Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sejarah » Perpustakaan, Cermin Peradaban

Perpustakaan, Cermin Peradaban

perpusneh

Malik bin Nabi, seorang intelektual asal Al Jazair menulis dalam bukunya yang berjudul Syuruut Al-Nahdhah, bahwa bangun dan runtuhnya sebuah peradaban tergantung siapa yang menjadi “panglimanya”. Dia mengatakan, bahwa sebuah peradaban akan terus menanjak naik tatkala yang menjadi “panglimanya” adalah ruh. Dengan ruh sebuah peradaban akan menjadi peradaban yang bersih dan tak terkotori. Pada masa inilah peradaban akan dianggap mencapai puncak sebenarnya.

Pada tahapan kedua, peradaban akan mengalami pelebaran dan pemekaran bukan pengembangan, tatkala yang menjadi pemain dalam peradaban itu adalah akal. Peradaban yang dikendalikan akal akan mengalami tarik menarik yang demikian kencang antara ruh dan hawa nafsu. Terjadinya tarik menarik ini akan mengakibatkan peradaban terus merentang dan bukan mengalami kenaikan nilai.

Pada fase selanjutnya, sebuah peradaban akan mengalami kehancuran dan kebangkrutan tatkala yang menjadi “panglimanya” adalah hawa nafsu. Pada titik inilah peradaban akan dengan deras meluncur ke titik yang paling bawah

Ungkapan Malik Bin Nabi tersebut di atas memberikan suatu pelajaran kepada kita, bahwa peradaban manusia akan selalu mengalami pasang surut. Tatkala ruh ataupun spiritualisme/moralitas menjadi panglima maka suatu peradaban akan mampu menggapai puncak peradaban. Namun tatkala akal dan hawa nafsu telah mengalahkan moralitas, maka peradaban tersebut akan jatuh meluncur ke titik nol.

Perpustakaan selalu menjadi ikon penting ketika suatu peradaban mencapai puncak kemajuannya. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sepanjang peradaban manusia tidak dapat lepas dari perpustakaan. Peradaban Yunani kuno yang kaya akan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan perpustakaan yang prestisius pada zamannya. Pisistratus, tercatat sebagai orang yang pertama kali mendirikan perpustakaan di Yunani pada abad 6 SM. Pada periode selanjutnya orang-orang Athena sudah mulai memiliki koleksi buku-buku pribadi. Ketika tokoh filsafat Aristoteles hidup ( 384 – 322 SM) telah mendirikan sebuah perpustakaan yang ia maksudkan sebagai pusat penelitian dan pendidikan pengikut-pengikutnya.

Begitu pula dengan peradaban Islam abad pertengahan, Perpustakaan menjadi pusat belajar ilmu pengetahuan dan riset teknologi. Terutama pada masa Dinasti Abasiyah (750 – 1258 M) yang pada saat itu eropa sedang mengalami kegelapan. Zaman keemasan tersebut ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan itu dipercepat dengan didirikannya perpustakaan-perpustakaan.

Salah satu yang terkenal dan terbesar ialah Baitul Hikmah. Tidak sembarang orang bisa bekerja sebagai pustakawan di sana. Hanya orang-orang kepercayaan khalifah dan para ilmuan sajalah yang boleh bekerja. Diantaranya adalah Al – kindi, Al – khawarizmi, seorang ilmuan matematika terkenal saat itu. Mereka adalah para ilmuan yang bekerja di perpustakaan Baitul Hikmah. Mereka adalah Ilmuan-pustakawan. Saat itu keberadaan perpustakaan dan buku sangat dihormati, bahkan jabatan pustakawan saat itu menjadi primadona. pustakawan memperoleh gaji yang sangat besar dari pemerintah Andy Alayyubi (2001).

Peradaban Eropa pasca renaissance juga ditandai dengan perkembangan perpustakaan yang mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat itu keberadaan buku-buku mampu meningkatkan status sosial masyarakat. Setelah penemuan kertas oleh bangsa Cina dan penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg dari Jerman, perkembangan buku, perpustakaan, dan IPTEK makin cerah. Perpustakaan muncul hampir di semua daratan Eropa.Di Perancis dikenal Bibliotheque Nationale, yang koleksi awalnya berasal dari milik pribadi raja-raja Perancis. Di Inggris dikenal Perpustakaan Universitas Oxford dan Cambridge, dan juga British Museum yang kemudian menjadi perpustakaan nasional.

Di era milenium ini pun, keberadaan perpustakaan tetap menjadi ikon peradaban sebuah bangsa yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Amerika Serikat memiliki Perpustakaan paling besar masa kini, yaitu The Library of Congress dengan jumlah koleksi sekitar 86 juta bahan pustaka dalam 470 bahasa, termasuk 22 juta buku dan brosur. Yang menarik ada sejumlah 30.000 buku pelatihan dan pelajaran dalam huruf Braille, pertitur musik, dan media rekaman khusus untuk penyandang cacat. Sedangkan Inggris memiliki The British Museum Library dengan koleksi 11 juta buku .

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif