Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sejarah » Balung Buto

Balung Buto

fosil-sangiran
SRAGEN – Satu abad lebih yang lalu di sebuah desa di ujung barat selatan Kabupaten Sragen sering ditemukan Balung Buto. Balung merupakan bahasa Jawa yang berarti tulang dan Buto berarti raksasa. Masyarakat saat itu menyebutnya balung buto karena tulang-tulang yang telah membatu yang ditemukan mempunyai ukuran besar, tidak lazim untuk ukuran tulang tulang hewan atau manusia.

Konon, masyarakat Sangiran saat itu dapat dengan mudah menemukan “Balung Buto”, baik saat mencangkul di ladang atau ditemukan secara tidak sengaja di longsoran bukit. Mereka percaya Balung Buto yang ditemukan mempunyai kekuatan magis. Kabar tersebut kemudian menarik minat salah seorang ningrat yang bernama Raden Saleh untuk mengkoleksi “Balung Buto” yang ditemukan warga. Hobby koleksi benda-benda antik “Balung Buto” yang tak lain adalah fosil Sangiran, akhirnya terdengar sampai ke lingkup teman-temannya yang kebanyakan orang berkebangsaan Eropa.

Salah satu temannya ilmuwan Belanda yang bernama Eugene Dubois, tertarik melakukan penelitian di Sangiran. Kabar penelitian ini juga terdengan ke salah satu antropolog dari Jerman yang bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, yang kemudian juga melakukan penelitian serupa.

Selama penelitian, Koeningswald tinggal di dusun Krikilan selama 10 tahun. Selama itu ia banyak melakukan eksplorasi terhadap fosil-fosil di sana. Selama itu pula ia banyak berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Sepak terjang Koeningswald ini ternyata membawa pergeseran pandangan mistis dan mitos yang berkembang di masyarakat Sangiran saat itu perihal “Balung Buto”. Masyarakat akhirnya terbuka wawasannya bahwa mitos yang berkembang saat itu adalah salah. lmuwan asal Jerman itu telah memberi pemahaman baru kepada masyarakat Sangiran terkait keberadaan fosil dan artefak purba.

Mitos yang berkembang saat itu, bahwa di area Sangiran merupakan laga pertempuran antar raksasa. Dan “Balung Buto” tersebut dianggap sebagai para raksasa yang gugur dimedan perang. “Balung Buto” dianggap memiliki kekuatan magis. Selain berfungsi sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit, pelindung diri atau sebagai jimat, nilai magis balung buto juga dipercaya dapat membantu ibu-ibu yang susah melahirkan.

Secara tidak langsung mitos saat itu justru membawa manfaat yang besar bagi kelestarian peninggalan fosil-fosil Sangiran. Kerena, pada kurun waktu sebelum 1930-an, balung buto yang banyak banyak bermunculan di berbagai tempat di tepi sungai dan di lereng-lereng perbukitan jarang diganggu oleh penduduk setempat. Sehingga hal ini secara tidak langsung bisa menyelamatkan fosil Sangiran dari perburuan benda benda antik.

Kini, setelah lebih dari 1 abad berlalu, “Balung Buto” yang tak lain fosil-fosil Sangiran membawa berkah tersendiri bagi penduduk setempat. Betapa tidak, Sangiran kini telah dikenal bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Karena di sana telah berdiri sebuah Musium Megah yang tak tenilai harganya, yang telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia di UNESCO.

Keberadaan Museum Sangiran juga menggeliatkan masyarakat setempat secara ekonomi. Disekitar Desa Krikilan banyak bermunculan pengrajin batu-batu alam yang bahan bakunya dapat dengan mudah bisa didapatkan dari daerah setempat atau sekitarnya. Endapan lumpur sisa letusan Gunung Lawu purba yang mengeras menjadi batu, melalui tangan-tangan terampil warga di sekitar Sangiran dijadikan aneka pahatan patung yang menyerupai fosil, perhiasan, dan aneka barang kerajinan lainnya. Ada juga Watu Telo, yaitu umbi-umbian purba yang sudah memfosil yang banyaknya ditemukan di areal persawahan warga.

Kerajinan hasil karya seniaman-seniman ini menjadi souvenir yang laris manis dibeli para pengunjung Museum Sangiran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ataupun dari mancanegara. Dari Mitos “Balung Buto” kini membawa berkah Sangiran dikenal di dunia internasional.

Sumber : sragenkab.go.id

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

  1. waah ternyata banyak peninggalan sejarah di negeri kita tercinta ini yaa https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif