Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sosial Budaya » Negeri Para Pezina

Negeri Para Pezina

Setelah dijuluki negeri para koruptor, Indonesia berpeluang besar memperoleh julukan baru yaitu negeri para pezina. Setidaknya hal ini menurut sejumlah survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian. Tak hanya korupsi yang melakukan proses kaderisasi, zina pun seolah-olah juga mengalami hal yang sama. Tiga survei berikut ini membuktikan hipotesa ini.

Pertama, Hotline Pendidikan Surabaya menyebutkan sekitar 45 persen siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Pahlawan berpandangan bahwa seks bebas terhadap orang yang mereka sayangi (pacar) itu boleh dan sekitar 14 persen sudah melakukannya. Survei yang dirilis pada tanggal 10 Februari 2012 menyebutkan bahwa 45 persen dari 700 siswa SMP yang disurvei beranggapan bahwa berhubungan seks layaknya suami-istri boleh dilakukan saat pacaran. Bahkan, 15 persen remaja usia sekolah menengah pertama mengaku telah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis.

Kedua, hasil Sexual Behavior Survey 2011 yang dilakukan di 5 kota besar menunjukkan bahwa 39 persen responden yang masih ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia 20-25 tahun. Sexual Behavior Survey 2011 dilakukan oleh DKT Indonesia berfokus pada perilaku seksual remaja dan kaum muda berusia 15-25 tahun. Data tersebut merupakan hasil wawancara langsung terhadap 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011.

Peran orangtua ternyata jauh tertinggal dibandingkan film porno dan teman sebaya sebagai tempat memperoleh informasi seputar seks di kalangan anak muda. Hasil survey menunjukkan 64 persen anak muda di kota besar Indonesia ‘belajar’ seks melalui film porno atau DVD bajakan. Sekitar 48 persen remaja mengaku, lebih takut hamil dibandingkan dosa ketika melakukan hubungan seksual pra nikah (www.jpnn.com, 25 Desember 2011)

Ketiga, hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati menyebutkan sejak 2008 hingga 2010, sebanyak 67 persen dari 2.818 siswa sekolah dasar (SD) kelas 4, 5, dan 6 di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sekitar 24 persen mengaku melihat pornografi melalui komik. Selain itu, sekitar 22 persen melihat pornografi dari situs internet, 17 persen dari games, 12 persen melalui film di televise dan enam persen lewat telepon genggam. Ironisnya, akses anak terhadap pornografi ini sebagian besar dilakukan di rumah.

Ketiga survey di atas seolah memiliki kaitan yang sangat erat. Ketika anak usia SD sudah berani mengakses pornografi, maka ketika menginjak remaja memiliki kecenderungan yang sangat besar untuk menganut ideologi seks bebas alias suka berzina.

Kebiasaan ini sangat berpotensi untuk terbawa ketika para remaja ini menginjak usia dewasa.. Sebuah survey yang dilansir pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa 13 persen pria di Indonesia tidak setia dengan pasangannya alias suka selingkuh. Lengkap sudah penderitaan negeri ini, anak-anak dan remajanya suka berzina, kaum dewasanya pun suka selingkuh.

Padahal, Agama mengajarkan kepada kita semua untuk jangan mendekati zina. Karena zina adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Zina sangat berpotensi merusak kelaziman sebuah keluarga. Anak-anak yang dilahirkan di luar pernikahan resmi akan memiliki beban berat jika kelak Ia tahu sejarah hidupnya. Inilah kekejian zina, sehingga hari ini muncul istilah ayah biologis, bukan ayah yang diakui secara hukum oleh negara.

Tanggung jawab siapa?

Fenomena seks bebas remaja ini merupakan indikator lemahnya peran negara, dalam mendidik generasi muda harapan bangsa ini. Di bidang pendidikan, negara terjebak pada praktik pengajaran ilmu belaka belum menyentuh praktik pendidikan. Meskipun pendidikan karakter baru-baru ini digencarkan, namun dalam aplikasi nyata di lapangan hampir tidak ada bedanya. Guru masih kesulitan untuk menggabungkan fungsi pengajaran sekaligus pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Selain itu, fenomena seks bebas remaja juga merupakan indikator mandulnya pendidikan keluarga di tanah air. Padahal keluarga merupakan harapan terakhir kita untuk membentengi remaja dari perilaku seks bebas ketika peran negara hampir nihil. Komunikasi yang hangat dalam keluarga antara orang tua dan remaja sangat diperlukan. Mengapa ? Karena ketika remaja sudah menemukan kehangatan di dalam keluarga, Ia tidak akan mencari kehangatan di luar sana yang dapat membahayakan keselamatan jiwa dan raganya.

Adanya keterbukaan dan saling percaya antara orang tua dan anak akan meningkatkan kualitas kehangatan dalam keluarga. Saat ini mungkin remaja kita lebih banyak melakukan curahan hati (curhat) di facebook daripada mencurahkan isi hati kepada orang tua. Akibatnya, banyak remaja yang dilaporkan hilang meninggalkan rumah digondol teman dari dunia maya.

Remaja akan terbuka pada orang tua tatkala orang tua bisa memahami dunia remaja. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa anak-anakmu adalah bukan anakmu melainkan anak zaman. Paradigma orang tua tentang dunia remaja tidak bisa seperti era 20 tahun yang lalu melainkan harus mengikuti perkembangan dunia remaja masa kini. Memahami bukan menghakimi. Memahami dalam rangka mendidik dan menyelamatkan remaja bukan sekedar memaklumi dan menyetujui. Memberikan solusi nyata untuk anak-anak remajanya.

Ketika kehangatan dalam keluarga sudah tercipta, maka ini merupakan saat yang tepat bagi orang tua untuk memberikan pendidikan seks yang tepat bagi anak remajanya. Pengetahuan seksualitas yang diterima oleh remaja dari sumber yang benar dapat menjadikan faktor untuk memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam menyikapi segala perilaku seksual yang semakin menuju kematangan.

Kualitas komunikasi antara orang tua dan anak dapat menghindarkan remaja dari perilaku seksual pranikah. Mencegah perilaku seksual bebas pada remaja adalah dengan meyakinkan agar mereka merasa dicintai dan diinginkan oleh kedua orang tuanya. Studi menunjukkan bahwa orang tua yang sangat jarang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya menjadikan remaja lebih mengalami kecenderungan melakukan seks bebas.

Musisi legendaries, John Lenon pernah berkata, “Tanggung jawab orang tua adalah tanggung jawab terberat di muka bumi. Menjadi orang tua yang sadar dan benar-benar memahami kesehatan lahir-batin anak adalah suatu tanggung jawab yang sering dihindari orang, termasuk saya, karena begitu beratnya. Jadi perilaku anak yang tak terkendali adalah akibat dari tidak adanya orang yang mampu memikul tanggung jawab membesarkan anak”.

Dalam Al Qur’ an Allah SWT sudah mengingatkan agar keluarga menjadi pilar untuk utama menjaga moral bangsa. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintah

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Joglosemar, 17 Maret 2012)

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif