Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sejarah » Awas, Bahaya Laten Perbudakan !

Awas, Bahaya Laten Perbudakan !

perbudakanKasus perbudakan di negeri ini kian marak terjadi. Diawali dengan terungkapnya perbudakan di pabrik panci Tangerang. Tempo, 5 Mei 2013 mengungkapkan bahwa pabrik ini memperlakukan buruhnya secara tidak manusiawi. Mereka diperlakukan seperti budak. Para buruh dipaksa bekerja dengan waktu tak terbatas. Mulai bekerja dinihari dan berakhir tengah malam, mereka tidak bisa beribadah dan disiksa kalau bekerja tidak giat.

Para buruh juga ditempatkan di tempat tidak layak berupa ruang tertutup 8 x 6 meter, tanpa ranjang tidur, hanya ada alas tikar, kondisi pengap, lembab, gelap, terdapat fasilitas kamar mandi yang jorok dan tidak terawat. Mereka rata-rata tiga bulan tidak mandi dan tidak ganti baju, karena uang, HP dan pakaian dari kampung yang dibawa disita pemilik pabrik.

Kasus perbudakan ternyata merupakan fenomena gunung es, yang terungkap hanyalah bagian puncak dari banyak kasus perbudakan yang terjadi. Tanggal, 25 Februari 2014, detiknews.com memberitakan bahwa polisi menetapkan Mutiara sebagai tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap 16 pembantu rumah tangga. Penetapan status tersangka terhadap istri Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang tersebut setelah dilakukan gelar perkara.

Belum hilang rasa terkejut publik, tersiar kabar penangkapan pengusaha walet di medan yang diduga menyekap para pekerjanya. Okezon.com, 27 Februari 2014 memberitakan bahwa Petugas Satuan Reserse Kriminal Polresta Medan, Sumatera Utara, menangkap Mohar, pria yang diduga pelaku penyekapan 14 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perbudakan merupakan ideologi kriminal yang sudah berumur ribuan tahun. Sejarah dunia mengungkapkan bahwa perbudakan pernah menjadi suatu sistem yang diakui di seluruh dunia. Bahkan merupakan bagian dari kegiatan ekonomi dan sosial yang sedang berkembang dan diterima oleh semua orang. Tak seorang pun berfikir untuk mengubahnya.

Masih lekat dalam ingatan penulis, kisah Nabi Yusuf yang diajarkan oleh guru agama sekolah dasar. Kakak-kakak Yusuf yang merasa iri dengan nabi tampan ini merancang konspirasi untuk membuang Yusuf ke dalam sumur. Yusuf akhirnya ditemukan oleh seorang musafir. Celakanya, musafir ini kemudian menjual Yusuf di pasar budak. Sejak itu status Yusuf menjadi budak sampai hari kebebasan tiba.

Para budak di seluruh dunia, baik di kekaisaran Romawi, Persia, Cina, dan India mendapatkan perlakuan yang biadab diluar batas kemanusiaan. Kekaisaran Romawi sangat terkenal suka berperang hanya untuk memuaskan nafsu perbudakan atas bangsa lain. Dalam undang-undang Romawi ditetapkan bahwa tuannya punya hak penuh untuk menyiksa, memeras, dan membunuh budaknya.

Budak-budak tidak mempunyai hak sama sekali untuk membela diri karena mereka adalah manusia yang tidak diakui oleh perangkat hukum setempat. Dalam pandangan pemerintah Romawi, budak tak lebih tinggi derajadnya daripada hewan. Menjadikan budak sebagai sasaran untuk memanah merupakan hal luar biasa biadab yang dianggap biasa pada masa itu.

Di benua Amerika, tanah air bangsa kulit merah (Indian), penduduk pribumi juga diperbudak oleh Columbus yang ironisnya oleh para pakar sejarah ditahbiskan sebagai penemu benua Amerika. Penganut ideologi perbudakan beranggapan bahwa bangsa di luar mereka adalah bukan manusia seperti mereka karena tidak berkulit putih. Bangsa kulit merah, penduduk asli Benua Amerika sedikitpun tak dianggap sebagai penemu tanah air mereka sendiri.

Setelah bangsa kulit merah musnah, perbudakan ini terus berlanjut ke bangsa kulit hitam. Film “12 Years a Slave” memotret dengan nyata kisah sejarah perbudakan di Amerika Serikat yang terjadi pada pertengahan 1800-an. Film ini diangkat dari kisah nyata Solomon Northup, seorang kulit hitam dengan kehidupan yang cukup baik. Tragisnya, Ia menjadi korban penculikan yang menjadikannya budak di perkebunan kapas selama dua belas tahun.

Betapa berat hidup yang dijalani kaum kulit hitam di Amerika pada masa itu, tergambar dengan jelas dalam film ini. Mulai dari pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik dialami kulit hitam atas nama perbudakan.

Kolonialisme dan imperialisme Bangsa Eropa merupakan sponsor utama terjadinya perbudakan di seluruh belahan dunia. Termasuk yang terjadi di bumi pertiwi tercinta ini. Tidak tanggung-tanggung Negeri Kincir Angin yang masih kalah luas dengan Jawa itu menggelar perbudakan selama tiga ratus lima puluh tahun di negeri tercinta ini.

Proklamasi 17 Agustus 1945 secara resmi telah menghapus perbudakan di negeri ini. Namun esensi perbudakan yang ditinggalkan penjajah ternyata masih tertinggal di sini. Perbudakan menjelma dalam bentuk penguasaan tambang-tambang emas, minyak, dan mineral di tanah air oleh korporasi asing.
Mentalitas budak menyebabkan pemerintah rela dan sudah senang mendapat secuil jatah penjualan hasil tambang. Sembilan puluh persen kekayaan negeri ini yang mestinya untuk menyejahterakan rakyat diangkut ke luar negeri. Hal ini merupakan perulangan masa lalu ketika VOC dengan pongah merampok rempah-rempah nusantara ke negeri mereka.

Karakter sebagai bangsa budak selama ratusan tahun menyisakan trauma berupa karakter rendah diri dan selalu memandang rumput tetangga selalu lebih hijau. Ribuan perempuan yang seharusnya mendidik anak-anak bangsa ini dan berkumpul dengan suaminya, dikirim ke luar negeri menjadi pembantu rumah tangga. Ironisnya, cukup banyak yang diperlakukan sebagai budak.

Kalau dahulu perbudakan dilakukan oleh bangsa asing, kini dilakukan oleh bangsa sendiri. Tanpa bekal yang berarti pemerintah dengan penuh percaya diri mengirim rakyat sendiri ke luar negeri. Mereka lupa bahwa Tuhan memberikan karunia kekayaan alam yang luar biasa kepada negeri ini. Negeri ini jauh lebih luas dan dan kaya daripada Malaysia dan Arab Saudi, bahkan masih banyak pulau-pulau yang masih kosong belum terurus.

Sejatinya apa yang terjadi di Tangerang, Bogor, dan Medan adalah sebuah kaca benggala peradaban bangsa yang masih mewarisi ideologi perbudakan baik sebagai pelaku maupun korban. Sulit dipahami dalam kacamata modern mengapa para pelaku begitu tega dan tenang dalam melakukan perbudakan. Sementara itu, ada korban perbudakan yang merasa tidak diperbudak.

Sumber gambar :indonesiaindonesia.com

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

  1. katedrarajawen

    Menurut yang saya tahu ada anggapan kalau pembantu itu ada yang dianggap budak di negara timur tengah, sehingga tak heran mereka diperlakukan layaknya budak. pasport ditahan dan gaji juga tidak dibayar, tetapi yang lebih bahaya menurut saya masih ada diantara kita yang membudakkan diri

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif