Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Ekspresi » Opini Ketik'ers » Anak! Aktor Demokrasi Terlupakan

Anak! Aktor Demokrasi Terlupakan

Screen Shot 2014-01-04 at 20.56.12

Permasalahan demokrasi kita, seolah, hanya milik kaum dewasa. Anak-anak dianggap sebagai citizen pasif dan belum mempunyai kapasitas, terlebih, untuk terlibat dalam arena tersebut. Pada hal, fakta telah banyak bicara, bahwa, anak tak ubahnya orang dewasa. Mereka memiliki kontribusi dalam pembangunan sistem sosio-ekonomi selama ini. Perdebatan terkait buruh anak misalnya, menunjukan bahwa anak memiliki nilai produksi yang sangat berarti dalam menopang sosio-eknomi masyarakat. Sebut saja salah satu penelitian Indonesianis, Ben White, dalam ‘Pekerja Anak dan Kemiskinan dalam Prespektif Ilmu Sosial’ (2010), dia memberikan gambaran ringkas tentang anak yang dianggap memiliki nilai produksi, baik di keluarga maupun wilayah ekonomi non-keluarga. Selain itu, dalam ranah hukum hak asasi manusia, anak telah dijamin sebagai individu seutuhnya. Artinya, dalam prespektif legal, anak-anak pun dianggap memeliki peran dalam demokrasi. Berdasar dua hal itu, tulisan ringkas ini, bermaksud untuk merangsang ulang, agar anak bisa menjadi bagian dari permasalahan demokrasi di Indonesia.

Indonesia, setelah menempuh perjalanan panjang yang sulit, telah menunjukan performa positif dalam menjalankan demokrasi prosedural. Setidaknya, peralihan dari zaman Orde Baru ke era Reformasi, sejak 15 tahun silam, telah menghasilkan pruduk demokratisasi, diantaranya; (1) perubahan dari pemerintahan yang diktator menjadi munculnya kebebasan dasar dan adanya pemilihan umum yang jujur; (2) dari pemerintah yang terpusat dan bentuk patronase baru dalam pengelolaan urusan publik, berubah menjadi desentralisasi dan privatisasi dalam pengelolaan permasalahan publik; (3) dari bentuk korporasi Negara, berubah menjadi bentuk masyarakat sipil yang plural dan bebas dalam melakukan lobi, tekanan-tekanan ke pemerintah dsb. Namun begitu, kritik-kritik tajam masih berdengung keras – terlebih dalam menuntut ‘terwujudnya demokrasi yang lebih bermutu’.

Dalam demokrasi substansial, capaian demokratisasi tidak diukur melalui norma-norma dengan adanya struktur pemerintah atau terlaksananya pemilihan umum. Ide Beetham misalnya, demokrasi diwujudkan melalui kontrol rakyat atas urusan publik berdasar kesamaan politik. Di mana, hal ini dicirikan melalui kualitas partisipasi, otorisasi, representasi, akuntabilitas, transparansi, responsif dan solidaritas dalam proses demokratisasi (1999). Lebih detail mengenai demokrasi substansial dijabarkan secara rinci oleh Tornquist sebagai situasi ‘ketika aktor penting dengan konstituen rakyat menyadari bahwa cara terbaik untuk mempengaruhi segala urusan publik dalam masyarakat adalah dengan memperjuangkan dan mengembangkan hak-hak dan institusi pro-demokrasi yang signifikan serta menyadari bahwa warga negara harus memiliki kemungkinan dan kapasitas untuk memanfaatkanya’ (2005). Hal ini membuktikan adanya keterkaitan erat antara  hak asasi manusia dan demokrasi.

Hak asasi yang melekat dalam demokrasi di antaranya, hak berorganisasi, hak berekspresi dan kebebasan berpendapat dan hak berpolitik. Dari berbagai hak tersebut, dikaitkan dengan hak anak, ada beberapa hal yang belum dimiliki oleh anak, (yang terkait dengan tulisan ini adalah) hak politik. Hak politik ini dimaksudkan sebagai hak untuk terjun ke ranah politik praktis, seperti misal hak untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat baik dalam perlemen maupun struktur eksekutif pemerintahan. Namun, ketiadaan atas hak politik ini tidak membatasi peran anak dalam demokrasi.

Jika kita kaitkan dengan teorisasi demokrasi yang berkembang, lih. nukilan teori demokrasi di atas, penerjemahan demokrasi tidak terbatas pada ranah politik praktis.  Akan tetapi lebih luas, yaitu ‘sebuah kontrol dari rakyat untuk menentukan urusan publik’. Mengingat, bahwa demokrasi merupakan bentuk dari kontrol rakyat atas proses pengambilan keputusan yang berdampak pada mereka, maka peran anak menjadi sahih dalam wilayah ini. Lebih khusus, yaitu peran anak dalam menentukan pengambilan keputusan sebuah kebijakan, pembuatan undang-undang dan peraturan lain yang bisa berdampak ke mereka.

Terlebih, hak ini telah dijamin dalam Konvensi Internasional Hak Anak, pasal 12, ‘hak anak untuk didengarkan’. (Konvensi ini telah menjadi konsensus 193 negara. Mungkin jadi, konvensi ini merupakan bahasa universal dalam sejarah manusia hingga saat ini). Melalui norma hukum HAM internasional, hak anak untuk didengarkan telah bertransformasi menjadi sebuah jalan baru untuk masuk kedalam ruang pengambilan keputusan. Inilah yang kemudian dikenal dengan ‘partisipasi anak’. Wacana ini telah berhembus begitu kencangnya. Namun, sepertinya, para agen pro-demokrasi masih enggan untuk meng-arus utamakan isu ini[].

Bagus Y. Wicaksono

Catatan:

[1] Tulisan ini merupakan bagian dari buletin Yayasan Gugah Nurani Indonesia yang dipublikasikan untuk acara ’15 tahun perjalanan Reformasi di Indonesia’ yang diselenggarakan oleh Paramadina Graduate School, 2013.

[2] Ilustrasi diambil dari cover buku ‘School is Dead’ Everett Reimer (1970)

Facebook Comments

About benn

2 comments

  1. Era demokrasi malah ramai ramai korupsi.. bukan ngurusi anak anak mass.. gratifikasi.. entertaint.. wuah banyak bentuk korupsi.. beda sama dulu yg dibilang diktator.. sekarang yg diktator makin banyak..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif