Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sosial Budaya » Binatang Lebih Disayang Daripada Anak ?

Binatang Lebih Disayang Daripada Anak ?

Catatan: Nasib anak-anak yang kurang beruntung, masih saja mengemuka. Hari Kemerdekaan menjadi salah satu momentum bagi kita semua untuk menyatukan tekad memerdekakan anak-anak agar dapat hidup sejahtera dan terpenuhi hak-haknya. Saat membuka-buka blog pribadi, tertemukan tulisan ini. jadi re-posting di sini, semoga dapat berkenan (odi)

Binatang Lebih Disayang Daripada Anak ?

Oleh  :  Odi Shalahuddin

“Sebagian anak diperlakukan lebih buruk daripada binatang
Di desa, sapi pun tidak disuruh membajak sebelum ia tumbuh dewasa.
Lalu mengapa kita melakukannya”
Jai Singh, dari (South Asia Coalition on Child Servitude).

Pekerja anak di Indonesia mulai terlihat ketika sektor industri modern dikembangkan oleh kolonialisme Belanda yaitu perkebunan dan industri gula menjelang abad ke 20. Kehadiran anak-anak lebih banyak disebabkan status orangtuanya yang bekerja di perkebunan sebagai buruh harian lepas. Untuk meraih target yang telah ditetapkan maka anggota keluarga (istri dan anak-anaknya) biasanya dikerahkan.

Satu abad lebih telah berlalu. Indonesia-pun sudah merdeka. Wajahnya berpoles dan berubah dengan cepat. Sawah-sawah, tanah-tanah kosong, atau perkampungan-perkampungan, telah tergusur berubah menjadi bangunan-bangunan megah. Jalan-jalan semakin melebar dengan arus kendaraan yang tiada pernah henti. Semakin makmurlah rakyat Indonesia?

Tapi di tengah perubahan semacam itu, anak-anak yang bekerja menyelinap di berbagai ruang, diantara pepohonan perkebunan yang menghancurkan hutan-hutan alam, menyelip di bangunan-bangunan tertutup, di dalam lubang-lubang galian penambangan, pada ruang remang-remang dengan kilauan kerlap-kerlip cahaya  beraneka warna dengan musik yang hingar bingar hingga remang-remang dalam arti sesungguhnya di warung-warung pinggir jalan, dan di berbagai ruas jalan yang menyapa para pengendara yang terhadang lampu merah. Ya, anak-anak yang bekerja untuk mendapatkan uang, ada di dalam segala ruang.

Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan International Labor Organization (ILO) yang melakukan survei terhadap pekerja anak di tahun 2009, memperkirakan lebih dari 1,7 juta pekerja anak di Indonesia. Survey yang dilakukan di 248 kabupaten dan menjangkau 12.000 rumah tangga yang terdaftar, guna mendapatkan estimasi nasional, diakui tidak menjangkau anak jalanan yang tidak punya rumah (lihat kapanlagi.com, 11 Pebruari 2010). Estimasi ini, diyakini banyak pihak tampaknya memang lebih kecil dari realitas sesungguhnya. Pekerja anak memang merupakan fenomena gunung es.

Kementrian Sosial ketika mengeluarkan press release tentang penandatanganan kesepakatan bersama tentang Peningkatakan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan, mengutip data BPS tahun 2009 yang mencatat 7,4 juta anak berasal dari Rumah Tangga Sangat Miskin, termasuk diantaranya 1,2 juta anak balita terlantar, 3,2 juta anak terlantar, 230, 000 anak jalanan.

Mengkaitkan kedua data di atas, maka sangat dimungkinkan bahwa jumlah pekerja anak di Indonesia bisa dua atau tiga kali dari perkiraan jumlah pekerja anak. Anak yang berasal dari Rumah Tangga Sangat Miskin, berpotensi dijerumuskan ke dalam dunia kerja.

Walaupun secara data, jumlah pekerja anak menunjukkan adanya penurunan, tapi bila mencermati keadaan di sekeliling kita, tampaknya jumlah pekerja anak tidak berkurang bahkan bisa dikatakan terus mengalami peningkatan. Sebagai misal anak-anak yang bekerja di jalanan, bekerja di industri rumah tangga, dan di perkebunan-perkebunan. Bila kita mencari data resmi mengenai jumlah pekerja anak di wilayah formal, bisa dipastikan tidak akan tersedia. Sebab pengusaha atau orang yang mempekerjakan anak-anak bisa dikenakan sanksi.

Memasuki tahun 2011, apakah akan ada perubahan bagi kehidupan anak-anak sehingga mereka tidak dijerumuskan ke dalam dunia kerja, dan bagi yang sudah berada di sana dapat dientaskan agar bisa menikmati hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan dasar, hak bermain dan mengembangkan dirinya?

Kita berharap ada langkah-langkah serius bagi pemerintah untuk menjerat orang-orang yang mempekerjakan anak, memperkuat basis ekonomi keluarga miskin agar orangtua/keluarga tidak mengikutsertakan anak-anaknya untuk memberikan kontribusi ekonomi, dan mempermudah akses pendidikan anak. Mungkinkah? Semuanya serba mungkin. Masalahnya, ini harus direncanakan dan dilaksanakan. Tentu saja dengan mengikutsertakan seluruh elemen masyarakat sipil sehingga memiliki dampak yang lebih besar bagi perubahan yang hendak dicapai.

Mari ikuti langkah petani yang tidak akan mempekerjakan anak sapi untuk membajak di sawahnya. Masak kita lebih sayang binatang daripada anak sendiri?

Yogyakarta, 1 Januari 2011

Bahan bacaan:

Kapan lagi : http://berita.kapanlagi.com/pernik/lebih-dari-17-juta-jumlah-pekerja-anak-di-indonesia.html

Republika Online: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/07/05/123189-ilo-turut-dorong-penghapusan-pekerja-anak-di-indonesia

Facebook Comments

About Odi Shalahuddin

One comment

  1. gardeniaaugusta

    Meski bukan dalam konteks pekerjaan, kadang para penyayang binatang memang lebih sayang binatangnya daripada orang-orang di sekitarnya (manusia). Itu menyedihkan, tapi memang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif