apa” Kak Marsih kembali memelukku. Kami berdua menangis dengan isi kepala yang pasti tidak sama.

Kepergian Kak Marsih memang merubah segalanya. Aku kini melakukan semua yang Kak Marsih dahulu lakukan. Untunglah, Kak Marsih telah mengajariku banyak hal, terutama kejujuran dan memegang kepercayaan orang lain. Dua hal ini yang membuat para pedagang di pasar tidak keberatan menitipkan dagangannya untuk aku jual ke para tetangga. Terkadang mereka juga mempercayaiku memgirimkan pesanan ke tempat-tempat yang agak jauh, tentunya dengan upah yang lumayan.

Sekolahku berjalan dengan lancar. Bahkan para guru dan teman-teman mempercayaiku menjadi pengurus OSIS. Sebagai pengurus OSIS aku dinilai cukup kreatif. Banyak kegiatan yang berasal dari ideku. Hanya satu hal yang mereka tidak pernah tahu. Aku selalu menangis di malam hari. Aku rindu pada Ibuku yang tidak pernah pulang. Aku rindu Bapak yang tidak pernah mau menemuiku, aku juga rindu Kak Marsih yang sangat aku sayangi.

Karena nilai-nilai ujian SMA-ku lumayan bagus, aku termotivasi untuk melanjutkan pendidikan. Saat hal itu aku kabarkan kepada Ibu, Ibu menyetujuinya. Aku mendaftar pada perguruan tinggi swasta di kotaku.

Persetujuan ibu atas keinginanku untuk kuliah dibuktikannya dengan mengirimkan sejumlah uang. Sebetulnya uang yang dikirimkan Ibu belumlah mencukupi, tetapi aku yakin akan mampu mencari tambahannya.

Kehidupan kampus memang sangat menyenangkan, walaupun terkadang aku terkendala dengan biaya, aku masih bisa mengatasinya. Paling tidak, aku bisa meyakinkan pihak kampus sehingga memberiku kelonggaran waktu.

Seperti juga waktu SMA, aku kini aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Aktivitasku ini kadang-kadang aku gunakan untuk mencari tambahan penghasilan, misalnya sambil berjualan kerudung, mengkoordinir pembuatan kaus seragam dalam kegiatan tertentu. Aku selalu jujur kepada teman-temanku tentang keuntungan yang aku peroleh dan mereka memahaminya.

Di semester enam kami melakukan kegiatan KKN. Aku ditunjuk menjadi ketua di kelompokku. Sebagai ketua aku sangat sibuk. Aku selalu menginginkan hal terbaik. Ternyata kesibukan ini membuat tubuhku ambruk. Aku pinsan di lokasi.
“Kasih, bangun.” samar-samar terdengar suara-suara memanggilku. Saat membuka mata kulihat teman-teman tengah mengelilingiku. Aku tersenyum dan berusaha bangkit, tetapi aku gagal mengangkat tubuhku. Nafasku sesak, ada rasa nyeri di dada sebelah kiriku. Aku kembali pinsan.

“Saudari, Kasih,apa kabar?” seorang dokter menyapa ramah saat memasuki ruangan perawatanku.
“Baik, Dok.” jawabku singkat saja.
“Napasnya masih sesak?” tanyanya lagi seraya meraih lenganku dan memeriksa tekanan darahku dengan tensi meter yang dibawanya. Usai dengan itu dia meletakkan ujung stethoscope di dadaku dan dua ujung yang lainnya menempel di telinganya.
“Saya sakit, asma, ya Dok?” tanyaku sedikit sok tahu.
“Hmmm, bukan. Ada kelainan jantung.” jelasnya kemudian.
“Separah apa, Dok?” tanyaku lagi.
“Ada bagian yang bocor. Ini resep yang harus diambil. Nanti kalau ada keluarga yang datang suruh beli di apotik, ya” lanjutnya lagi.
Aku hanya mengangguk kecil. “ Kebocoran jantung” kata-kata ini terus menggangguku. Aku mengabarkan hal ini pada Ibu juga pada Kak Marsih.

Keesokan harinya Kak Marsih langsung datang ke Rumah Sakit. Hari itu juga aku dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita. Bapakku? Entah dimana. Ibu menyempatkan diri pulang.

Hampir dua minggu aku berada di Rumah Sakit Harapan Kita. Dokter menyarankan operasi untuk menutupi kebocoran itu, tetapi banyak hal yang harus kami pertimbangkan, salah satunya ketakutanku. Kakekku meninggal karena operasi jantung, ini menimbulkan trauma tertentu padaku.

Ketika merasa lebih baik, aku minta pulang. Aku ingin menikmati hari-hari di rumah bersama Ibu. Saat yang telah lama hilang dari hidupku. Masa libur Ibu yang masih tersisa dua minggu itu ternyata hanya dihabiskannya bersama teman-temannya. Hampir setiap hari Ibu keluar rumah. Tampaknya Ibu tengah berusaha memamerkan kehidupannya yang sekarang kepada teman-temannya. Aku kecewa.

Saat ini skripsiku sudah selesai, tetapi aku belum bisa mengikuti sidang skripsi karena tunggakanku yang masih besar. Semua uang kiriman Ibu habis untuk biaya Rumah Sakit atau untuk membeli obat. Aku mencoba menyampaikan ini kepada Ibuku, Ibu saat ini tengah berada di Amerika bersama keluarga tuannya, dan menurut Ibu, sulit mengirim uang Real dari Amerika ke Indonesia.

Setelah sekian lama, aku mencoba lagi menemui Bapak. Meminta Bapak membantuku mengatasi masalah ini, tetapi lagi-lagi Bapak hanya berkata beberapa kata saja
“Kamu bukan tanggungjawab Bapak”

Namaku Kasih. Orang bilang, nama adalah do’a orang tua untuk anaknya. Kasih berarti cinta. Adakah mereka berdua mencintaiku? Entahlah!

Facebook Comments

About yety Ursel

2 comments

  1. kisah yang menyedihkan mbak Yety tapi sekaligus memberi semangat, inspiratif https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif