Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Ekspresi » Opini Ketik'ers » YKS Perlu Dilokalisir seperti Prostitusi

YKS Perlu Dilokalisir seperti Prostitusi

whattalking.com

whattalking.com

Acara Yuk Keep Smile (YKS) rupanya menimbukan sikap pro-kontra cukup kuat di tengah masyarakat; ada yang meminta acara YKS dihentikan, tapi ada juga yang meminta YKS dipertahankan. Lantas, apa yang harus dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait munculnya pro-kontra terhadap YKS tersebut? Alangkah bijaksananya jika KPI dan pengelola acara YKS bersepakat mengambil jalan tengah, yakni; menggeser jam tayang YKS pada tengah malam dan melabeli YKS sebagai acara khusus dewasa. Dengan kata lain, jam tayang YKS dilokalisir layaknya melokalisir praktik prostitusi pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi prostitusi.

Kenapa YKS perlu dibatasi layaknya lokalisasi protitusi? Acara YKS bukan hanya tak mendidik, tapi juga dapat memberikan pengaruh negative pada penonton yang masih anak-anak. Ini terjadi karena jam tayang YKS cukup panjang (dimulai 19.30 WIB) dan isi acaranya berbau erotisme atau porno aksi. Jadi, wajar saja kalau ada yang menentang YKS melalui petisi penolakan terhadap YKS (contoh petisi; Dewi Noor dan Rifqi Alfian) atau protes melalui media social (facebook atau twitter). Ketua Satgas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), M Ihsan, mengakui bahwa acara YKS memiliki pengaruh terhadap anak-anak lantaran jam tayangnya bersamaan dengan jam belajar [merdeka.com]. Sementara Agatha Lily, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), mengakui adanya unsure erotisme dalam YKS. Karena itu, KPI akan memanggil pengelola acara YKS. “Kami menemukan program yang telah melanggar, khususnya pada saat goyang oplosan. Dimana juga pakaiannya minim, goyangannya juga kami nilai erotis, dan angle kamera menyoroti bagian tubuh ke bawah yang kami nilai tak layak disiarkan. Terutama yang wanita ya,” kata Agatha Lily seperti dilansir Okezone.

Hanya saja, di tengah aksi penolakan YKS tersebut ada juga masyarakat yang mendukung YKS. Dukungan itu bukan hanya dari penggemar goyang hura-hura tapi ada juga dari kalangan intelektual dengan dalih demokrasi, kebebasan berekspresi dan sumber nafkah pelaku acara. “Kalau tak suka YKS cukup matikan TV atau pindah chanel TV. Gitu saja kok repot,” demikian kira-kira tanggapan yang keluar dari pendukung YKS. Akhirnya, YKS melahirkan sikap pro-kontra di tengah masyarakat. Sikap pro kontra ini mungkin mirip dengan pro-kontra masyarakat dalam menghadapi persoalan pekerja seks komersial (PSK).

Matikan TV atau Pindah Chanel TV, Bukan Solusi

Harus diakui, cara paling mudah untuk mencegah pengaruh negative YKS adalah dengan mematikan TV atau memindah chanel TV. Tapi saran mematikan TV atau pindah chanel TV, bukan sebagai solusi tepat. Sebab, tidak semua orangtua mampu mengawasi anaknya dengan baik. Perlu dicatat, penduduk Indonesia ini tidak semuanya tergolong keluarga mapan (mapan ekonomi maupun mapan pendidikan). Para orangtua dari keluarga mapan, mungkin punya kesempatan besar mengawasi anak-anankya dalam menikmati acara TV. Tapi bagi mereka yang tergolong keluarga kurang mapan ekonomi, umumnya harus bekerja menghabiskan waktunya siang malam demi bertahan hidup dan memenuhi biaya pendidikan yang mahal. Praktis, kesempatan orangtua yang kurang mapan ekonomi tak memiliki kesempatan luas dalam mengontrol anaknya. Siapa yang salah jika orangtua tak dapat mengontrol anaknya karena waktunya habis untuk bekerja mencari nafkah, termasuk biaya pendidikan yang kini mahal tersebut?

Yang jelas, dampak negative YKS sudah mulai menggejala di tengah masyarakat. Beberapa hari lalu, penulis menghadiri sebuah acara hajatan perkawinan. Ketika lagu yang dipakai YKS dalam goyang oplosan ditampilkan dalam acara perkawinan tersebut, seacara spontan ada sekelompok anak berkumpul dan berbaris, setelah itu mereka meniru goyang oplosan yang kerap ditampilkan dalam acara YKS. Karuan saja perhatian para tamu undangan jadi terpecah dan kaget melihat aksi sekelompok anak yang asyik goyang oplosan tersebut. Pengaruh negative anak-anak dari acara YKS rupanya juga terjadi di daerah lain.

Perlunya “Lokalisasi” Jam Tayang YKS

Karena itu, kalau gerakan masyarakat yang meminta penghentian acara YKS tidak dapat dikabulkan, maka KPI perlu mengambil langkah bijaksana. Setidaknya, KPI jangan meremehkan pengaruh negative dari acara televise yang kelewat bebas. Mungkin akan bijaksana jika KPI mempertimbangkan perlunya penggesaran jam tayang YKS pada tengah malam dan melabeli YKS sebagai acara khusus orang dewasa. Jadi acara YKS jangan dimulai jam 19.30 WIB yang bersamaan dengan jam belajar anak. Dengan cara itu, dampak negative YKS terhadap anak dapat diminimalisir.

Artinya, jam tayang YKS pantas dibatasi layaknya melokalisir PSK ke kompleks lokalisasi protitusi. Terlepas dari norma agama, tujuan adanya lokalisasi prostitusi termasuk bijaksana; yakni melokalisir praktik prostitusi para PSK di satu tempat. Dengan adanya lokalisasi prostitusi para PSK tidak akan melakukan praktik prostitusi di sembarang tempat. Dengan adanya lokalisasi prostitusi juga akan membuat petugas kesehatan mudah melakukan control penyebaran penyakit kelamin, termasuk penyebaran HIV/AIDS.

Jika jam tayang YKS digeser lebih malam (”dilokalisir” bukan tayang pada jam belajar), maka para penggemar YKS tetap dapat menikmati acara joget hura-hura pada jam tengah malam. Setidaknya seperti itulah yang dilakukan para hidung belang ketika hendak hura-hura bersama pekerja seks komersial, yakni pergi ke lokalisasi dan bersenang-senang semau sendiri tanpa takut adanya pengaruh negatif pada anak-anak. Pendapat Ketua Satgas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), M Ihsan, sangat tepat bahwa sebuah tayangan acara TV seharusnya juga mempertimbangkan budaya adat di negeri sendiri. Jika menampilkan joget sensual dan seronok, alangkah baiknya tidak ditayangkan pada jam anak-anak.

dari: Kompasiana

Facebook Comments

About sutrisno.budiharto

2 comments

  1. Vivi Tirta Wijaya

    aktual, pak :2thumbup
    salam kenal, pak Sutrisno :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif