Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sosial Budaya » Mengapa Stigma ODHA Belum Bergeser?

Mengapa Stigma ODHA Belum Bergeser?

armand

Dear KK’ers
Kutuliskan lagi artikelku di media kita, saya sungguh bahagia masih diberi kekuatan dariNya untuk: menulis terus dan terus menulis. Kali ini, saya hendak bertanya ringan kepada pembaca: Mengapa cibiran terhadap pengidap HIV/AIDS masih berlangsung? Padahal, kami telah meyakinkan kepada mereka (masyarakat, red) bahwa penularan HIV tidak semudah yang kita duga, tidak ada penularan tanpa kontak ‘langsung’ dengan penderita. Pun telah banyak referensi, bertebaran bahwa penularan hanya ada empat cara: hubungan seks dengan penderita, bayi dari ibunya, jarum suntik dan transfuri darah.

Lelah juga meyakinkan bahwa tiada mungkin penularan virus itu saat kita makan bersama dengan pengidap HIV/AIDS, minum bersama ataukah naik angkot bersama. Bahkan berciumanpun dengan penderita, itu tak akan menularkan virus. Saya ‘tersinggung’ saat ada kawan menyatakan bahwa di barber shop kita bisa terjangkit HIV/AIDS melalui pisau cukur atau alat cukur. Lebih miris lagi, ketika ada orang beranggapan bahwa bersentuhan sedikit saja dengan penderita AIDS, itu akan menularkan juga.

Semua ini menjadi hambatan psikis bagi kebanyakan orang hingga enggan bergaul dengan penderita HIV/AIDS. Mohonlah kepada kawan-kawan KK’ers menyampaikan kepada mereka bahwa anggapan dan stigma itu salah besar. Cegahlah IDS tapi jangan pernah hina-dinaka, kucilkan penderita HIV/AIDS.

Facebook Comments

About Muhammad Armand

2 comments

  1. baskoro endrawan

    saya punya seseorang yang udah saya anggep adek, kena virus ini, Pak Dos. Dari ‘kesalahan’nya jaman dulu bergelut dengan jarum. Gak menafik, banyak memang masyarakat yang belum tau, jadi rada ngeri kalau bergaul dengan dirinya. Ya sebisa bisanya kita aja yang deket membesarkan hatinya dia. Salam,

    • Muhammad Armand

      Apakah itu sebuah hukuman sosial?
      Okelah, jika alasa masa kelamnya dijadikan hukuman,
      lalu mengapa jika ia mengidap, hukuman uty tidak pernah berhenti..
      Sedang yang hidup normal dengan masa lalu yang sama, kok beda perlakuan masyarakat padanya?
      Heeeeeeeeeeeeem…..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif