Home » POLITIK » Politik » Maluku Di Mana?

Maluku Di Mana?

Maluku ada di bagian timur Indonesia. Tapi sesungguhnya saya bukannya ingin membahas tentang letak geografis Maluku. Ingin membahas pilpres yang baru saja berlangsung. Semua rakyat, segenap golongan dan lapisan. Beramai-ramai menyambut pesta demokrasi yang gegap-gempita ini. Kapan lagi, hanya ada dua capres yang gampang sekali milihnya? Mau pilih jendral gagah atau mau pilih mas-mas yang wajahnya (maaf) ndeso? Ribut semua. Yang mengagungkan keindahan fisik, mengelukan sang jendral. Menyatakannya gagah, tegas, berwibawa. Setuju! Yang ‘berpikir’… seperti himbauan komedian kesayangan kita ‘cak lontong- mikirrrrrrrrrrr…. Ya mikir lah, mas-mas yang wajahnya ndeso itu bicara santun, jelas, terstruktur, intelek, A hingga Z, 1 diurutkan hingga 10. Orang biasa saja. Bukan orang yang turunan darah biru apalagi darah dewa. Mikir!

pilpres

foto : bandung.bisnis.com

Ya, saya mikir juga. Bukan hanya untuk saya saja. Walalupun iya, saya juga merasa sangat dizholimi di dunia kerja hingga belasan tahun lamanya. Ini membuat saya berpikir tentang sistem pemberi kerja yang seharusnya baik dan memiliki struktur. Saya tidak ingin memilih pemimpin yang hanya condong pada satu golongan. Saya ingin pemimpin yang berasal dari ‘wong cilik’ dan mencintai ‘wong cilik.’ Saya sudah bosan dengan orang – orang ‘keren’ yang isinya omong-kosong. Ingin pemimpin yang mewadahi semua kepentingan, kepentingan saya dan juga wong cilik. Justru ‘wong cilik’ yang harus ditolong. Kalau orang yang sudah kaya, terpandang dan tinggi derajadnya. Mau butuh pertolongan apa lagi sih? Paling didoakan agar masuk surga? Tetapi wong cilik? Yang sehari-hari hanya makan nasi ikan asin. Ke laut menyabung nyawa jadi nelayan. Ke sawah hingga kulit gosong menghitam demi menanam padi. Mengayuh beca berpuluh tahun demi membiayai anak sekolah. Mereka, butuh dan harus ditolong! Mikiiiirrrrrrrr!

Jadilah saya mikirin si mas-mas wajah ndeso. Saya tidak serta-merta antipati pada sang jendral. Karena saya pikir tokh beliau berdarah biru, tokh beliau ganteng dan banyak massanya, tokh disegani dan banyak penggemarnya. Pasti sekelas negarawan. Lalu satu-persatu kemunculan sang jendral dalam ranah politik mulai menyita perhatian saya. Caranya berorasi. Hmmm,… rasanya cocok untuk tahun ’45. Cara menjawab pertanyaan dalam debat. Hmmm,… Sebenarnya paham dengan substansi pertanyaan atau tidak? Caranya melakukan wawancara dengan reporter BBC internasional. Astaga,.. Mbok menahan diri dulu. Benci boleh, tapi kok jadi menjelek-jelekkan kolega politik setanah – air, bekas kawan sendiri, bekas orang yang pernah cukup dekat dan kenal baik. Apa kata duniaaaa?? Lalu ketika kawannya itu diserang aneka gossip yang mencemarkan, semua cerita bohong yang memalukan dan tak masuk diakal. Ia pura-pura tak tahu, tak berkomentar dan merasa bukan urusannya. Orang yang terus dipojokkan itu cuma senyum dan bersabar. Ia menjelaskan semua hal bohong yang tidak berdasar. Itu, bohong! Ujar si mas-mas ndeso dengan memberikan fakta aktual. Orang yang tidak dekat kepada Tuhan dan tidak panjang sabarnya, bisa dipenuhi dendam dan amarah menggelegak ketika diserang oleh banyaknya fitnah keji. Tapi si Mas ndeso jalan terus, senyum saja. Kalem saja. Si Mas memberi contoh, kalau yang didukung Tuhan dan semesta alam, tidak terbendung!

Menurut saya jendral ganteng dan gagah akan terus nampak demikian dimata semua rakyat. Sang Negarawan. Disegani dan siapa tahu dapat menjadi oposisi atau justru pendamping koalisi yang baik bagi pemerintahan. Namun detik terakhir sebelum pengumuman pilpres, sang jendral memutuskan ‘menarik diri’ dari proses yang tengah berlangsung. GUBRAAAAGSSS! Saya sungguh makjlebs, tidak dapat berkomentar lagi. Harus bagaimana mendewasakan orang dewasa? Ini proses besar yang skalanya nasional bahkan internasional. Kecurangan, kejahatan dan kelicikan, kalau memang benar ada. Pada akhirnya pasti akan terbukti. Kalau memang ada! Kalau mengada-ada, hingga kapanpun rasanya sulit dibuktikan. Negara dan bangsa ini semuanya tengah belajar keras menjadi dewasa. Mengikuti segala proses dengan rapi, berdasarkan hukum tata negara, berdasar perundangan penyelenggaraan pilpres. Hampir semua prosesnya direkam dengan peralatan audio video, semua penghitungannya tuntas hingga ke titik koma. Mungkin ada ketidaksempurnaan disana- sini tapi jangan dipolitisir jadi besar. Sikap negarawan adalah tetap berada di tempat, menghormati proses hukum dan perundangan. Menghormati keputusan KPU yang sudah diucapkan sebagai nazar sebanyak 15x. Lalu mengikuti proses selanjutnya untuk pengajuan keberatan. Semuanya ditinggalkan, memilih WO. Memangnya tinju kelas bulu?

Sujud syukur pun masih dapat saya hormati, paling tidak anggap saja ucapan syukur semua prosesnya lancar. Tetapi pergi meninggalkan sebuah proses dalam skala nasional slash internasional dengan alasan ‘kecurangan’ atas dasar tuduhan sepihak? Mikirrrrrrr…..  Apa kata dunia? Maluku masih di utara Indonesia. Yuk, kita kesana untuk menikmati keindahan alamnya!

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Sy yakin mereka yang tadinya mendukung dan masih punya rasa, mungkin saat ini akan berbalik jadi tidak suka. Jujur sebelumnya saya sangat berharap Beliau jadi presiden sampai pernah bikin web ‘Prabowopresidenku’ tetapi begitu lihat karakternya yang suka menjelek2kan lawannya, rasa simpati itu langsung kendur

  2. Vivi Tirta Wijaya

    susahnya mendewasakan orang dewasa https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif