Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sosial Budaya » BONDRES REMAJA : Peran Remaja Sebagai Pilar Utama Dalam Penanggulangan Penyakit Pada Sistem Reproduksi

BONDRES REMAJA : Peran Remaja Sebagai Pilar Utama Dalam Penanggulangan Penyakit Pada Sistem Reproduksi

Pulau Bali sebagai wilayah tujuan wisata dunia terkemuka, tentunya amat rentan bagi penyebaran berbagai penyakit termasuk yang berhubungan dengan penyakit reproduksi. Di Bali sendiri, penyebaran penyakit tersebut begitu cepat, seperti HIV/AIDS dan IMS.

Remaja Bali, tentunya sangat rentan terjangkit penyakit tersebut. Pada masa  remaja  rasa  ingin  tahu  terhadap masalah seksual sangat  penting  dalam  pembentukan  hubungan  baru  yang  lebih matang  dengan  lawan  jenis.  Padahal  pada masa  remaja  informasi tentang  masalah  seksual  sudah  seharusnya  mulai  diberikan,  agar remaja  tidak  mencari  informasi  dari  orang  lain  atau  dari  sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah  seksual menjadi  penting  terlebih  lagi mengingat remaja  berada  dalam  potensi  seksual  yang  aktif,  karena  berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering  tidak memiliki  informasi  yang  cukup  mengenai  aktivitas  seksual mereka sendiri  (Handbook  of  Adolecent  psychology:  1980). Tentu  saja  hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia  tidak  memiliki  pengetahuan  dan  informasi  yang  tepat. Fakta menunjukkan  bahwa  sebagian  besar  remaja  kita  tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut. Oleh karena itu remaja berusaha mencari atau mendapatkan dari informasi dari berbagai sumber yang mungkin dapat diperoleh, dan kebanyakan remaja zaman sekarang lebih dominan membicarakan masalah seks dengan membahas dengan  teman-teman dekat mereka yang belum tentu paham betul tentang masalah seks dan kesehatan reproduksi, selain itu media massa atau internet merupakan alternatif yang sering digunakan remaja zaman sekaramg untuk mendapatkan informasi. Di internet atau dunia maya informasi apapun dapat kita cari di sana, namun kebenaran dari informasi yang didapatkan belum tentu dapat dipercaya sepenuhnya. Padahal banyak lagi berbagai sumber informasi yang lebih pasti/ dapat dipercaya namun remaja sekarang enggan memanfaatkannya, seperti dari buku-buku tentang seks, guru dan orang tua. Pemahaman remaja tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi yang masih amat kurang sampai saat ini perlu mendapat perhatian lebih. Kurangnya pemahaman ini amat jelas yaitu dengan adanya berbagai ketidaktahuan yang ada di kalangan remaja tentang seks dan kesehatan reproduksi yang seharusnya dipahami dengan informasi-informasi yang akan lebih baik didapatkan dari sumber yang benar dan pasti, seperti buku-buku tentang seks, guru di sekolah dan orang tua. Sebagian besar dari mereka juga masih mempercayai mitos-mitos tentang seks dan kesehatan reproduksi yang justru mitos-mitos inilah merupakan salah satu pemahaman yang salah dan akan menjerumuskan kaum remaja ke hal-hal yang negatif. Kurangnya pemahaman tentang seks dan kesehatan reproduksi pada masa remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarganya.

Remaja Bali tentunya sangat rentan terjangkit penyakit tersebut. Mengingat Pulau Bali yang merupakan salah satu wilayah tujuan wisata dunia terkemuka, amat rentan bagi penyebaran berbagai penyakit, terutama yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi khususnya bagi remaja. Maka langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seks (sex education). Karena faktanya, remaja adalah generasi penerus bangsa, dan sudah barang tentu hal seperti ini perlu ditanggulangi sedini mungkin.

Menurut  Sarlito  dalam  bukunya  Psikologi  Remaja,  secara  umum  pendidikan  seks adalah  suatu  informasi  mengenai  persoalan  seksualitas  manusia  yang  jelas  dan benar,  yang  meliputi  proses  terjadinya  pembuahan,  kehamilan  sampai  kelahiran, tingkah  laku  seksual, hubungan seksual,  dan aspek-aspek kesehatan,  kejiwaan dan kemasyarakatan.

Sedangkan kesehatan  reproduksi  adalah  keadaan  sehat  secara  fisik,  mental maupun  sosial  dan  bukan  hanya  terlepas  dari  penyakit  atau  kecacatan  yang berkaitan  dengan  sistem,  fungsi  dan  proses  reproduksi  (ICPD  dalam Notoatmodjo,  2007). Pendidikan seks dan kesehatan  reproduksi  merupakan  hal  yang  sangat penting  yang  harus  dimengerti  dan  dipahami  oleh  remaja.  Kesehatan reproduksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan umum seseorang dan berkaitan erat dengan pengetahuan, begitu juga dengan pendidikan seks yang khususnya bagi remaja. Seks dan Kesehatan  reproduksi  remaja  sudah menjadi isu global dengan berbagai alasan, misalnya jumlah remaja yang begitu besar, penyiapan  sumber  daya manusia  untuk mewujudkan  keluarga  berkualitas  di masa datang, perilaku kesehatan reproduksi remaja saat  ini cenderung kurang mendukung  terciptanya  remaja  yang  berkualitas  dan  pengetahuan  remaja mengenai  masalah  kesehatan  reproduksi  masih  relatif  rendah  (Winaryati, 2010).

Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah dikarenakan kurangnya informasi dari sumber yang benar, seperti dari buku-buku tentang seks, guru di sekolah dan orang tua, karena remaja lebih sering mendapat informasi dari teman sebayanya yang belum tentu benar informasi yang didapatkan. Kurangnya pemahaman tentang seks dan kesehatan reproduksi tentu juga akan membawa berbagai dampak yang justru merugikan bagi remaja seperti banyaknya masalah seks dan kesehatan  reproduksi  yang  bermunculan  di  kalangan  remaja  antara  lain kehamilan  remaja  di  luar  nikah  atau  kehamilan  yang  tidak  dikehendaki  di kalangan  remaja,  aborsi dan  penyakit  menular  seksual.

KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) yang merupakan elemen kespro adalah konsep yang wajib diterapkan pemerintah Indonesia sebagai program salah satu peserta konferensi yang digagas pada International Conference Population Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo. Namun, setelah pelaksanaan program KRR selama beberapa tahun tidaklah berhasil menurunkan angka pelaku free sex, KTD, aborsi, ataupun penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. Hal ini dapat dilihat dari permasalahan remaja yang kian hari semakin bertambah banyak dan kompleks. Dalam Pergaulan Remaja Semakin Mengkhawatirkan (2009), berdasarkan penelitian  YKB di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 1992 menunjukkan pelaku seks pranikah 10-31%. Hasil penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) di 33 provinsi pada tahun 2008 menunjukkan bahwa pelaku seks pranikah bertambah jumlahnya menjadi 62,7% atau 26,23 juta remaja. Jumlah angka aborsi sebagai akibat seks pranikah pun meningkat tajam. Jika tahun 2002 ada 3 juta aborsi, maka survey KPA pada tahun 2008 menunjukkan angka 7 juta.

Pada hakikatnya pendekatan edukasi seperti pendidikan seks (sex education) merupakan langkah sederhana yang tepat guna di kalangan remaja untuk memberikan informasi tentang seks dan mencegah hal-hal yang tidak diharapkan. Namun tampaknya pendidikan seks ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih berpandangan stereotype dengan pendidikan seks (sex education) seolah sebagai suatu hal yang vulgar untuk diketahui oleh remaja.

Peneliti berpendapat bahwa pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata. Pendidikan seks, sebagaimana pendidikan lain pada umumnya seperti   pendidikan agama, atau pendidikan Moral Pancasila, yang mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subjek-didik. Dengan demikian, informasi tentang seks diberikan secara kontekstual, yaitu dalam kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalamm masyarakat (Sarwono, 2007).

Jika ditelisik lebih mendalam sebenarnya di Bali cukup banyak potensi-potensi dari kearifan lokal yang dapat dijadikan sebagai bagian dari pembelajaran seks dan kesehatan reproduksi bagimasyarakat Bali khususnya kelompok remaja, salah satunya dapat memanfaatkan media seni-seni pertunjukkan.

Salah satu fungsi seni pertunjukan merupakan suatu media komunikasi yang mampu berperan dan memberikan pencerahan secara ideal dan kritik sosial. Lewat pementasannya pesan-pesan dan aspirasi yang sifatnya kritis ditransmisikan kepada pendengar dan diapresiasi bersama.

Sarana seni pertunjukkan sangat efektif sebagai media sosialisasi yang komunikatif sebab penyampaiannya menjadi lebih menarik, mudah diterima, serta tidak menjemukan sebab masyarakat terpukau oleh penampilan dan metode juru penerang. Salah satu jenis seni pertunjukkan populer di Bali adalah pertunjukan topeng bondres.

Kesenian bondres adalah sebuah kesenian tradisional yang memadukan seni drama, tari dan nyanyi ke dalam sebuah pementasan yang unik dengan tema komedi. Tujuan dari kesenian bebondresan ini adalah untuk menghibur penonton dengan lawakan-lawakan yang ada didalamnya sekaligus menyampaikan sebuah pesan yang bermakna dalam untuk kita semua. Dramatari  topeng  bondres  memiliki  keunikan  tersendiri, walaupun  mengunakan  pakaian  tradisional  adat  Bali,  topeng bondres dalam lakonnya  tidak terikat pada pakem  tari maupun alur cerita.  Kesenian  bondres  lebih  banyak  menekankan  pada  sifat humor  atau  banyolan-banyolan  dan  sindiran  yang  di  dalamnya terkandung makna memberi pesan etika moral, dan sarat informasi. Bagi masyarakat Bali, kesenian bondres begitu dekat dengan keseharian mereka yang banyak bergelut dengan tradisi, budaya, hingga upacara keagamaan. Bondres biasanya menjadi sarana efektif dalam menyampaikan berbagai pesan seperti sosial-keagamaan. Lantaran dikemas lewat bahasa ringan, segar, dan menghibur, sehingga mengena hati publik.

Dalam hal pendidikan seks dan kesehatan reproduksi, pertunjukan kesenian bondres ini dapat diwujudkan sebagai media sosialisasi pendidikan seks dan kesehatan reproduksi yang ditampilkan oleh siswa untuk siswa dengan mengoptimalisasikan ekstrakulikuler teater di sekolah. Teater sendiri bila diartikan dalam arti luas merupakan segala tontonan yang dipertunjukkan di  depan orang banyak (wikipedia.org). Sehingga melalui optimalisasi teater dapat diwujudkan pertunjukan kesenian bondres sebagai media sosialisasi tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang bersifat komunikatif, interaktif dan menyenangkan sehingga dapat menjadi alternatif dalam upaya menanamkan pendidikan dasar seks dan kesehatan reproduksi bagi kelompok remaja.

Oleh karena itu, menarik untuk dikaji mengenai sosialisasi kesehatan reproduksi yang komunikatif tidak menjemukan namun tetap berdaya guna bagi kaum remaja melalui optimalisasi ekstrakulikuler teater dalam wujud pertunjukan topeng bondres yang nantinya dalam tulisan ini akan dikaji lebih dalam mengenai potensi, cara mengimplementasikan serta kendala-kendala yang ditemukan.

Facebook Comments

About Nining Purwaningsih

2 comments

  1. Peran serta orang tua juga sangat penting bagi pendidikan seks bagi remaja

  2. Romi Febriyanto Saputro

    Bekal keagamaan dan keindonesiaan sangat penting untuk remaja kita agar tidak silau dengan arus globalisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif