Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sosial Budaya » Quo Vadis Gerakan Satu Desa Satu PAUD?

Quo Vadis Gerakan Satu Desa Satu PAUD?

Program Satu Desa Satu PAUD yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menuai hasil. Menurut situs resmi kementerian ini, hingga akhir tahun 2013, dari total 77.559 desa se-Indonesia, sebanyak 53.832 desa sudah terlayani PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Berdasarkan pendataan dari Ditjen PAUDNI tahun 2013, sebanyak 27 provinsi telah memiliki tingkat ketuntasan PAUD di atas 50 persen. Artinya, lebih dari separuh jumlah desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD. Tingkat ketuntasan nasional program Satu Desa Satu PAUD telah mencapai 69,4 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD pun naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75…

Review Overview

anakanakProgram Satu Desa Satu PAUD yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menuai hasil. Menurut situs resmi kementerian ini, hingga akhir tahun 2013, dari total 77.559 desa se-Indonesia, sebanyak 53.832 desa sudah terlayani PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Berdasarkan pendataan dari Ditjen PAUDNI tahun 2013, sebanyak 27 provinsi telah memiliki tingkat ketuntasan PAUD di atas 50 persen. Artinya, lebih dari separuh jumlah desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD. Tingkat ketuntasan nasional program Satu Desa Satu PAUD telah mencapai 69,4 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD pun naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75 persen, namun pada akhir 2013 naik menjadi 68,1 persen.

Secara kuantitas angka-angka statistik di atas tidaklah mengecewakan. Namun secara kualitas banyak hal yang harus dibenahi oleh kementerian pendidikan nasional. Selama ini untuk pendidikan anak usia dini, harus diakui peran masyarakat lebih dominan daripada pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya PAUD yang didirikan oleh yayasan, komunitas, bahkan pribadi yang bergerak di bidang pendidikan. Ini berbeda dengan pendidikan dasar maupun menengah yang peran pemerintah sebagai pelopor dan penggerak begitu dominan.

Padahal pendidikan anak usia dini merupakan pondasi terpenting yang akan menentukan masa depan bangsa dua puluh tahun ke depan. Pada saat peringatan seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2045 nanti, anak-anak yang saat ini duduk di bangku PAUD akan memegang peranan yang sangat besar. Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh apa yang akan dilakukan oleh pemerintah pada pendidikan anak usia dini pada hari ini.

Di tengah peran masyarakat yang sangat dominan sebagai pelopor pendidikan anak usia dini, pemerintah meluncurkan program satu desa satu PAUD. Tak ada yang salah dengan kebijakan ini. Implementasi di lapanganlah yang harus diperbaiki. Program ini tentu harus tetap menggandeng dan berjabat tangan dengan para pemangku kepentingan yang selama ini telah banyak berjasa dalam mengembangkan pendidikan anak usia dini di tanah air.
Dasar-dasar kepemerintahan yang baik (good governance) telah mengamanahkan bahwa pemerintah wajib meningkatkan peran sektor swasta maupun masyarakat untuk membangun negeri ini. Demikian pula dengan pendidikan anak usia dini.

Program satu desa satu PAUD tentu tak harus dipaksakan untuk dilaksanakan oleh pemerintah desa. Bagi desa yang mampu tentu harus dipersilahkan untuk menjalankan program ini. Bagi yang belum mampu, pemerintah bisa mengajak kerjasama atau menyerahkan pelaksanaan program ini kepada yayasan atau komunitas pendidikan yang selama ini sudah terbukti memiliki dedikasi di dunia pendidikan.

Saat ini banyak PAUD milik desa yang kurang bisa berjalan dengan baik. Kepedulian dan “political will” pemerintah desa yang sangat kurang menjadi salah satu penyebab. Kualitas pemerintah desa yang ada saat ini memang masih memprihatinkan. Jangankan untuk mengurusi pendidikan, mengurusi pelayanan kepada masyarakat saja masih belum optimal.

Pemerintah desa yang masih seperti ini tentu sulit diharapkan untuk melaksanakan program satu PAUD satu desa. Dalam sejarah pendidikan anak usia dini, ada PAUD yang semula berada di balai desa pindah ke rumah relawan PAUD karena minim dukungan dari pemerintah desa. Relawan PAUD inilah yang biasa menanggung biaya operasional sehari-hari dengan kantong pribadi.

Akselerasi program satu desa satu PAUD harus melibatkan komunitas pendidikan yang ada di masyarakat. Peran pemerintah desa hanyalah pembina saja tak perlu terlibat secara langsung. Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 memberikan peluang bagi pemerintah desa untuk memberikan anggaran bagi kegiatan PAUD di desanya karena pemerintah telah berjanji untuk memberikan anggaran satu milyar per tahun kepada setiap desa. Anggaran sebesar ini akan tampak aneh jika tidak membawa perubahan signifikan bagi pendidikan anak usia dini di desa.

Pemerintah perlu memperhatikan sarana dan prasarana PAUD yang ada di desa. Perlu Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan gedung PAUD sebagaimana DAK untuk pembangunan gedung sekolah dasar. Gedung-gedung sekolah dasar yang saat ini tidak terpakai karena kebijakan penggabungan SD bisa dimanfaatkan untuk kegiatan PAUD tanpa melanggar ketentuan penggunaan asset/barang milik pemerintah daerah. Kendala utama pemanfaatan gedung bekas SD ini adalah status kepemilikannya. Tanahnya milik pemerintah desa, sedangkan gedung milik dinas pendidikan kabupaten/kota.

Kesejahteraan guru PAUD yang sebagian besar didominasi oleh guru non-PNS mesti diperhatikan oleh pemerintah untuk mensukseskan program satu desa satu PAUD ini. Pemerintah pusat maupun daerah tentu tak selamanya hanya “memanfaatkan” mereka untuk mendukung pendidikan anak usia dini ini namun lupa memberikan kesejahteraan yang layak untuk hidup mereka.

Tak perlu semua harus diangkat sebagai PNS, tetapi berikanlah kue sertifikasi kepada guru PAUD non PNS ini sebagaimana yang selama ini sudah dinikmati oleh guru-guru PNS di tanah air. Selama ini pemerintah terkesan menuntut guru-guru PAUD ini untuk memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan menempuh kuliah di S-1 PAUD. Ironisnya, pemerintah tak bisa mengimbangi pengorbanan para “Umar Bakrie” dengan memberikan kesejahteraan yang memadai.

Terakhir, agar program satu desa satu PAUD ini bisa berjalan optimal adalah adanya pendampingan dari instansi terkait untuk memberikan pencerahan dalam kegiatan belajar mengajar. Saat ini, dengan sumber daya manusia yang terbatas pendidikan anak usia dini masih terjebak dengan metode pendidikan dasar dan menengah.
Akibatnya, pendidikan anak usia dini melakukan copy paste pendidikan dasar dengan mengajarkan baca, tulis, dan hitung (calistung). Lebih parah lagi hal ini diikuti dengan banyaknya sekolah dasar yang menyeleksi peserta didik baru dengan tes baca, tulis dan hitung.

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

  1. katedrarajawen

    Pendidikan adalah masa depan bangsa, sejatinya siapa pun yang memerintah urusan pendidikan menjadi prioritas utama, semoga pada akhirnya 77.559 desa akan terlayani PAUD, tidak pakai lama tentunya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif