Home » POLITIK » Politik » Kesaksian Kecil Tentang Pluralisme

Kesaksian Kecil Tentang Pluralisme

Sewaktu saya kecil, ide tentang pluralisme sempat mengacaukan pengertian saya. Tidak ada yang menjelaskan tentang arti hal ini, padahal saya adalah produk pluralisme. Banyak hal yang membingungkan saya. Mengapa jadi orang ‘Cina’ sama dengan aib, memalukan atau kesannya jelek sekali? Apa sih dosa menjadi keturunan Cina? Maka waktu kecil saya bercita-cita operasi plastik agar mirip gadis Arab yang ada disekolah saya, yang matanya membelalak besar dan hidungnya mancung. Tapi tentu saja itu hanya sekedar gagasan konyol karena isu pluralisme yang tidak saya mengerti.

pluralisme

foto: ekantipur.com

Ibu saya memang keturunan Cina. Tetapi Cina-nya adalah barangkali Cina yang tidak ‘dipandang’ oleh Cina lainnya. Kenapa? Karena ini adalah Cina peranakan di pulau Jawa yang sudah tercampur-baur. Tidak ada yang bisa bahasa Cina bahkan pengetahuan tentang sejarah dan tradisi Cina saja sangat minim. Alias tidak tahu apa-apa. Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Cina peranakan yang lebih banyak bergaul dengan orang Belanda. Pada tahun 50-an Kakek bahkan sudah ikut olahraga bodybuilding, suka berdansa dan bermain cello. Pada jamannya! Saya sampai heran, darimana ia dapat gagasan bahwa bermain cello itu cool? He-he,… Dan ibu saya tidak seperti orang Cina pada umumnya, matanya besar.

Kemudian ayah adalah orang Bugis asli dari Sulawesi Selatan, kampung Palopo. Asli pribumi, moslem. Dan yang berkulit putih serta berwajah sipit kala itu adalah ayah. Jadi ini sudah konsep penampilan yang tertukar. Pernikahan ayah dan ibu membuahkan dua anak. Salah satunya adalah saya, yang selalu kebingungan dengan konsep pluralisme. Semasa kecil saya sering dicina-cina-kan, padahal menurut akte kelahiran saya terkategorikan ‘pribumi’ walau saya tahu kurang berguna, karena penampilan saya yang lebih oriental. Ketika bekerja di institusi asing bahkan sering dituduh Jepang atau Korea. Bah! Kata saya, saya orang Indonesia asli and better than mereka. Ibu pada masa itu bahkan sempat bersyukur bahwa secara KTP dan akte saya adalah WNI asli. Bah! Kata saya lagi, apa bedanya sih?

Lalu setelah dewasa konsep pluralisme ini makin membingungkan. Pertama saya dekat dengan pemuda Bali tapi perwatakan yang tidak cocok membuat kami berpisah. Kedua saya dekat dengan pemuda Aceh tetapi konsep kepercayaan yang tidak cocok juga membuat kami berpisah. Menurut saya agama itu urusan suatu pribadi dan Tuhan, menjadi yang pertama. Sisanya menyesuaikan. Orang lain boleh menilai tetapi mereka tidak akan pernah tahu seperti apa hubuangan kita dengan Tuhan bukan? Bahkan menurut saya PSK Dolly mungkin ada saja yang lebih mulia daripada perempuan ‘yang terlihat’ baik-baik dan alim. Tidak ada yang tahu. Pada akhirnya masalah jodoh, saya kembali ke pulau asal ayah, Sulawesi. Namun dari sisi yang berbeda. Jika ayah dari Sulawesi Selatan, suami berasal dari Tomohon, Manado, Sulawesi Utara. Itupun saya pernah takut kepada Pak Jeka yang juga penduduk Selebes, ketika mencalonkan diri jadi presiden di masa lalu. Iya, termakan fitnah dan isu pluralisme yang salah kaprah ini!

Apapun suku dan agama seseorang tidak lalu mengkotak-kotakkan manusia menjadi berbeda. Tetapi sikap baik dan jahat, benar dan salah, itu saja yang membedakan dan mengkotak-kotakkan manusia. Ada sisi baik menjadi ‘produk pluralisme’ seperti saya. Lebih mudah kemana-mana, lebih banyak teman dan mudah berinteraksi dengan siapa saja dengan suasana yang cair. Kenapa? Karena sejak kecil dan remaja, saya terbiasa hidup di berbagai dunia yang berbeda-beda. Bahkan selama belasan tahun saya tinggal dan bekerja dengan komunitas internasional. Melihat, meresapi dan mencecap budaya yang berbeda-beda ternyata suatu pengalaman hidup yang luar biasa. Soal suku-ras dan agama sudah menjadi sesuatu yang hanya dapat saya komentari dengan kata ‘Bah! Kok nggak habis-habisnya mempermasalahkan hal ini? Hari gini?…

Bagi mereka yang masih mempertanyakan Ahok dan semangatnya membangun negeri, saya hanya bisa berkomentar : kejam! Berdasarkan pengalaman masa kecil saya yang berdarah campuran saja sudah sangat berat dan tidak menyenangkan. Apalagi cercaan terhadap Ahok yang dengan segala daya upaya dan kebesaran hatinya meletakkan ‘materi’ pada konsep yang lebih dalam yaitu ‘idealisme.’ Ahok menjadi fenomena kebanggaan mereka yang masih berdarah Cina. Seorang lelaki keturunan Cina yang melawan isu pluralisme, berat karena ia berenang melawan arus.  Namun ia terus melesat maju dari posisi Bupati Belitung dan kini bersiap jadi Gubenur Jakarta. Saya percaya ia adalah orang yang baik. Saya tidak melihatnya sebagai lelaki Cina tetapi sebagai orang Indonesia yang terbakar semangatnya untuk memajukan bangsa dan negara.

Kesaksian kecil saya tentang pluralisme, harusnya hal ini tidak menjadi masalah krusial yang menyebar dalam skala besar di masyarakat seperti penyakit panu. Pluralisme lebih baik dilihat dengan kaca pembesar. Bagaimana sifat keberagaman dan harmonisasinya, dikembalikan pada masing-masing individu. Entah dalam mencari pasangan atau posisi pekerjaan. Lebih baik melihat lebih dalam kepada pribadi orang yang bersangkutan, cocok tidak? Jika menikah dengan yang berbeda keyakinan, kira-kira apakah sanggup? Tentu restu dan dukungan keluarga juga menjadi faktor penting. Maka ketika keyakinan menjadi ‘hak previllige’ masing-masing individu, niscaya akan menjadi kekuatan dalam menghadapi masalah apapun juga. Baik memilih pasangan ataupun posisi dalam pekerjaan. Mengapa? Karena ia menjadi insan pribadi yang baik dan taat pada kitab suci agamanya, bukan sekedar pribadi yang mendasarkan diri pada prejudice. Oh agama anu begitu, oh suku anu begini.

Dulu saya sempat malu dan takut karena berdarah Cina. Sekarang saya bersyukur bahwa saya adalah ‘produk pluralisme’ karena saya jadi punya kacamata-baca yang lebih baik. Mampu melihat segala hal dengan lebih jelas dan tajam. Putri saya sekarang berdarah  ¼ Cina, ¼ Bugis dan ½ Manado. Bagaimana mendeskripsikannya? Menurut saya, dia mirip gadis Hawai’i. Kadang-kadang tentu masih tersisa sedikit prejudice dalam diri terutama disebabkan oleh trauma pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan itu. Tetapi semakin menuju kepada Indonesia baru dengan revolusi mental yang lebih baik, saya percaya keberagaman justru menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Karena setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing terkait garis darah, keturunan dan pengamalan kehidupan beragama. Berangkat dari situ justru kita dapat saling menguatkan dengan berbagi dan mengingatkan.  Teriring ucapan : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    mungkin lebih tepat disebut pluralitas bukan pluralisme

  2. katedrarajawen

    Jadi apa itu pluralisme Ci Jo,? Saya baru saja menonton dari kisah nyata indahnya kasih di daai tv, tentang relawan tzu chi yang membangun rumah akibat gempa di Turki, di mana ada orang asli taiwan yang muslim lalu menjadi relawan tzu chi yang budhhis, tapi indah sekali kisahnya ya seindah kasih, relawan tzu chi yang buddhis sepenuh jiwanya membangun rumah dan menyediakan tenda agar penduduk muslim Turki yang terkena bencana gempa tidak kedinginan

    • aku juga pengen tuh Ko-Kat jadi relawan Tzu Chi,..btw rumah Tzu Chi di PIK apikkk bener yaa kayak istanaa manchuriaaa..pengen masuk liat-liat boleh ngga ya…

  3. Hahaha sama seperti saya mbak. bahkan sudah kenyang dengan ‘diskriminasi’. dan saya sangat setuju dengan konsep yang ingin disampaikan.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif